Budaya  

‘Senyawa’ Antara Seni Sastra dan Seni Rupa dalam catatan Pinggir Hartanto Bali

MATRANEWS.id Senyawa Antara Seni Sastra dan Seni Rupa

Sesungguhnya sangatlah menarik diskusi yang diinisiasi oleh perupa Made Kaek bekerja sama dengan Sawidji Gallerey & Studio beberapa waktu yang lalu. Tepatnya, 1 Juni 2025.

Diskusi berlangsung sore hari di Sawidji Studio, Denpasar.

‘Senyawa’ antara sastra dan senirupa sebenarnya sudah berlangsung lama dan bukan hal baru. Kendatipun demikian, perbincangan semacam ini tetap menarik. Sebab, kata beberapa perupa – kolaborasi lintas seni, menghasilkan karya yang bagus.

Salvador Dalí pernah membuat karya rupa (saya selalu keberatan menyebut ilustrasi) untuk karya sastra. Ketika itu, Dalí berkarya atas dasar karya sastra “Alice’s Adventures in Wonderland” karya Lewis Carroll.

Dalam prosesnya, ia menginterpretasikan kisah tersebut melalui lensa surealis yang khas – misalnya, dengan memadukan elemen-elemen aneh dan bentuk-bentuk abstrak yang mengubah cara kita memandang realitas.

Pendekatan Dalí dalam menggabungkan unsur sastra dengan ekspresi visual ini menunjukkan betapa lintas batas antara sastra dan seni rupa dapat menghasilkan interpretasi yang baru dan memukau.

Menurut ‘pembacaan’ saya, manakala Dali berkarya rupa untuk “Alice’s Adventures in Wonderland”, tampak Dalí mengeksplorasi berbagai medium seni yang mengandung unsur naratif, sehingga karyanya tidak semata-mata terbatas pada konsep lukisan tradisional, tetapi juga melintasi batasan-batasan disiplin seni.

Keterlibatannya dalam proyek-proyek lintas disiplin ini mengilhami banyak seniman dan pengamat seni untuk mengeksplorasi kembali hubungan antara teks dan visual secara lebih mendalam.

Contoh lain karya Dali dalam merespon karya sastra klasik lainnya, yang cukup terkenal adalah karya rupanya yang merespon “Divine Comedy” karya Dante Alighieri. Dalí awalnya diminta oleh pemerintah Italia untuk membuat karya rupa tersebut.

Ini, dalam rangka peringatan 700 tahun kelahiran Dante, tetapi proyek ini akhirnya tidak digunakan secara resmi. Meskipun begitu, karya yang ia buat tetap menjadi bagian penting dari interpretasi visual terhadap karya sastra klasik.

Dalí juga mengerjakan karya rupa untuk “Don Quixote” karya Miguel de Cervantes, di mana ia menggunakan teknik yang lebih eksperimental dan ekspresif untuk menangkap semangat petualangan dan absurditas dalam kisah tersebut.

Pendekatan Dalí terhadap karya sastra, selalu mencerminkan gaya surealisnya yang khas, dengan simbolisme yang kaya dan interpretasi yang sering kali menggugah imajinasi penikmatnya. Begitulah ke-piawai-an Dali dengan gaya surealisnya.

Tidak hanya Dali, Pablo Picasso juga terinspirasi membuat karya rupa sketsa Don Quixote pada tahun 1955. Karya Pablo Picasso ini tentang pahlawan sastra Spanyol dan sahabat karibnya, Sancho Panza.

Sketsa ini ditampilkan pada jurnal mingguan Prancis Les Lettres Francaises edisi 18-24 Agustus untuk merayakan ulang tahun ke-350 bagian pertama Don Quixote karya Cervantes. Bagian pertama ditulis tahun 1605 yang kedua ditulis tahun 1615.

Mengutip dari https://www.pablopicasso.org/, Lukisan tersebut menggambarkan Don Quixote de la Mancha, kudanya Rocinante, pengawalnya Sancho Panza, dan keledainya Dapple, matahari, dan beberapa kincir angin.

Garis-garis tebal, hampir seperti coretan, yang menyusun figur-figur tersebut tampak mencolok dengan latar belakang putih polos. Sosok-sosok tersebut hampir singkat dan cacat, serta dramatis.

