Di kalangan militer, sosok Brigjen Inf. TNI Harzeni Paine, S.H., M.A dikenal sebagai jenderal yang cerdas dan punya banyak kelebihan. Selain memiliki banyak gagasan dan karya nyata dalam setiap penugasan dan menjadi legacy penerusnya, Jenderal bintang satu ini ternyata juga memiliki kemampuan menulis buku.
Selama menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri 400/Raider, tahun 2011, Harzeni juga menulis buku berjudul JEJAK PASUKAN PANTANG MUNDUR, SEJARAH KESATUAN BATALYON INFANTERI 400/RAIDER PERIODE 1953-2010. Ini bukan buku biasa, melainkan buku yang mengungkap sejarah dan kiprah batalyon.

Menulis buku bagi seorang prajurit TNI merupakan prestasi luar biasa, karena tidak banyak orang yang bisa melakukan. Karya tulis dalam bentuk buku sejarah ini, menjadi semcam ‘tinta emas’ yang telah Harzeni ditorehkan dalam perjalanan karir militernya.
Buku ini menggambarkan kondisi Batalyon Infanteri 400/Raider dalam periode 1953 hingga 2010. Menurut Harzeni, Batalyon Infanteri 400/Raider merupakan Batalyon sakral. Dari Batalyon ini lahir tokoh-tokoh militer kelas nasional dan kelas dunia, mulai dari Jenderal TNI Ahmad Yani (Pahlawan Revolusi) dan sejumlah mantan KASAD.

Apresiasi Para Petinggi TNI
Secara ringkas buku ini menjabarkan seputar Sejarah Batalyon Infanteri 400/Raider dengan segala kiprahnya yang penuh dengan kisah-kisah heroik patriotisme, tugas-tugas operasi, dan sejumlah prestasi yang telah diraih.
Buku ini terdiri dari tujuh Bagian. Bagian Satu menjabarkan tentang Sejarah Batalyon Infanteri 400/Raider. Bagian Dua menjabarkan tentang latar belakang pembentukan dan dasar pembentukan.
Pada Bagian Tiga mengulas seputar perkembangan Satuan, diantaranya para prajurit yang pernah menjadi pimpinan serta menjelaskan tentang lambang dan tunggul satuan.
Pada Bagian Empat, buku ini menceritakan tugas-tugs operasi, diantaranya tugas di dalam negeri dan tugas internasional. Bagian Lima buku ini menjabarkan sederet prestasi yang diraih Yonif 400/Raider, prestasi di bidang kemiliteran dan prestasi berkaitan dengan Bhakti TNI.
Pada Bagian Enam buku ini mengulas seputar pengalaman anggota saat bertugas, diantaranya kisah tentang Tetes darah terakhir untuk NKRI, Bertempur laksana banteng budeg, dan kisah Lima belas menit yang menegangkan. Buku ini ditutup dengan Bagian Tujuh.
“Ini buku kebanggaan selama saya bertugas sebagai Komandan Batalyon Infanteri 400/Raider. Buku ini mendapat apresiasi luar biasa dari para petinggi TNI,” ungkap Harzeni. (abdul kholis)







