MATRANEWS.id — Negara Hadir, Harapan Tumbuh
Kunjungan Berulang Presiden Prabowo dan Psikologi Warga Pascabencana di Sumatra
Air bah memang surut. Namun trauma tidak pernah benar-benar pergi dengan cepat. Di sejumlah wilayah terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, bekas banjir masih tertinggal di dinding rumah, di sawah yang gagal panen, dan di wajah-wajah warga yang kelelahan.
Di ruang inilah, kehadiran negara diuji—bukan lewat pidato, melainkan lewat kehadiran.
Ketika Presiden Prabowo Subianto kembali menjejakkan kaki untuk ketiga kalinya di wilayah terdampak, sambutan warga tidak lagi sekadar formal.
Tangis pecah. Doa terucap lirih. Anak-anak berebut mendekat. Sebagian warga hanya ingin memastikan satu hal: mereka tidak dilupakan.
“Kalau Presiden datang lagi, berarti kami masih diingat,” kata seorang ibu di lokasi pengungsian, suaranya nyaris tenggelam oleh riuh warga yang berkerumun.
Kepemimpinan yang Datang Kembali
Dalam tradisi politik Indonesia, kunjungan presiden ke lokasi bencana bukan hal baru. Yang jarang adalah kunjungan berulang—datang, pergi, lalu kembali lagi.
Bagi warga, pola ini dibaca bukan sebagai agenda seremonial, melainkan sebagai isyarat kesinambungan.
Presiden tidak hanya melihat puing-puing, tetapi memastikan janji ditagih oleh kenyataan. Ia datang untuk mengecek ulang, mendengar kembali, dan memperbarui komitmen.
Di titik inilah, kepemimpinan tidak lagi tampil sebagai otoritas dari jauh, melainkan sebagai kehadiran yang konsisten.
“Presiden datang bukan sekadar melihat, tetapi mendengar dan memastikan,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat.
Modal Sosial Bernama Kepercayaan
Antusiasme warga bukan sekadar reaksi emosional. Ia adalah modal sosial—sesuatu yang tak tercantum dalam anggaran, namun menentukan kecepatan pemulihan.
Ketika warga percaya bahwa negara hadir, kecemasan mereda. Rumor kehilangan daya. Ketegangan sosial menurun.
Di tenda-tenda darurat, kehadiran Presiden memberi jangkar psikologis.
Negara, dalam wujud paling konkret, hadir di hadapan mereka. Bukan lewat podium tinggi, melainkan melalui dialog tanpa jarak: duduk sejajar, mendengar keluhan, dan menyimak harapan.
Pemulihan pascabencana, dalam konteks ini, bukan hanya soal jembatan dan rumah. Ia juga tentang memulihkan rasa aman—bahwa esok masih layak diperjuangkan.
Harapan sebagai Titik Balik
Bagi anak-anak yang tersenyum saat disapa, bagi lansia yang menggenggam tangan Presiden sambil berdoa, kunjungan itu menjadi penanda waktu: ada “sebelum” dan “sesudah”.
Antusiasme warga diframing bukan sebagai euforia, melainkan sebagai titik balik psikologis.
Di tengah kehilangan, harapan menjadi fondasi awal. Dan harapan tumbuh ketika negara tidak hanya hadir sekali, tetapi kembali—lagi dan lagi.
Di Saat Sulit, Pemimpin Hadir sebagai Manusia
Yang paling diingat warga bukanlah instruksi teknis, melainkan gestur sederhana: mendengar tanpa memotong, menatap mata warga, dan berada di tengah mereka tanpa jarak simbolik.
Di saat seperti ini, kepemimpinan menemukan bentuknya yang paling manusiawi.
Kunjungan berulang Presiden ke wilayah bencana di Sumatra menjadi pesan sunyi namun tegas: bencana tidak memutus ikatan negara dan rakyat.
Dan di tengah lumpur serta kehilangan, kehadiran itulah yang menumbuhkan kembali harapan.