Sancho Panza menatap Don Quixote yang tinggi, memanjang, dan kurus kering. Terlihat, ia sedang menatap ke depan. Don Quixote dan Rocinante berdiri dengan gagah, tetapi tampak agak lelah.

Sosok yang dilukis dengan sapuan kuas tebal itu tampaknya telah diubah beberapa kali karena Picasso melukis badan, lengan, dan bahu Don Quixote, dengan apik. Dalam hal anatomi, kemampuan Picasso tak diragukan lagi memang.

Selain berkarya untuk karya sastra Don Quixote, Picasso juga berkarya seri sketsa berdasarkan mitos “metamorphosis” karya Ovid. Dunia mitologi Yunani-Romawi tampaknya memukau Picasso.

“Metamorfosis” adalah puisi dalam bahasa Latin, yang terdiri dari 15 buku. Ini, merupakan cerita dari mitologi Yunani dan Romawi, yang ditulis dalam bentuk syair. Ovid menggambarkan secara khusus cinta para dewa.

Picasso membuat karya rupa ini pada tahun 1930, setelah diminta oleh penerbit Swiss Albert Skira. Dalam satu bulan, ia menghasilkan tiga puluh ‘cukilan’, yang dicetak oleh Louis Fort.

Tema Metamorfosis sejajar dengan kehidupan Picasso, sosok wanita itu pasti terinspirasi oleh kehidupan pendamping dan inspirasinya saat itu: Marie-Thérèse Walter.

Kekhasan cetakan ini terletak pada kesederhanaannya. Dalam beberapa goresan, Picasso menelusuri jalinan tubuh dan garis yang membangkitkan kembali seni menggambar yang lebih klasik, yang sudah dapat diamati sejak tahun 1920-an.

Begitulah hubungan sastra dan senirupa yang memang sudah terjalin sejak lama. Keduanya, sama-sama media komunikasi – verbal dan visual.

Di Bali sendiri, sudah sering karya sastra ‘bersenyawa’ dengan karya rupa.

Misalnya, ‘senyawa’ antara karya rupa pelukis Made Gunawan dan puisi-puisi penyair Sahadewa pada buku “Gajah Mina”. Prof. Darma Putra menyebut Alih Kreasi Puisi, Lukisan, dan Sketsa ini dengan ‘Pasatmian’.

Semantara itu, perupa I Wayan Sujana ‘Suklu’ juga pernah berkolaborasi dengan penulis Ni Made Sri Andani. Buku Karya alih media itu bertajuk “Sang Inisiator”. Perupa Suklu memang acap membikin karya rupa berdasarkan karya sastra.

Bisa kita simak kolaborasi Perupa Suklu dan penyair Anak Agung Sagung Masruscitadewi juga melakukan ‘senyawa karya’ pada buku berjudul “Nawa Sena”.

Ada rencana, karya rupa ‘Nawa Sena’ dan ‘Sang Inisiator’ akan dipamerkan.

Suklu menamai kolaborasi itu sebagai ‘intermingle’, sedangkan Gung Mas panggilan akrab AA Sg Masruscitadewi – memberi istilah ‘Lango’.

Kendati secara peristilahan berbeda, namun makna keduanya, sama.

Yang terakhir, penyair Tan Lioe Ie mengistilahkan dengan “eksphrasis”, pada karya-karya puisinya yang terstimulasi dari karya senirupa dan karya seni yang lain. Dan masih banyak lagi kolaborasi karya rupa dan sastra, dengan berbagai bidang seni.

Dalam sebuah kesempatan, saya sempat mempertanyakan pada almarhum penyair Frans Nadjira, mengapa senirupa tak dimasukkan dalam perhargaan seni semacam Nobel atau Pulitzer. Pulitzer memberikan penghargaan pada karya potografi

Kendati kualitas penghargaan juga terbilang relative, namun Nobel dan Pulitzer cukup popular dan prestisius. Penghargaan ini, menjadi dambaan para seniman, ilmuwan, dan cendikiawan.

Ketika itu, pada Frans Nadjira, saya sempat menandaskan bahwa sesungguhnyalah karya senirupa tak jauh berbeda dengan seni sastra. Keduanya sama-sama medium ekspresi dari produk pemikiran senimannya.

