MATRANEWS.id — DISAIN BUDAYA DAN DISAIN PEMIKIRAN I WAYAN SETEM
Wayan Setem yang saya kenal adalah seniman yang memiliki pendekatan unik dalam desain budaya dan pemikiran artistiknya. Ia melihat budaya sebagai sesuatu yang hidup dan berkembang, dengan akar yang kuat dalam tradisi Bali.
Dalam karya-karyanya, ia sering menggunakan simbol dan metafora untuk mengkritisi berbagai fenomena sosial dan lingkungan. Misalnya, dalam lukisan Rice Root Struggles for Life, ia menggambarkan perjuangan akar padi sebagai metafora bagi manusia dan alam yang harus beradaptasi dengan perubahan zaman.
Selain itu, pemikiran artistiknya juga banyak dipengaruhi oleh konsep harmoni dalam kehidupan manusia. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas, sebagaimana tercermin dalam etika Tri Hita Karana yang menjadi dasar banyak karyanya.
Dalam beberapa pameran, ia juga mengeksplorasi hubungan antara manusia dan lingkungan, serta dampak modernitas terhadap kehidupan tradisional. Bali yang kaya akan produk Budaya unggul, sangat merasakan dampak modernitas itu.
Pendekatan desain budaya dan disain pemikiran Wayan Setem tidak hanya berfokus pada estetika, tetapi juga pada makna mendalam yang terkandung dalam setiap elemen visualnya. Ia menggunakan seni sebagai medium untuk menyampaikan pesan tentang eksploitasi lingkungan, perubahan sosial, dan pentingnya menjaga keseimbangan dalam kehidupan.
Untuk melihat lebih banyak tentang karya dan pemikirannya, kita bisa mengeksplorasi beberapa sumber yang membahas lebih dalam tentang perjalanan seninya. Terutama ulasan curator dan media tentang kiprahnya memamerkan karya, dwi matra, maupun tri matra, dan lain sebagainya.
Wayan Setem mengintegrasikan dua pendekatan utama dalam karyanya, yaitu disain budaya dan disain pemikiran, yang secara bersamaan menegaskan identitas seni pribadinya sekaligus perannya sebagai kritikus sosial. Sungguh sangat menarik menelaah lebih dalam produk pemikirahn wayan Setem jika dikaitkan dengan kedua design tersebut.
Disain budaya pada karya Wayan Setem merupakan perwujudan nilai-nilai, tradisi, dan kearifan lokal Bali. Dalam setiap karyanya, ia menyematkan simbol-simbol yang kental dengan estetika dan filosofi budaya Bali—seperti penggambaran elemen pertanian (misalnya akar padi).
Hal itu, tidak hanya mewakili kehidupan agraris tetapi juga sistem pengairan tradisional seperti subak. Duwasa, Dharma Pemaculan, Tumpek, dan lain sebagainya, yang berkait dengan kultur agraris.
Pendekatan ini mengajak penikmat seni untuk menyadari bahwa budaya tidak bersifat statis, melainkan hidup, berkembang, dan dipengaruhi oleh arus modernisasi. Karya-karyanya yang sarat dengan metafora, seperti dalam lukisan Rice Root Struggles for Life.
Lukisan itu, menggambarkan pertarungan antara kekuatan alam dan dinamika sosial-ekonomi. Lewat penyampaian visual tersebut, Wayan Setem menekankan pentingnya merawat tradisi budaya agar tidak tergerus oleh nilai-nilai pembangunan yang serba cepat dan cenderung eksploitatif.
Selanjutnya yang berkait dengan Disain pemikiran, Wayan Setem mencerminkan metode kreatif yang menggabungkan riset konseptual, eksperimen teknik, dan pendekatan kritis terhadap isu-isu kontemporer.
Pendidikan formalnya—mulai dari sarjana di Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar (Seni Murni/Lukis), dilanjutkan dengan studi magister di Institut Seni Indonesia Yogyakarta melalui tesis Manunggaling Kala Desa, Melintas Fenomena Ruang dan Waktu dalam Seni Lukis.
Yang paling akhir adalah program doktoral di ISI Surakarta pada tahun 2017 dengan disertasi Celeng Ngelumbar: Metafor Penambangan Eksploitatif Pasir—menjadi fondasi pemikiran konseptualnya.
Proses studi yang mendalam inilah yang memungkinkan ia mengolah ide-ide yang kompleks, sehingga karyanya tidak hanya berisi referensi visual, melainkan juga narasi yang kritis tentang dinamika ruang, waktu, dan pergeseran nilai-nilai budaya di tengah arus modernisasi.
Dengan demikian, karya-karya Setem menonjol sebagai medium dialog antara tradisi dan pergeseran paradigma pembangunan modern, serta kritik terhadap eksploitasi alam dan budaya.
Kekayaan pengalaman pendidikan dan apresiasi yang telah diraih sejak masa sarjana—termasuk penghargaan sebagai Mahasiswa Berprestasi Nasional—menjadi modal utama dalam merintis karier seninya.
Sepanjang perjalanan yang dimulai sejak akhir 1990-an, Wayan Setem telah mengikuti ratusan pameran, baik tunggal maupun kelompok, serta mendapatkan berbagai pengakuan seperti perolehan HKI dan karya seni monumental.
Melalui pameran-pameran tersebut, ia mempraktikkan disain budaya dan disain pemikiran secara bersamaan: karya-karya yang tampil tidak hanya menyuguhkan keindahan visual yang mendalam, namun juga mengandung pesan-pesan kritis mengenai perubahan social.
Selain itu, juga dibahas eksploitasi lingkungan, dan pentingnya menjaga harmoni antara manusia dengan alam dan spiritualitas. Pendekatan inilah yang menjadikan karyanya relevan dan inspiratif dalam wacana seni kontemporer Indonesia.
