MATRANEWS.id — Kehadiran teknologi (termasuk Information Tecnology) ibarat dua sisi mata pedang: memudahkan sekaligus “menyusahkan”.
Di satu sisi, teknologi menawarkan kecepatan, ketepatan dan efisiensi. Di sisi lain, teknologi justru mengambil alih peran yang sebelumnya dilakukan manusia.
Coba Anda perhatikan. Banyak sudah entitas bisnis “berikut karyawannya” yang tergusur atau bahkan lenyap dari muka bumi. Barangkali untuk selamanya.
Berikut ini adalah beberapa lapangan kerja yang pernah berjaya namun perlahan memudar tergilas kemajuan teknologi.
Beeper. Kita mulai dari “pager” atau penyeranta. Sarana komunikasi satu arah ini begitu populer di awal 1990-an.
Cara kerjanya, in case Anda lupa, pengirim berita menghubungi operator dengan menyebutkan momor pesawat yang hendak dituju.
Penerima paging biasanya merespon dengan menelepon balik si pengirim berita, atau mengirim jawaban lewat cara yang sama.
Kala itu, receiver yang berukuran tak lebih dari kotak rokok itu merupakan senjata andalan banyak orang. Terutama mereka yang sering bertugas di lapangan.
Cukup banyak penyedia jasa moda komunikasi ini saat itu, di antaranya adalah Starko, Starpage, NusaPage dan Multipage.
Berkembangnya teknologi, yang diawali dengan telepon selular, membuat kejayaanpager memudar.
Bisnis ini pun rontok. Meski segelintir orang masih memanfaatkan sistem ini, peran pager sebagai sarana komunikasi boleh dibilang sudah berakhir digilas SMS dan chat platform lainnya.
Selanjutnya adalah Yellow Pages. Untuk rentang waktu yang panjang, buku tebal berwarna dominan kuning ini adalah kitab sakti yang dibutuhkan banyak orang.
Hingga awal tahun 200-an, Yellow Pages adalah solusi untuk banyak masalah. Mulai dari mencari nomor telepon apotik yang buka 24 jam menghubungi instansi tertentu hingga layanan pesan-antar.
Begitu pula bagi produsen dan vendor penyedia jasa buku tebal informasi buatan Telkom itu.
Yellow Pages adalah media promosi yang efektif dan juga jauh lebih murah dibanding memasang iklan di media cetak misalnya.
Jika sepuluh tahun lalu, demand konsumen begitu tinggi terhadap Yellow Pages, kini jika ditawari pun mereka belum tentu mau.
Karena saat ini buku setebal itu sudah bisa “dikompres” dalam bentuk aplikasi. Peran operator 108 telkom pun sudah banyak digantikan oleh “mbak Google”.
Profesi lain yang yang tidak kalah galau oleh kehadiran teknologi adalah akuntan.
Makin canggihnya sistem komputasi keuangan, cukup membuat para staf akunting ketar-ketir. Betapa tidak, ilmu yang mereka pelajari bertahun-tahun di bangku sekolah menjadi seolah tenggelam oleh kecanggihan perangkat lunak.
Kita “kehilangan” senyum penjaga loket tiket transportasi. Sebab semua sudah bisa dilakukan secara online dan sebagian bahkan tidak memerlukan kertas.
Sedikit berbeda dengan profesi-profesi lain yang (nyaris) punah, industri media justru merosot lantaran terlalu banyaknya “lapangan kerja”.
Perlahan namun pasti media konvensional (terutama cetak) mulai ditinggalkan pembacanya. Media onlne menjadi kiblat baru dalam mengakses informasi.
Dan ketika bicara internet, saat ini siapapun bisa jadi wartawan. Tak perlu sekolah, tak perlu pelatihan dan mungkin enggak perlu mengerti kode etik jurnalistik. Tak perlu ikut kompetensi wartawan.
Hanya dengan berbekal sebuah smartphone, siapapun kini bisa jadi wartawan. Liput sendiri, foto sendiri dan posting sendiri.
Banyak laman yang dapat memfasilitasi karya wartawan instan ini, baik yang berupa blog ataupun “kanal-kanal” khusus yang tersedia di media online resmi.
Tidak seperti dulu, saat ini boleh dibilang tak ada lagi istilah berita eksklusif. Begitu ditayangkan di dunia maya, serta-merta pula ia menjadi “public “domain”. Apalagi ketika sebuah berita sudah menjadi viral di media sosial, kita mungkin tidak pernah punya keinginan untuk mencari tahu siapa yang pertama kali menayangkannya.
Pendek kata, hampir segenap profesi yang ada tak akan luput dari intaian teknologi. Bisa jadi, suatu saat nanti, profesi Anda juga bakal digantikan oleh teknologi.
Apa saja itu? Yuk, mari kita diskusikan.







