MATRANEWS.id — “Ada orang, ada masanya. Setiap masa, ada orangnya.”
Ungkapan ini bukan sekadar filosofi tentang waktu, melainkan cermin dari dinamika estafet kepemimpinan di tubuh Badan Narkotika Nasional (BNN).
Lembaga yang berdiri di garis depan pemberantasan narkotika ini telah dipimpin oleh sosok-sosok tegas, visioner, dan berdedikasi tinggi—termasuk tiga jenderal polisi yang masing-masing menorehkan jejak khas dalam sejarah perang melawan narkoba.
Ahwil Luthan: Peletak Pondasi dan Pendobrak Stigma
Komjen Drs Ahwil Lutan SH, MH merupakan sosok yang merintis Badan Narkotika Nasional. Bahkan saat masih Badan Kordinasi dan belum memiliki dana dan personil yang memadai, polisi ini yang sudah berjuang nyata di pemberantasan hingga cegah narkoba.
Mengajak organik LSM, ulama hingga jurnalis yang peduli bahaya narkoba dalam genderang perang melawan bandar narkoba. Literasi darurat narkoba terus didengungkan, hingga pada periodenya BKNN berhasil menjadi garda terdepan dan dipercaya untuk menjadi badan yang punya arti dan peran di bangsa ini.
BNN menguatkan jalur diplomatik dan kerja sama internasional dalam menanggulangi jaringan perdagangan narkoba lintas negara. Ia juga yang mempelopori alternative development di tanah ganja di Aceh diganti dengan buah naga dan kopi.
Ahwil termasuk jenderal yang banyak mengajak peran sipil untuk sama-sama mencegah bahaya narkoba, dengan caranya. Membidani majalah HealthNews yang oleh UNODC dinobatkan sebagai media again drugs pertama dari Indonesia.
Usai menjadi Duta Besar Indonesia untuk Meksiko (2002–2005), Ahwil terus berkontribusi di BNN, sekarang menjadi Koordinator Ahli di BNN.
Gories Mere: Pionir Penegakan Hukum Antinarkotika
Datuk Komjen Pol. Drs. Gregorius “Gories” Mere. Polisi ini satu figur paling menonjol dalam sejarah BNN. Menjabat sebagai Kepala Pelaksana Harian BNN dari tahun 2009 hingga 2012.
Sosok yang dikenal luas sebagai perintis berdirinya Detasemen Khusus 88 Anti Teror—pengalaman yang kemudian ia bawa ke medan perang melawan narkoba.
Dengan pendekatan profesional dan berbasis intelijen, ia membentuk fondasi kerja sama antarlembaga, baik dalam maupun luar negeri, yang memperkuat jaringan pencegahan dan penindakan narkoba di Indonesia.
Tak hanya dikenal karena ketegasannya, Gories juga dikenal mampu membangun narasi kuat bahwa perang melawan narkotika adalah perang yang menyelamatkan generasi.
Marthinus Hukom: Menguatkan Cengkraman, Memperluas Jangkauan
Kini, tongkat kepemimpinan berada di tangan Komjen Pol. Marthinus Hukom, lulusan Akpol 1991 dan sosok berpengalaman di bidang reserse serta penanggulangan terorisme.Walau terkesan senyap dari pemberitaan tapi langkahnya nyata.
Sejak dilantik sebagai Kepala BNN RI pada 8 Desember 2023, Marthinus langsung menandai kepemimpinannya dengan pendekatan progresif yang memadukan penindakan keras dan penegakan hukum berbasis teknologi.
Latar belakangnya sebagai mantan Kepala Detasemen Khusus 88 memberikan fondasi kuat dalam membangun sistem kerja yang disiplin dan responsif terhadap ancaman narkotika yang makin kompleks dan terselubung.
Di bawah komandonya, BNN diharapkan makin gesit dan tegas dalam menangani sindikat narkoba yang bertransformasi secara digital dan transnasional.
Satu Badan, Tiga Corak Kepemimpinan
Tiga nama, tiga corak, satu misi. Gories Mere dengan ketegasan intelijen dan jaringan operasional, Ahwil Luthan dengan kekuatan diplomasi dan edukasi, serta Marthinus Hukom dengan kekuatan struktur dan teknologi—semuanya mewarnai perjalanan BNN sebagai institusi yang tak kenal lelah menjaga negeri dari bahaya narkotika.
Masing-masing membuktikan bahwa keberhasilan lembaga bukan hanya soal posisi, tapi tentang visi dan keberanian dalam bertindak.
BNN terus berjalan di bawah satu badan yang kokoh.










