Berita  

Peter F. Gontha: Dampak Ekonomi Konser Ye dan Festival Jakarta Bisa Jauh Lebih Besar

Peter F. Gontha: Dampak Ekonomi Konser Ye dan Festival Jakarta Bisa Jauh Lebih Besar

MATRANEWS.id — Peter F. Gontha: Dampak Ekonomi Konser Ye dan Festival Jakarta Bisa Jauh Lebih Besar

PENGELUARAN wisatawan asing, lonjakan okupansi hotel, hingga pendapatan pengemudi transportasi daring dan pelaku UMKM dinilai belum sepenuhnya tercermin dalam estimasi dampak ekonomi konser Ye dan Jakarta Running Festival.

JAKARTA — Industri hiburan dan olahraga berpotensi menjadi salah satu penggerak ekonomi perkotaan yang semakin penting.

Hal itu terlihat dari penyelenggaraan konser Ye, yang dikenal sebagai Kanye West, dan Jakarta Running Festival.

Tahukan Anda, nilai ekonomi yang dihasilkan kedua acara tersebut dinilai masih berpotensi lebih besar daripada angka yang telah diumumkan.

Peter F. Gontha menilai estimasi dampak ekonomi sebesar Rp625 miliar yang disampaikan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung belum tentu menggambarkan keseluruhan aktivitas ekonomi yang tercipta selama kedua acara berlangsung.

Menurut Gontha, perhitungan dampak ekonomi tidak cukup hanya melihat transaksi yang tercatat secara formal. Aktivitas sektor informal, pengeluaran wisatawan asing, serta perputaran uang di berbagai sektor pendukung juga perlu diperhitungkan.

“Masih banyak kegiatan ekonomi yang belum sepenuhnya diperhitungkan, terutama dari sektor informal,” demikian pandangan Gontha dalam pernyataannya.

Ia mencontohkan pendapatan pengemudi ojek daring, pengemudi transportasi lainnya, pedagang kaki lima, hingga ribuan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berpotensi memperoleh manfaat dari meningkatnya mobilitas masyarakat selama penyelenggaraan acara.

Efek ekonomi tersebut menyebar ke berbagai sektor.

Pengunjung membutuhkan transportasi, makanan dan minuman, tempat menginap, serta layanan pendukung lainnya. Aktivitas itu menciptakan permintaan tambahan yang manfaatnya tidak selalu langsung terlihat dalam laporan penyelenggara.

Wisatawan Asing dan Perputaran Uang

Salah satu faktor yang disoroti Gontha adalah kehadiran sekitar 24.000 pengunjung dari luar negeri. Kedatangan mereka berpotensi memberikan kontribusi terhadap sektor pariwisata dan perekonomian Jakarta.

Gontha membuat ilustrasi sederhana. Jika masing-masing dari 24.000 pengunjung asing itu membelanjakan rata-rata US$500 hingga US$1.000 selama kunjungan, total pengeluaran mereka dapat mencapai US$12 juta hingga US$24 juta.

Dengan asumsi kurs Rp16.000–Rp16.700 per dolar AS, nilainya setara dengan sekitar Rp192 miliar hingga Rp400,8 miliar.

Angka tersebut merupakan simulasi potensi pengeluaran, bukan angka aktual yang telah diverifikasi. Realisasi belanja wisatawan tentu bergantung pada lama tinggal, jenis akomodasi, pola konsumsi, serta pengeluaran yang benar-benar dilakukan di Indonesia.

Meski demikian, ilustrasi itu menunjukkan besarnya peluang ekonomi yang dapat tercipta ketika Jakarta menjadi tujuan penyelenggaraan acara internasional.

Dampaknya tidak berhenti pada penjualan tiket. Hotel, restoran, pusat perbelanjaan, perusahaan transportasi, hingga berbagai usaha kecil di sekitar lokasi acara berpotensi menikmati peningkatan permintaan.

