Kronologi Lengkap: Komunitas Fotografer Tebet Eco Park Tegaskan Tak Pernah Larang Aktivitas Fotografi

Heboh di Tebet Eco Park! Komunitas Fotografer Disebut Larang Motret — Ini Kronologi Lengkap yang Bikin Kaget: Ternyata Tak Pernah Ada Pelarangan! “Kami ingin ruang yang sehat bagi sesama pekerja foto,” kata mereka dalam pernyataannya, “dan taman yang nyaman bagi siapa pun yang berolahraga atau berkreasi di Tebet Eco Park.”

MATRANEWS.id Tebet Eco Park dan Tuduhan Pelarangan Fotografi yang Tak Pernah Ada

Sinar matahari baru merayap di antara dedaunan Tebet Eco Park, Kamis pagi, 16 Oktober 2025.

Sekitar pukul 06.30, seorang pengunjung bernama AM memasuki taman lewat pintu utama. Ia berjalan menuju Plaza Selatan dan berhenti di depan pintu toilet pria.

Tak ada yang istimewa pagi itu—hingga sebuah teguran kecil memantik gelombang panjang kesalahpahaman yang berujung di pemberitaan media nasional.

Beberapa jam kemudian, sekitar pukul tujuh, seorang anggota komunitas fotografer Tebet Eco Park berniat menyapa AM.

Maksudnya sederhana: mengingatkan tentang prosedur izin bila hendak melakukan pemotretan komersial di area taman.

Apa lacur, percakapan yang diharapkan hangat berubah tegang. Nada tinggi terdengar, dan anggota komunitas pun memilih mengundurkan diri, meninggalkan lokasi.

Siang hari, pukul 13.00, situasi mulai melebar di dunia maya. Akun Instagram @sarangeditor.id memuat unggahan terkait Tebet Eco Park.

Kolom komentarnya panas, terutama setelah akun @CFDPeople menyinggung persoalan perizinan foto, dibalas oleh akun @tustel_parfoto, hingga menyebut akun admin komunitas fotografer taman.

Tak sampai sore, pukul 16.30, pihak pengelola taman memanggil komunitas untuk klarifikasi.

Esoknya, Jumat, 17 Oktober, pertemuan digelar di kantor pengelola Tebet Eco Park. Camat Tebet turut hadir, menyinggung isu lama: dugaan pungutan liar di area taman.

Kronologisnya, setelah penjelasan dan arahan dari pihak pengelola, pertemuan ditutup dengan foto bersama—tanda damai.

Selesai di situ? Ternyata tidak.

Usai pertemuan, admin komunitas berinisiatif menemui AM secara langsung.

Pukul 11.30 siang, mereka bertemu di Plaza Kuningan. Pertemuan berlangsung baik: kedua pihak saling menjelaskan, saling memahami, bahkan bersalaman tanda damai.

Dan, tiga hari kemudian, Minggu, 19 Oktober 2025, muncul berita di Kompas.com berjudul “Tegur Pengunjung yang Motret, Komunitas Fotografer Tebet Eco Park Minta Maaf”.

Isi berita itu, menurut komunitas, hanya memuat keterangan dari satu pihak—tanpa memberikan ruang bagi mereka untuk menjelaskan duduk perkaranya.

Tak lama, pihak pengelola kembali memanggil komunitas untuk bertemu dengan perwakilan Kompas, Dinas Pertamanan, dan pengelola taman.

Komunitas pun beritikad baik: mereka mengundang AM untuk hadir bersama menyelesaikan persoalan.

Yang terjadi pada Selasa pagi, 21 Oktober 2025, ketika mereka datang ke kantor pengelola, yang menunggu justru para wartawan.

Terjadilah konferensi pers spontan, di mana Hadi, admin komunitas, mewakili rekan-rekannya memberikan keterangan.

Ironisnya, baik AM maupun pihak Kompas tidak hadir.

Setelah itu, arus di media sosial berubah deras dan ganas.

Identitas Hadi tersebar luas. Akunnya di platform FotoYu diblokir dan masuk daftar hitam. Akun Instagram-nya juga ikut diblokir.

Beberapa anggota komunitas fotografer Tebet Eco Park pun ikut kena getah—dihujani komentar dan teror dari warganet.

Di tengah badai digital itu, komunitas fotografer Tebet Eco Park mengeluarkan pernyataan resmi. Mereka menegaskan tidak pernah melarang kegiatan fotografi di area taman, apalagi melakukan pungutan liar.

Yang mereka lakukan selama ini hanyalah menjaga keteraturan—terutama bagi aktivitas komersial yang memerlukan izin dari pengelola taman, sesuai aturan yang berlaku.

“Angka tertentu baru muncul ketika seseorang ingin bergabung menjadi anggota komunitas,” jelas mereka. “Itu pun bersifat sukarela, bukan pungutan.”

Kini, mereka hanya berharap nama baik Hadi Pranoto dapat dipulihkan, dan publik kembali melihat komunitas fotografer Tebet Eco Park sebagaimana mestinya: kumpulan pencinta foto yang ingin berbagi ruang dan menjaga harmoni taman kota.

“Kami ingin ruang yang sehat bagi sesama pekerja foto,” kata mereka dalam pernyataannya, “dan taman yang nyaman bagi siapa pun yang berolahraga atau berkreasi di Tebet Eco Park.”

Kisah ini menjadi pengingat: di era media sosial, salah paham bisa menjalar lebih cepat daripada cahaya pagi di antara pepohonan Tebet.

Dan seperti taman itu sendiri, kebenaran pun butuh dirawat—agar tetap tumbuh jernih di tengah riuhnya kabar yang simpang siur.

  • Kronologi Tebet Eco Dengan Detil Bahwa Tidak Pernah Ada Pelarangan Berkegiatan Fotografi, Klik ini