Budaya  

Ketika Hipergami Jadi Awal, Perceraian dan Perselingkuhan Menjadi Akhir

Pasangan Anda Sedang Berselingkuh (1)

MATRANEWS.ID – Hipergami kecenderungan memilih pasangan dengan status sosial, ekonomi, atau pendidikan yang lebih tinggi—menjadi norma sepanjang budaya patriarki Indonesia.

Di satu sisi, pilihan ini dianggap masuk akal. Namun di sisi lain, ia memulai ketidakseimbangan yang berujung pada konflik.

Menurut survei JustDating, sekitar 40% responden di Indonesia mengaku pernah berselingkuh (Reddit, Sentiment).

Dalam konteks ini, wanita cenderung lebih sering terlibat dalam perselingkuhan, yaitu sekitar 32% (Segaris.co)—jauh lebih tinggi dibanding 24% pria (Segaris.co).

Perceraian: Dampak Hipergami dan Ketidaksetaraan Rumah Tangga

Data BPS 2022 mencatat 516.334 kasus perceraian di Indonesia, di mana perselingkuhan menjadi salah satu pemicu utama (Sentiment).

Dengan hipergami sebagai trigger awal—harapan akan pasangan “lebih” yang tidak terpenuhi secara emosional—rumah tangga pun rentan retak.

Fenomena ini diperparah saat ketimpangan gender dan tekanan sosial membuat banyak pasangan tetap bertahan secara formal, meski emosional sudah terkikis.

Akhirnya hubungan yang tidak sehat pun berakhir dengan perpisahan, baik legal maupun emosional.

Perselingkuhan: Tidak Lagi Minor, tapi Masif

Studi di Pematangsiantar menyebut, 32% perempuan bersuami mengaku pernah selingkuh, lebih tinggi dari pria dewasa (Segaris.co).

Motivasi umum: ketidakpuasan emosional, kurangnya perhatian, bahkan rasa ingin dianggap menarik kembali (Segaris.co).

Kesulitan emosional ini mendorong sebagian perempuan mencari “oase” baru—be it pria lain, atau bahkan pasangan muda (“brondong”).

Di sinilah hipergami berubah dari keinginan jadi jebakan emosional.

Kumpul Kebo dan Krisis Normatif

Hilangnya kepercayaan terhadap institusi pernikahan akibat perceraian dan perselingkuhan memunculkan fenomena kumpul kebo—hidup bersama tanpa ikatan resmi.

Studi komunitas mengindikasikan bahwa ini terjadi karena pasangan merasa lebih aman dan tidak usang dalam struktur tradisional (Reddit, Reddit).

Meskipun masih tabu, semakin banyak pasangan yang memilih itu sebagai alternatif daripada menghadapi kendala hukum atau sosial dari perceraian.

Hipergami vs Krisis Relasional Modern

Fenomena hipergami dan krisis relasional saling memperkuat:

  1. Hipergami menciptakan ekspektasi berlebih.
  2. Kecewa akan ekspektasi memicu ketidakpuasan.
  3. Ketidakpuasan emosional mendorong perselingkuhan.
  4. Perselingkuhan menumbuhkan mistrust, banyak berujung cerai atau kumpul kebo.

Hipergami bukan hanya soal mencari pasangan “lebih”, tetapi juga cerminan struktur sosial yang membentuk ekspektasi, tidak keseimbangan, dan resesi emosional.

Narasi Sosial dan Kesadaran Kolektif

“Perselingkuhan bukan sekadar pelarian, tapi pencarian emosi dan validasi yang hilang dalam relasi yang tidak setara.” (Radar Selatan, Konvergensi Majalah MATRA)

Pernyataan ini mengingatkan bahwa akar persoalan bukan hanya loyalitas pasangan, tetapi kurangnya komunikasi, pengakuan, serta distribusi peran yang adil.

Redefinisi Relasi di Era Baru

Hipergami boleh jadi berasal dari naluri alami, tapi dalam masyarakat modern—dengan perempuan mandiri dan pilihan menikah fleksibel—kita perlu redefinisi relasi: bukan “lebih tinggi”, tapi lebih setara, lebih empatik, dan lebih seimbang.

📌 Untuk mengurangi perceraian dan perselingkuhan, serta mencegah retaknya keluarga:

  • Perlu pendidikan relasi sejak dini (emosi, komunikasi, etika).
  • Perlu pendekatan terapi keluarga dan layanan konseling nasional.
  • Perlu narasi alternatif yang menekankan kualitas, bukan status pasangan.

Dengan meluruskan ekspektasi dan membangun pondasi relasi yang sehat, kita bisa mengubah hipergami dari palang emas menjadi langkah bijak menuju keluarga yang kuat dan sejahtera.