Secara keseluruhan, Wayan Setem memperlihatkan bagaimana seni dapat menjadi wadah bagi dialog antara masa lalu dan masa depan. Disain budaya dalam karyanya mengingatkan kita akan kekayaan tradisi dan nilai-nilai lokal yang perlu dijaga.
Sedangkan disain pemikiran menantang pemikiran konvensional dengan cara mengkritisi fenomena sosial-ekonomi melalui metode kreatif yang mendalam dan simbolik.
Kontribusinya tidak hanya menambah ragam perspektif dalam dunia seni rupa, tetapi juga membuka ruang diskusi mengenai bagaimana pembangunan modern harus diselaraskan dengan pelestarian budaya dan lingkungan.
Untuk menggali lebih dalam, ada baiknya kita tinjau karya-karya seperti Rice Root Struggles for Life yang memadukan teknik pena dan akrilik—sebuah eksperimen visual yang tajam, menggabungkan elemen estetis dan kritik sosial secara bersamaan.
Hal ini menunjukkan betapa Wayan Setem tidak hanya menciptakan karya seni, tetapi juga merancang sebuah bahasa visual yang kompleks untuk mengkomunikasikan pesan-pesan perubahan di tengah arus globalisasi dan modernisasi.
Selain karya Rice Root Struggles for Life – yang pernah dipamerkan di International Virtual Art Exhibition 2021, Universiti Sains Malaysia, bisa kita simaki karyanya Kapitalosen 2 – Patung berbahan campuran sampah plastik dan bubur kertas yang mengkritik kapitalisme sebagai sistem yang mendorong eksploitasi lingkungan.
Teknik ini memungkinkan ia menciptakan karya dengan tekstur yang kaya dan penuh simbolisme. Karya ini terinspirasi dari konsep Kapitalosen yang dikembangkan oleh sejarawan lingkungan Jason W. Moore.
Yang tidak kalah menarik adalah karyanya yang bertajuk Mengeringkan Tradisi. Ini karya Instalasi seni yang mengeksplorasi dampak kapitalisme terhadap budaya Bali, khususnya dalam konteks pariwisata dan eksploitasi sumber daya alam.
Menurut interpretasi saya, karya Mengeringkan Tradisi ini mengundang kita untuk merenungi bagaimana nilai-nilai serta ekspresi budaya yang telah lama hidup dan berkembang kini tampak mengalami “pengeringan” atau penurunan esensi.
Secara konseptual, istilah “mengeringkan” bisa dilihat sebagai metafora yang tajam – menggambarkan proses di mana tradisi yang dulu kaya warna, ritual, dan dinamika kini tersaji dalam bentuk yang tampak tereduksi, terfragmentasi, atau kehilangan taksunya.
Karya ini sedang mengkritisi arus modernisasi yang sering kali mengikis dan mengubah nilai-nilai budaya tanpa memberikan ruang bagi upaya regenerasi dalam pemahaman makna.
Karya Setem yang lain dan cukup menarik adalah “Celeng Ngelumbar” – Karya seni berbentuk patung celeng yang menjadi metafora eksploitasi pasir secara berlebihan. Karya ini merupakan bagian dari disertasi doktoralnya di ISI Surakarta dan dipresentasikan di lokasi penambangan sebagai bentuk kampanye isu lingkungan.
Karya “Celeng Ngelumbar Metafor Eksploitatif Penambangan Pasir” adalah karya mewartakan tentang persoalan kerusakan lingkungan akibat fenomena penambangan pasir.
Dampak penambangan telah mengubah visualisasi bentang alam/topografi kawasan menjadi lanskap baru sehingga mengubah pula fungsi dan manfaat sungai yang sangat penting dalam menunjang kelangsungan kehidupan.
Berubahnya fungsi ekologi, saluran eko-drainase, dan saluran irigasi alamiah. Masalah lain yang dapat timbul adalah ketika penambang begitu saja meninggalkan kawasan lahan tanpa upaya melaksanakan konservasi lalu berpindah dan membiarkan lahan tersebut terbelangkai. Akhirnya dampak kerusakan lingkungan menjadi beban ditanggung oleh generasi pewarisnya
Karya-karya di atas menunjukkan bagaimana Wayan Setem menggunakan seni sebagai medium kritik sosial dan refleksi terhadap perubahan budaya serta lingkungan. Selain itu, dengan kemampuannya mempergunakan berbagai medium, membuatnya lebih bebas dalam memilih wilayah ‘universalis’ dalam berkarya.
Dalam hal itu, berkarya dwi matra, tri matra, atau multi matra. Wayan Setem memang sering mengangkat tema harmoni manusia dan alam, kritik sosial terhadap eksploitasi lingkungan, serta metafora budaya Bali dalam karyanya.
Ia melihat seni sebagai medium untuk menyampaikan pesan tentang perubahan sosial dan dampak kapitalisme terhadap tradisi serta ekologi. Ini, tentu sangat terasa bagi Bali yang sarat dengan anasir budaya, dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya,
Pendekatan visual Wayan Setem sering kali bersifat satir dan metaforis, dengan penggunaan elemen-elemen seperti figur manusia, hewan, dan simbol budaya Bali untuk menyampaikan pesan yang lebih dalam.
Selain menggabungkan unsur ornamen tradisional dan tekstur alami untuk memperkuat narasi visualnya, Setem juga berhasil menggabungkan format disain Budaya dan disain pemikiran pada karya-karyanya. Produk pemikirannya ini, menarik untuk dikaji lebih dalam.
Esai foto Klik ini: Disain Budaya Dan Disain Pemikiran I Wayan Setem








