Hartanto Bali Tentang Kanvas Spiritual Ricky Salim

 

MATRANEWS.idKANVAS SPIRITUAL RICKY SALIM

Sebuah pameran bernuansa spiritual, digelar di Lima Art Café & Gallery, Garuda Wisnu Kencana Cultural Park, Jimbaran, Bali pada 21 Desember 2025 hingga 21 Januari 2026. Adalah Ricky Bambang Sudibyo Salim, perupa yang menggelar acara tersebut.

Pada mulanya, Ricky, demikian panggilan akrabnya – sosok kelahiran Surabaya 18 Januari 1972, berprofesi sebagai ‘fotografer pernikahan’ skala internasional. Namun delapan tahun lalu, sebuah mimpi mengubah arah hidupnya.

Pada mimpi itu, Ricky melihat dirinya melukis adegan The Last Supper, perjamuan terakhir Yesus bersama 12 murid. Ricky mengabaikannya. Sebab, ia merasa tidak memiliki kemampuan melukis.

Selain itu, ia mengalami buta warna parsial. Namun, panggilan itu terus datang. Dalam doa pagi, Ricky akhirnya menguatkan tekad untuk mencoba.

Pandemi COVID-19 menjadi momentum penting. Dunia fotografi berhenti, dan Ricky mengikuti kursus melukis secara daring dari Milan Art Institute.

Dari proses itu lahir visi baru, seni bukan hanya gambar, melainkan pesan yang menyentuh hati. Selain itu, juga ‘daya’ visual yang berbicara.

Pada perjalanan berikutnya, Ricky menyadari bahwa lukisan dapat berbicara lebih kuat bila dipadukan dengan ‘teks reflektif’. Dari sinilah lahir keinginan memproduksi ‘Carrot Card’, sebuah permainan makna dari kata “tarot”.

Jika tarot identik dengan ramalan, ‘Carrot Card’ justru menyampaikan pesan iman yang otentik, dan berakar pada nilai-nilai Alkitab yang dikemas secara universal.

Kartu ini di produksi setelah lukisan selesai, di baliknya tercantum pesan yang memperjelas makna. Pengunjung yang melihat, sering kali merasa terhubung secara emosional, bahkan ada yang terharu atau muncul kesadaran yang membahagiakan.

‘Carrot Card’ yang lahir dari gagasannya ini, pertama kali dipamerkan oleh Ricky, di Art Moment Jakarta tahun 2024. Saat itu, mendapat perhatian besar dari pengunjung. Setelah itu, Ricky bersama keluarga berlibur ke Italia untuk berproses kreatif disana.

Meski awalnya ingin ke Florence, mereka justru pilih ke Tuscany. Ricky merasa mendapat bisikan untuk membuat seri kedua Carrot Card. Perjalanan ini dilaksanakan pada Oktober 2025. Ricky mengikuti kata hati untuk memulai proses kreatifnya.

Meski sempat ragu karena biaya hidup yang besar di Tuscany, Namun, Ricky akhirnya menetap selama tiga minggu. Hasilnya, 33 lukisan baru. yang kemudian dipamerkan bersama ‘carrot card’ nya

Seri kedua ini memperlihatkan perkembangan teknik Ricky – dari kuas bertekstur ke penggunaan palet, menghasilkan nuansa visual yang lebih matang. Semula Ricky mempergunakan cat minyak. Karena cat itu lama keringnya, ia mengganti cat acrylic.

Karya-karya ini menegaskan bahwa lukisan Ricky bukan sekadar estetika, melainkan refleksi iman yang mengajak orang untuk merenung.

Harapannya penikmat bisa memasuki momen sakral – di mana seni menjadi suara ke-nabi-an dan kreativitas melepaskan pesan surga di bumi. Serta, muncul kesadaran akan nilai-nilai spiritual yang universal di dalam diri, lalu jadi jalan kebahagiaan.

Hari, seorang pengamat seni rupa – menilai penggayaan karya Ricky yang bertajuk Leaving The Luggage of Yesterday. Bisa dikategorikan gaya naratif simbolis dengan pendekatan spiritual kontemporer.

Lukisan ini berbicara tentang transformasi batin, dan menggunakan bahasa visual yang mudah dipahami namun penuh makna.

Karya ini, sangat kuat kesan cahaya, warna, dan suasana sesaat, bukan detail realistis. Goresan kuasnya tampak bebas, warna cerah dominan. Kekuatan karya ini terletak pada perpaduan tekstual dan visual.

Strategi dengan Carrot Card, menurut Hari, adalah cara yang unik dalam mempopulerkan pesan dan mempermudah orang untuk terhubung ke dalamnya. “Jadi disini antara teks dan visual saling mendukung untuk menciptakan impresi pada karya Ricky,” ujar Hari

Hari juga menekankan bahwa meski Ricky menggunakan simbol-simbol Kristiani, tekanannya tetap pada nilai kemanusiaan yang universal. Itulah kelebihan seni visual, bisa dipahami secara luas oleh penikmat – tanpa terbatas latar Budaya dan bahasa.

Memang, Carrot Card memperlihatkan bagaimana seni dapat berfungsi sebagai healing dan communal care. Lukisan dan pesan reflektifnya menjadi medium penyembuhan batin, hubungkan manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesama, dan dengan Tuhan.

Dalam perspektif ekokritik, karya Ricky juga dapat dibaca sebagai perawatan dunia. Bali sebagai latar kehidupannya memperkuat dimensi ekologis ini – tradisi seni Bali selalu terkait dengan keseimbangan kosmos.

Perjalanan  Ricky adalah kisah tentang keberanian melampaui keterbatasan. Dari fotografer profesional, bertransformasi menjadi pelukis spiritual yang menghadirkan seni sebagai bahasa universal. Carrot Card menjadi simbol perjalanan itu – medium refleksi yang lahir dari doa, perenungan, dan panggilan ilahi.

Dengan Carrot Card, Ricky menunjukkan bahwa seni sejati bukan hanya tentang keindahan visual, melainkan tentang pesan iman yang menyembuhkan dan merawat.

Carrot Card, dengan pesan universalnya, memperluas fungsi seni sebagai jembatan antara manusia, spiritualitas, dan lingkungan.

Seni, bagi Ricky dalam  konteks ini, adalah jalan hidup yang menghubungkan manusia dengan transendensi, sekaligus menciptakan ruang kebersamaan yang penuh empati.

(Hartanto)

BACA JUGA: majalah MATRA edisi Januari 2026