Tokoh  

Lebih dari 900 Jamaah Padati Mugaba, Ade Supandi Serukan Akhlakul Karimah

foto: dok majmussunda.id/

MATRANEWS.id Lebih dari 900 Jamaah Padati Mugaba, Ade Supandi Serukan Akhlakul Karimah

Suasana pagi di kawasan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Minggu, 12 April 2026, terasa berbeda. Di halaman Museum Galeri Bahari (Mugaba), Banuraja RW 09, Desa Pangauban, ratusan orang berdatangan sejak dini hari.

Mereka datang dari berbagai penjuru, memenuhi ruang yang perlahan sesak oleh lebih dari 900 jamaah. Agenda mereka satu: Halal Bihalal dan istighosah bulanan yang digelar Majelis Taklim Bani Thoha.

Acara ini bukan sekadar pertemuan rutin. Ia menjadi simpul perjumpaan berbagai elemen: tokoh agama, aparat keamanan, birokrat, hingga organisasi otonom Nahdlatul Ulama seperti GP Ansor, Fatayat, dan Muslimat.

Dalam ruang yang sama, identitas sosial melebur dalam satu tarikan napas keagamaan.

Pemilik Mugaba, Ade Supandi, membuka acara dengan nada hangat, namun sarat pesan. Ia menegaskan bahwa pertemuan semacam ini bukan hanya ritual tahunan, melainkan upaya merawat fondasi moral masyarakat.

“Kita berkumpul di sini untuk mempererat silaturahmi dan mengamalkan ajaran Nabi Muhammad SAW—menyempurnakan akhlak manusia,” kata Ade.

Mantan KSAL ini menyebut, pengajian tidak berhenti pada ruang ibadah, melainkan harus menjalar ke kehidupan keluarga, masyarakat, hingga negara.

Ade juga menyelipkan visi yang lebih luas tentang Mugaba. Bagi dia, museum ini bukan sekadar ruang pamer, melainkan pusat edukasi yang menghubungkan sejarah Sunda, wawasan kemaritiman, dan nilai-nilai kearifan lokal.

Sebuah upaya mengikat identitas budaya dengan kesadaran kebangsaan.

Di sisi lain, pemerintah daerah melihat kegiatan ini sebagai energi sosial yang penting. Wakil Bupati Bandung Barat yang berhalangan hadir diwakili Camat Batujajar, Andi M. Hikmat.

Dalam sambutannya, Andi menyoroti peran tokoh masyarakat seperti Ade Supandi dalam memperkuat kohesi sosial.

“Ini wujud nyata sinergi antara tokoh bangsa dan masyarakat dalam memperkuat nilai kebersamaan dan keagamaan,” ujarnya.

Momentum itu sekaligus dimanfaatkan Andi untuk memperkenalkan visi pembangunan daerah “AMANAH”—Agamis, Maju, Adaptif, Nyaman, Aspiratif, dan Harmonis—yang tertuang dalam RPJMD Kabupaten Bandung Barat. Pilar “Agamis”, kata dia, tidak bisa dilepaskan dari praktik sosial seperti istighosah.

“Istighosah adalah instrumen penting dalam membangun fondasi itu,” katanya.

Rangkaian acara mencapai puncaknya saat doa bersama dipimpin Sopyan Yahya.

Lantunan Surah Al-Fatihah, Asmaul Husna, dan Yasin menggema, menghadirkan suasana yang khidmat sekaligus intim. Doa dipersembahkan, antara lain, untuk almarhumah Djuhaeriah, ibunda Ade Supandi.

Dalam tausiyahnya, Sopyan Yahya menyoroti kehadiran lintas elemen—dari aparat militer hingga pejabat sipil—sebagai peristiwa yang jarang terjadi. Ia mengingatkan bahwa di balik keragaman posisi sosial, manusia tetap setara di hadapan kefanaan.

“Seseorang meninggal tidak membawa sertifikat tanah atau harta. Maka perbanyak amal saleh dan jaga hubungan dengan sesama,” ujarnya.

Pesan itu mengendap di antara jamaah yang duduk bersila, sebagian menunduk, sebagian memejamkan mata.

Acara ditutup dengan ramah tamah. Di sela hidangan sederhana, percakapan mengalir ringan—tentang keluarga, pekerjaan, hingga rencana pengajian berikutnya. Mereka pulang tanpa membawa sesuatu yang kasatmata, kecuali perasaan yang lebih lapang dan ikatan sosial yang diperbarui.

Di tengah riuhnya zaman, pertemuan seperti ini mengingatkan: kekuatan masyarakat tidak hanya dibangun dari kebijakan, tetapi juga dari kebersamaan yang dirawat dalam diam.