IT

“Unicorn”

Oleh: Arsyad Syahrial

“Unicorn”
1.62K

“Unicorn”
MATRANEWS.id — Ramai berlalu di timeline mengenai perkara Unicorn, di mana umumnya adalah mengolok-olok pak PS karena dianggap tak paham apa itu Unicorn… jadinya saya tergelitik berkomentar tentang masalah ini…

Pertama, yang mengolok-olok pertanyaan pak PS tentang apa yang dimaksud oleh Petahana dengan Unicorn, maka pertanyaan pak PS itu dapat dipahami sebab pronunciation-nya Petahana memang kurang jelas terdengar di kuping saya…

Petahana menyebutkan “yu-ni-kon” (di mana bunyi huruf r di akhiran tidak jelas). Padahal seharusnya pronunciation-nya adalah “yuu-ni-kawrn”… makanya pak PS mencoba untuk menegaskan apa yang sebenarnya dimaksud oleh Petahana itu.

Iya dong harus ditegaskan, karena “Unicon” itu beda dengan Unicorn.

Unicon itu adalah bahasa pemrograman yang dirancang oleh Clint Jeffery dengan bantuan Shamim Mohamed, Jafar al-Gharaibeh, Robert Parlett, etc.

Sedangkan “Unicorn” itu adalah makhluq dalam mitologi yang menyerupai kuda yang mempunyai tanduk tunggal di tengah ubun-ubun kepalanya…

Dalam konteks debat kemarin, maksudnya adalah sebuah perusahaan start-up yang usianya kurang dari 10 tahun, namun valuation-nya oleh investor atau publik sudah melebihi $ 1 milyar (atau Rp 14 trilyun).

Catatannya adalah, Lazada itu milik siapa mayoritas sahamnya? Tokopedia itu milik siapa mayoritas sahamnya? OLX itu milik siapa mayoritas sahamnya?

FYI, investasi saham terbesar untuk dunia eCommerce di Indonesia mayoritas dilakukan oleh orang asing, terutama oleh Mr Jack Ma dari RRC.

Berita Menarik :  Kembali Tim Robot Madrasah TechnoNatura Bertanding Di Detroit Amerika Serikat

Begitu juga berbagai jenis layanan aplikasi berbayar, hampir semua mayoritas sahamnya dimiliki oleh asing. Memang sih web hosting kebanyakan adalah lokal, seperti: IDWEBHOST, RUMAHWEB, etc… tetapi mereka juga membeli cloudspace dari luar negeri, seperti dari Singapura, US, dll…

Belum lagi jika sudah dicodingkan CMS kemudian jadi sebuah olshop berbasis web, lalu didukung dengan aplikasi mobile, dan… voilà…! Tetiba saja perusahaan olshop tersebut dilirik oleh investor luar negeri, lalu dibeli, dan tentunya keuntungannya yang pasti akan mereka bawa ke negeri asalnya dong?

So, silahkan saja tertawakan pak PS… kita lihat siapa yang tertawa terakhir dan siapa yang akhirnya menangis!?

Masih ingat di Bali beberapa waktu lalu ketika ada wisatawan RRC yang berbelanja dengan WeChat Pay?

Keuntungannya pasti akan lari ke RRC… itu belum taken into consideration broker perusahaan pariwisata RRC yang licik / curang…

Intinya, pengembangan startup Unicorn untuk bisnis online, harus diawasi dengan cermat, karena kalau salah-salah, tahu-tahu diakuisisi oleh investor asing, dan ujung-ujungnya akan merugikan orang Indonesia!

Jangan bingung kalau pak PS itu lebih concern terhadap aturan perundangan yang tumpang tindih tentang eCommerce, sehingga beliau lebih melihat itulah yang harus dibenahi.

Pemerintah itu pada dasarnya adalah “policy maker”, bukan kontraktor infrastruktur.

Kita lihat dari jawaban pak PS kemarin bahwa pak PS sudah membaca situasi dan ingin melakukan antisipasi terhadap potensi larinya kekayaan negara ke luar negeri melalui industri eCommerce tersebut.

Berita Menarik :  Etiket Bertelepon Genggam, Cukup Lima Menit

Pak PS tampak aware bahwa dari 4 perusahaan startup yang sudah mencapai valuasi Unicorn, ternyata semuanya didanai dan dikuasai oleh asing… dengan hanya satu pengecualian adalah BukaLapak yang sahamnya masih lebih besar dimiliki founder-nya, dan kebijakan juga masih dipegang oleh anak negeri.

Adalah lumrah kalau pendanaan industri startup itu didanai oleh investor, namun sekarang yang penting adalah bagaimana caranya agar keuntungan yang didapat oleh investor tersebut tidak dilarikan keluar negeri (negara asalnya investor), atau paling tidak adalah perputaran modal dulu di Indonesia…

Any other opinion? Let’s have a good discussion, shall we?

Konvergensi Majalah MATRA

Tinggalkan Balasan

Translate »