Kita bisa mengambil contoh karya visual, lukisan Picasso, yang bertajuk Guernica. Menurut saya, karya ini memenuhi kriteria Nobel yang antara lain ; menumbuhkan kesadaran masyarakat melalui pengetahuan, sains, dan humanism.

Karya ini memuat konten yang cukup genial dari Picasso. Dunia, memahami dan mengakui ‘kelebihan’ dari karya rupa ini. Guernica dianggap sebagai pernyataan antiperang paling kuat dalam seni modern.

Picasso mengungkapnya sebagai tindakan brutal dan penghancuran diri serta mengecamnya sebagai tindakan fasisme.

Karya tersebut tidak hanya berupa laporan atau lukisan praktis. Tapi lebih merupakan refleksi intelektual perupanya.

Banyak pengamat mengatakan, karya ini juga menjadi gambaran politik yang sangat kuat untuk seni modern saat itu. Sejak awal, Picasso memilih untuk tidak menggambarkan kengerian Guernica dalam istilah realis atau romantis.

Sayang, penghargaan Nobel hanya ada lima kategori: Fisika, Kimia, Fisiologi atau Kedokteran, Sastra, dan Perdamaian. Ada pula penghargaan Economic Sciences, yang didirikan pada tahun 1968 oleh bank sentral Swedia.

Kriteria penting dari Penghargaan Nobel adalah, pemenang harus memiliki pencapaian luar biasa yang memberikan manfaat besar bagi umat manusia, seperti penelitian inovatif, penemuan teknologi baru, atau kontribusi sosial yang berdampak luas.

Masih menurut penilaian subyektif saya, Guernika memenuhi kriteria ini. Kemudian, bagi karya sastra – karya juga harus memiliki dampak besar dalam dunia sastra dan memberikan wawasan baru tentang kehidupan, kemanusiaan, atau budaya.

Oleh karenanya, banyak pemenang Nobel Sastra adalah penulis yang mengangkat isu sosial, politik, atau kemanusiaan dalam karya mereka. Pada kesempatan lain, saya ingin menggali lebih dalam hubungan antara Guernica, Spanyol dan Hindia Belanda.

Memang, ada banyak penghargaan seni rupa terkenal di dunia yang memberikan apresiasi kepada seniman visual atas kontribusi mereka. Namun, menurut subyekjtif penilaian saya, popularitasnya tak sebanding dengan Nobel dan Pulitzer.

Misalnya penghargaan Turner Prize – Penghargaan seni kontemporer yang diberikan setiap tahun oleh Tate Britain di Inggris, khusus untuk seniman asal Britania Raya. Ruang lingkup penghargaan ini sangat terbatas.

Selain itu ada juga Praemium Imperiale – penghargaan internasional yang diberikan oleh Japan Art Association untuk berbagai disiplin seni, termasuk seni rupa.

Penghargaan ini cukup mendapat apresiasi dari para perupa Internasional, yang cukup popular dan prestisius adalah Venice Biennale Golden Lion – Penghargaan utama dalam Venice Biennale yang merupakan salah satu pameran seni kontemporer paling bergengsi di dunia.

Penghargaan-penghargaan internasional untuk karya seni rupa ini juga menjadi topik dialog saya dengan Bang Frans Nadjira. Namun, Perbincangan saya dan bang Frans Nadjira waktu itu, terputus.

Sebab, saat itu wartawan senior almarhum Mahar Effendi datang bersama putranya. Bang Mahar bersiap therapy pada bang Frans, itu dilakukannya setiap hari. Rasa penasaran saya tersebut mengendap puluhan tahun.

Teman-teman yang saya ajak mendiskusikan hal ini, punya penilaian yang berbeda-beda. Tak ada kesimpulan pasti yang kudapati. Sampai pada acara diskusi 1 Juni 2025 lalu, penjelasan Prof. Darma Putra juga tak bisa saya ‘cerna’ dengan baik.

Persoalannya sederhana, saya sedikit mengalami ‘gangguan’ pendengaran. Sehingga saya gagal menangkap ‘esensi’ pembicaraan (mohon maaf sebesar-besarnya Prof.). Saya tidak tahu, apa yang membuat pendengaran saya terganggu sejak tahun 2025 ini.

