MATRANEWS.id — AVARA: Tiga Dekade Menaklukkan Iklim Tropis, Ambisi Wine Bali Menembus Dunia
Dari kebun anggur di Sanggalangit, Bali Utara, Hatten Wines membawa AVARA ke Jakarta. Koleksi wine premium ini menjadi penanda perjalanan 32 tahun sebuah perusahaan yang ingin membuktikan bahwa Indonesia mampu menghasilkan wine dengan karakter dan identitasnya sendiri.
Di sebuah ruang pemutaran film di FLIX Cinema, ASHTA District 8, Jakarta Selatan, Kamis, 5 November 2026, perjalanan panjang sebuah industri diperkenalkan melalui layar lebar.
Bukan film tentang kemewahan sebotol wine, melainkan kisah tentang keberanian merintis sesuatu yang selama ini dianggap lebih akrab dengan negeri empat musim.
Di balik layar itu ada Hatten Wines. Perusahaan asal Bali yang sejak awal memilih jalan berbeda: menanam anggur dan membuat wine di wilayah tropis.
Selama lebih dari tiga dekade, perusahaan yang didirikan Ida Bagus Rai Budarsa pada 1994 itu berusaha menjawab satu pertanyaan mendasar: mungkinkah Bali menghasilkan wine yang memiliki karakter dan kualitas untuk diperhitungkan di panggung internasional?
Jawabannya kini diperkenalkan dengan nama AVARA.
Peluncuran koleksi wine premium tersebut berlangsung melalui pemutaran perdana film khusus bagi media dan tamu undangan.
Film itu merangkum tiga babak perjalanan perusahaan: Pioneer, Legacy, dan Innovation. Setelah pemutaran, acara berlanjut dengan konferensi pers dan resepsi pencicipan di Reading Space, ASHTA.
Eng-ing-eng, cerita AVARA sesungguhnya tidak dimulai di Jakarta.
Jejaknya terbentang dari kebun-kebun anggur di Bali Utara, tempat matahari, tanah, kelembapan, dan hujan menghadirkan tantangan tersendiri bagi para pembuat wine.
Eksperimen di Tanah Tropis
Membuat wine di daerah tropis bukan perkara sederhana. Iklim, pola hujan, suhu, serta karakter tanah memengaruhi pertumbuhan anggur dan proses pembentukan rasa.
Apa yang berhasil di Eropa belum tentu menghasilkan karakter serupa ketika diterapkan di Bali.
Hatten Wines memahami bahwa mereka tidak bisa sekadar menyalin resep dari tradisi pembuatan wine di belahan dunia lain. Mereka harus menemukan pendekatan sendiri.
Selama bertahun-tahun, perusahaan melakukan penelitian dan eksperimen terhadap 34 varietas anggur.
Berbagai teknik budidaya dan metode pembuatan wine diuji untuk menemukan varietas yang mampu beradaptasi dengan lingkungan tropis sekaligus menghasilkan buah dengan karakter yang diinginkan.
Salah satu pusat pengembangan AVARA berada di Desa Sanggalangit, Kabupaten Buleleng, Bali Utara. Di kawasan ini, Hatten Wines mengalokasikan delapan hektare kebun anggur untuk produksi wine premium.
Di tempat itulah eksperimen panjang menemukan bentuknya. Anggur tidak sekadar dipanen untuk diolah menjadi minuman. Setiap varietas, lokasi penanaman, dan metode produksi menjadi bagian dari upaya membangun identitas wine Bali.
AVARA kemudian hadir sebagai hasil dari perjalanan tersebut. Bukan sekadar penambahan merek dalam portofolio perusahaan, melainkan upaya membawa pengalaman puluhan tahun ke tingkat eksplorasi yang lebih mendalam.
Lima Karakter, Satu Identitas Bali
Koleksi AVARA terdiri atas lima varian: Prestige Cuvée, Chenin Blanc, Syrah, Grand Solera, dan XO.
Masing-masing menawarkan pendekatan berbeda terhadap bahan baku, proses produksi, dan karakter akhir. Ada sparkling wine yang dibuat menggunakan metode tradisional, ada wine putih dan merah, serta produk fortified wine yang menjalani proses pematangan panjang.
Perbedaan tersebut memperlihatkan luasnya eksperimen yang dilakukan Hatten Wines. Mereka tidak hanya mengejar satu jenis rasa atau gaya produksi, tetapi berusaha memahami bagaimana anggur dari lingkungan tropis dapat menghasilkan karakter yang beragam.
Di balik lima varian itu terdapat satu gagasan yang sama: Bali bukan hanya tempat wisata, pantai, dan lanskap budaya. Pulau ini juga memiliki potensi untuk melahirkan produk gastronomi dengan identitas lokal yang dapat diperkenalkan ke pasar internasional.
Ida Bagus Rai Budarsa, pendiri sekaligus Presiden Direktur PT Hatten Bali Tbk, menyebut ambisi tersebut telah tumbuh sejak perusahaan memulai perjalanannya pada 1994.
“Ketika kami memulai Hatten Wines pada tahun 1994, kami ingin membuktikan bahwa Bali mampu menghasilkan wine sendiri.”
“Tiga puluh dua tahun kemudian, ambisi kami telah berkembang melampaui Bali. Kami ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu menghasilkan wine dengan identitas, karakter, dan ciri khas daerah asalnya sendiri,” ujarnya.
Pernyataan itu sekaligus menjelaskan mengapa AVARA ditempatkan sebagai babak baru. Setelah melewati fase perintisan dan pembentukan fondasi industri, perusahaan kini mencoba membawa produknya memasuki percakapan yang lebih luas tentang wine premium.
