MATRANEWS.id — Baru Tiba di Tanah Air, Prabowo Siap Bertolak ke Teheran Mediasi Konflik AS–Israel vs Iran
Bandara masih basah oleh sisa hujan ketika pesawat kepresidenan mendarat di Jakarta, Jumat pagi, 27 Februari 2026.
Baru sehari menginjakkan kaki di Tanah Air setelah lawatan 10 hari yang padat, Presiden Prabowo Subianto belum sempat menurunkan ritme. Dunia keburu berderak.
Sabtu dini hari, 28 Februari 2026, lanskap Timur Tengah berubah drastis. Serangan udara dan rudal Amerika Serikat bersama Israel menghantam sejumlah titik strategis di Iran.
Tak lama berselang, Teheran membalas. Rudal balistik dilaporkan meluncur ke arah wilayah Israel. Eskalasi bergerak cepat—dan berbahaya.
Di tengah ketegangan itu, Jakarta memilih jalur yang tidak biasa: diplomasi tingkat kepala negara.
Pemerintah Indonesia menyatakan kesiapan Presiden Prabowo untuk bertolak ke Teheran, bila kedua pihak yang bertikai menyetujui. Sebuah langkah yang, dalam bahasa diplomatik, jarang diambil tanpa kalkulasi mendalam.
Hujan Rudal, Tawaran Dialog
Pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri RI menegaskan sikap Indonesia: menyesalkan kegagalan jalur perundingan internasional dan menyerukan penghentian kekerasan segera.
“Apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Republik Indonesia menyatakan kesediaannya untuk bertolak ke Teheran guna melakukan mediasi langsung,” demikian bunyi pernyataan itu.
Langkah ini mempertegas posisi Indonesia sebagai negara non-blok yang konsisten mendorong penyelesaian damai, mengedepankan kedaulatan, dan menolak agresi.
Di tengah poros geopolitik yang kian terpolarisasi, tawaran Jakarta adalah jembatan—bukan palu.
Bagi Indonesia, ini bukan sekadar urusan Timur Tengah. Lebih dari 30 persen pasokan minyak dunia melintasi kawasan yang kini bergejolak. Gangguan di Selat Hormuz atau Bab el-Mandeb bisa mengguncang harga energi global, memukul ekonomi berkembang, dan mempersempit ruang fiskal banyak negara—termasuk Indonesia.
Diplomasi, dalam konteks ini, adalah juga instrumen stabilitas ekonomi.
Empat Instruksi Darurat untuk WNI
Di saat yang sama, negara bergerak cepat melindungi warganya. Kementerian Luar Negeri mengeluarkan imbauan darurat bagi WNI di Iran dan wilayah sekitar.
Empat langkah mitigasi disampaikan:
1.Pantau otoritas setempat – Ikuti instruksi keamanan dan jalur evakuasi resmi.
2.Komunikasi intensif – Pastikan kontak aktif dan terhubung dengan KBRI Teheran.
3.Hindari objek vital – Menjauh dari instalasi militer, bandara, dan fasilitas strategis.
4.Lapor diri – Akses portal Peduli WNI untuk memudahkan pendataan dan evakuasi.
Pendekatan ini menunjukkan dua jalur yang berjalan paralel: diplomasi eksternal dan perlindungan internal. Satu meredam konflik, satu lagi meminimalkan dampak.
Jejak Diplomasi Sebelum Krisis
Ironisnya, sebelum krisis ini pecah, Presiden Prabowo baru saja menuntaskan rangkaian pertemuan strategis.
Di Amerika Serikat, ia bertemu dengan Donald Trump, membahas kerja sama perdagangan dan stabilitas kawasan. Di Yordania, koordinasi dilakukan dengan Abdullah II untuk isu Palestina.
Sementara di Uni Emirat Arab, pertemuan dengan Mohamed bin Zayed Al Nahyan menguatkan kemitraan energi dan investasi.
Lawatan itu semula dibaca sebagai penguatan poros ekonomi dan diplomasi kawasan. Kini, ia menjelma modal awal untuk misi yang lebih berat: membangun kanal komunikasi di tengah amarah dan saling curiga.
Indonesia memang bukan kekuatan militer besar di Timur Tengah. Tetapi dalam diplomasi, ukuran bukan hanya soal armada, melainkan kepercayaan.
Taruhan Jakarta
Langkah Presiden Prabowo ke Teheran—jika terwujud—akan menjadi ujian paling nyata bagi politik luar negeri Indonesia era baru.
Di satu sisi, keberhasilan mediasi akan mengangkat posisi Indonesia sebagai aktor penyeimbang global. Di sisi lain, kegagalan bisa dibaca sebagai keterbatasan daya jangkau diplomasi.
Namun dalam tradisi politik luar negeri bebas aktif, risiko adalah bagian dari komitmen.
Ketika banyak negara memilih menunggu atau berpihak, Jakarta memilih datang.
Di tengah langit Timur Tengah yang kembali berkilat oleh cahaya rudal, Indonesia menawarkan satu hal yang makin langka: ruang bicara.
Pertanyaannya kini bukan hanya apakah Teheran dan Tel Aviv bersedia duduk bersama. Tetapi apakah dunia masih memberi tempat bagi diplomasi di antara dentum perang.