Menurut saya, analisis unsur-unsur bahasa visual dalam seni rupa bisa membuka banyak pemahaman tentang bagaimana karya seni “berbicara” tanpa kata. Sebab, seni visual juga memiliki sarana ‘daya ungkap’.

Hal ini sering saya sebut sebagai ‘kosa rupa’. Mungkin, bisa kita padankan dengan ‘kosa kata’, keduanya merupakan perbendaharaan daya ungkap – baik untuk seni visual, maupun seni verbal (sastra).

Atas dasar inilah, hingga kini saya tetap mempertanyakan soal penghargaan terhadap karya seni rupa. Sebab, menurut pemahaman saya – senirupa maupun seni sastra memiliki cara penyampaian pesan yang berbeda, dan perbedaan itu membuat keduanya memiliki kekuatan unik masing-masing.

Keduanya, sama-sama wahana ekspresi atau bisa disebut sebagai produk intelektualitas senimannya. Yang membedakan hanya media ungkapnya saja, visual dan verbal.

Senirupa mengkomunikasikan ide atau gagasan, pesan, imajinasi dan emosi melalui elemen visual seperti warna, bentuk, dan tekstur. Karena pendekatannya yang tidak bergantung pada bahasa, karya seni rupa seringkali dapat langsung dirasakan dan diresapi oleh orang dari berbagai latar belakang budaya.

Mengutip dari buku “Visual Thinking” karya Rudolf Arnheim, ia mengatakan ; “Sangat penting, individu mengeksplorasi bagaimana memahami dan memproses informasi visual dalam seni dan desain”.

Di sisi lain, sastra menyalurkan pengalaman manusia melalui bahasa, narasi, dan struktur cerita yang kompleks. Karya sastra memiliki kekuatan untuk menyelami lapisan-lapisan makna yang mendalam, menggunakan simbolisme dan kiasan yang dapat menuntut pembaca untuk melakukan interpretasi secara intelektual dan kontekstual.

Walaupun penggunaan bahasa dapat menjadi penghalang bagi beberapa invidu – terutama jika ada keterbatasan dalam penerjemahan atau pemahaman konteks budaya – sastra justru menawarkan kekayaan perspektif yang mengungkap nuansa mendalam tentang realitas kehidupan dan pengalaman manusia.

Jadi, apakah senirupa memiliki perspektif yang lebih luas dan universal dibanding sastra?

Secara teknis, seni rupa memang cenderung memiliki keunggulan dalam hal penyampaian pesan secara instan dan non-verbal, yang memungkinkan resonansi emosional secara langsung.

Namun, hal ini tidak mengurangi kekayaan sastra yang mampu menggali kompleksitas pikiran dan budaya secara mendalam. Keduanya menawarkan cara pandang yang berbeda: senirupa menyampaikan kesan secara visual dan intuitif.

Sementara sastra menantang pembacanya untuk aktif menginterpretasikan makna di balik kata-kata. Dalam konteks ini, “luas” dan “universal” bukanlah kategori yang mutlak. Melainkan bergantung pada bagaimana masing-masing individu berinteraksi dengan medium seni dan pengalaman pribadi yang mereka bawa .

Dan yang juga menarik, manakala terjadi ‘senyawa’ kedua bidang seni ini. Penggabungan bahasa verbal dan bahasa visual. Artinya, kemampuan memahami kedua medium – visual dan verbal, menjadi tantangan tersendiri bagi penikmatnya.

Pertanyaan-pertanyaanku yang belum terjawab ini, biarlah terus berkembang di dalam tempurung kepala. Agar aku juga kian paham tentang ‘perbedaan’ yang bisa jadi mengandung ‘persamaan’ dalam hal-hal yang hingga saat ini belum terpikirkan.

(Pemisahan antara persepsi visual dan pemikiran logis adalah kesalahpahaman. Melihat, bukan sekadar menerima informasi, tetapi juga memahami dan memberi makna pada apa yang kita lihat. “Visual Thinking” oleh Rudolf Arnheim)

Sejumlah referensi dan foto-foto diambil dari sejumlah sumber, Klik ini

#Hartanto

https://www.hariankami.com/kami-liputan/23615471690/hartanto-jurnalis-majalah-matra-di-bali-meliput-diskusi-di-sawidjo-studio-denpasar-klik-ini-catatannya