Bagi sektor perhotelan, misalnya, meningkatnya jumlah pengunjung dapat mendorong kebutuhan kamar dan layanan pendukung. Sementara bagi UMKM, keramaian acara membuka peluang untuk meningkatkan penjualan makanan, minuman, suvenir, dan berbagai produk lainnya.

Jangan Samakan Dampak Ekonomi dengan Penerimaan Pajak

Gontha juga mengingatkan pentingnya membedakan dampak ekonomi, nilai transaksi, dan penerimaan pemerintah.

Ketiganya merupakan indikator yang berbeda. Nilai transaksi menggambarkan aktivitas jual beli yang terjadi, sedangkan penerimaan pajak menunjukkan pendapatan pemerintah dari pungutan perpajakan sesuai ketentuan yang berlaku.

Adapun dampak ekonomi memiliki cakupan yang lebih luas. Pengukurannya dapat mencakup pengeluaran langsung pengunjung, aktivitas usaha yang terkait dengan penyelenggaraan acara, serta dampak tidak langsung terhadap sektor ekonomi lainnya.

Karena itu, angka Rp625 miliar yang disebut sebagai estimasi dampak ekonomi tidak dapat serta-merta ditafsirkan sebagai penerimaan pajak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Penghitungan yang akurat juga harus menghindari penghitungan ganda. Sebagai contoh, apabila pengeluaran wisatawan telah mencakup pembelian tiket konser, nilai tiket tersebut tidak boleh kembali dihitung sebagai tambahan pengeluaran tanpa penyesuaian metodologi.

Demikian pula, tidak semua pengeluaran wisatawan otomatis menjadi tambahan nilai ekonomi bersih bagi Jakarta. Sebagian pengeluaran mungkin menggantikan aktivitas konsumsi yang sudah direncanakan, sementara sebagian lainnya dapat mengalir ke pemasok dari luar daerah.

Dengan demikian, diperlukan metodologi yang transparan untuk mengetahui seberapa besar manfaat ekonomi yang benar-benar tercipta dari penyelenggaraan konser dan festival berskala internasional.

Konser Bukan Sekadar Hiburan

Bagi Gontha, penyelenggaraan konser internasional dan festival olahraga semestinya dilihat sebagai bagian dari strategi pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata.

Acara berskala besar tidak hanya menghadirkan pertunjukan atau kompetisi olahraga, tetapi juga menggerakkan rantai usaha yang melibatkan banyak pihak. Mulai dari promotor, pekerja produksi, penyedia jasa, pengelola tempat acara, hingga pedagang kecil yang melayani pengunjung.

Jika dikelola secara konsisten, kegiatan semacam ini dapat memperkuat posisi Jakarta sebagai tujuan acara internasional sekaligus meningkatkan daya tarik Indonesia di mata wisatawan mancanegara.

Namun, besarnya manfaat ekonomi juga bergantung pada sejumlah faktor, antara lain kualitas penyelenggaraan, kemudahan akses transportasi, kesiapan infrastruktur, keamanan, promosi pariwisata, serta kemampuan pelaku usaha lokal menangkap peluang.

Gontha menilai Indonesia memiliki potensi untuk menjadi tuan rumah berbagai kegiatan internasional berskala besar. Karena itu, ia mendorong dukungan terhadap promotor dan penyelenggara yang berani membawa acara semacam itu ke Tanah Air.

Manfaatnya, menurut dia, tidak hanya dinikmati penyelenggara, tetapi juga masyarakat dan perekonomian nasional.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah konser tidak semestinya hanya diukur dari jumlah tiket yang terjual atau besarnya pendapatan penyelenggara. Kontribusinya terhadap pariwisata, lapangan kerja, UMKM, dan aktivitas ekonomi lokal juga perlu mendapat perhatian.

Pada akhirnya, konser internasional dan festival olahraga bukan sekadar tontonan. Jika direncanakan dan diukur dengan baik, keduanya dapat menjadi instrumen untuk menggerakkan ekonomi, memperluas peluang usaha, dan memperkuat daya saing Jakarta sebagai kota tujuan dunia