Pengakuan dari Panggung Internasional
Perjalanan AVARA juga mulai memperoleh pengakuan di sejumlah kompetisi internasional.
Pada China Wine & Spirits Awards 2025, kelima variannya berhasil membawa pulang medali. Grand Solera meraih Double Gold. Chenin Blanc 2023 dan Syrah 2023 memperoleh Gold, sedangkan Prestige Cuvée dan XO mendapatkan Silver.
Pengakuan lain datang dari Austrian Wine Challenge Vienna 2025. AVARA Grand Solera meraih medali emas sekaligus Trophy sebagai fortified wine terbaik dalam kompetisi tersebut. Chenin Blanc 2023 dan Prestige Cuvée juga memperoleh Seals of Approval.
Pada 2026, AVARA XO kembali memperoleh penghargaan dengan meraih medali perak dalam Asia World Spirits Competition.
Penghargaan-penghargaan itu menjadi catatan penting bagi produk yang lahir dari eksperimen anggur tropis. Meski demikian, tantangan sesungguhnya bagi sebuah merek premium tidak berhenti pada medali.
Konsistensi kualitas, penerimaan konsumen, distribusi, dan kemampuan membangun reputasi jangka panjang tetap menjadi pekerjaan berikutnya.
James Kalleske, Head Winemaker Hatten Winery, melihat AVARA sebagai hasil dari akumulasi pengalaman panjang perusahaan dalam mengelola kebun anggur di Bali.
“AVARA merupakan hasil pengembangan dari seluruh pengalaman dan pembelajaran kami selama bertahun-tahun mengelola kebun anggur di Bali.”
“Koleksi ini memberikan kesempatan bagi kami untuk mengeksplorasi varietas anggur tertentu, lokasi kebun, serta teknik pembuatan wine secara lebih mendalam, dengan tetap mempertahankan karakter khas lingkungan tropis Bali,” katanya.
Pernyataan Kalleske memperlihatkan bahwa kekuatan AVARA tidak semata-mata terletak pada nama atau kemasan premium.
Ada proses panjang di belakangnya: penelitian varietas, pengelolaan kebun, pemilihan bahan baku, hingga keputusan mengenai teknik produksi.
Dari Bali ke Meja Dunia
Hatten Wines memiliki sejarah yang lebih panjang daripada kelahiran AVARA. Akar bisnis perusahaan bermula dari produk Arak & Brem Dewi Sri pada 1968.
Perjalanan kemudian berkembang menuju produksi wine lokal melalui Hatten Wines, yang mulai diproduksi pada 1992 dan resmi diluncurkan pada 1994.
Kini, PT Hatten Bali Tbk mengelola sekitar 60 hektare kebun anggur, termasuk 12 hektare yang didedikasikan untuk penelitian dan pengembangan.
Perusahaan juga menaungi sejumlah merek, antara lain Hatten Wines, AVARA, Arak & Brem Dewi Sri, Two Islands Wines, Two Islands Reserve, dan Dragonfly Wines.
Portofolio tersebut memperlihatkan strategi bisnis yang menggabungkan sumber daya lokal dan pengalaman produksi internasional.
Hatten Wines dan AVARA menggunakan anggur yang ditanam serta diproduksi di Bali. Sementara Two Islands Wines dan Two Islands Reserve memanfaatkan anggur varietas nobel dari Australia Selatan yang kemudian diproses di Bali.
Sejak 2005, perusahaan telah memperoleh berbagai penghargaan internasional, termasuk Southeast Asia Wine Pioneer Award pada 2011 dan Winery of the Year pada 2017.
Pada 2023, PT Hatten Bali Tbk resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham WINE.
Pencatatan saham tersebut menjadi bagian lain dari perjalanan perusahaan: dari usaha perintisan menjadi entitas bisnis terbuka yang harus menjaga keberlanjutan, inovasi, dan kepercayaan pasar.
Di tengah perjalanan itu, AVARA hadir membawa ambisi yang lebih spesifik.
Perusahaan ingin memperlihatkan bahwa wine premium tidak harus selalu diasosiasikan dengan kebun-kebun anggur di Eropa atau Australia. Bali pun memiliki cerita, kondisi alam, dan kemungkinan produksinya sendiri.
Peluncuran di Jakarta menjadi salah satu cara memperkenalkan cerita tersebut kepada pasar yang lebih luas.
Setelah pemutaran film dan konferensi pers, para tamu mendapat kesempatan mencicipi langsung lima varian AVARA.
Koleksi ini kini tersedia di The Cellardoor Bali, The Cellardoor Jakarta, serta sejumlah outlet pilihan di Indonesia.
Pada akhirnya, perjalanan AVARA adalah cerita tentang waktu dan ketekunan.
Tentang sebuah perusahaan yang selama 32 tahun berusaha memahami bagaimana anggur tumbuh di bawah matahari tropis, bagaimana karakter buah berubah dalam proses produksi, dan bagaimana sebuah produk lokal dapat menemukan tempatnya di pasar premium.
Dari Sanggalangit, Bali Utara, hingga ruang-ruang pencicipan di Jakarta, Hatten Wines sedang menawarkan lebih dari sekadar sebotol wine. Mereka sedang memperkenalkan sebuah gagasan: bahwa Indonesia memiliki kemungkinan untuk membangun tradisi wine-nya sendiri.
Dan AVARA adalah salah satu babak terbarunya.
Pemutaran perdana film bagi media di ibu kota yang menceritakan kiprah pionir produsen wine asal Bali ini serta peluncuran koleksi premium yang lahir dari eksplorasi dan pengembangan kebun anggur selama lebih dari tiga dekade.
© 2026 MATRANEWS.ID. Cantumkan tautan artikel asli saat mengutip.
