MATRANEWS.ID – Kabar duka datang dari keluarga besar almarhum Jenderal Polisi (Purn) Hoegeng Iman Santoso. Sang istri, Meriyati Roeslani Hoegeng, atau yang akrab dikenal sebagai Eyang Meri, meninggal dunia di usia 100 tahun, (3/2/26).
Kepergiannya kembali mengingatkan publik pada satu hal yang selama ini melekat pada keluarga Hoegeng: hidup sederhana dan menjauh dari penyalahgunaan jabatan.
Prosesi pemakaman berlangsung dengan suasana tenang dan penuh penghormatan di TPU Giritama, Tonjong, Kabupaten Bogor. Sejumlah tokoh hadir memberikan penghormatan terakhir, termasuk Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Kehadiran pimpinan Polri itu menunjukkan bahwa almarhumah bukan sekadar istri tokoh besar, tetapi juga bagian dari sejarah moral institusi kepolisian.
Banyak orang mengenal Hoegeng sebagai polisi paling jujur yang pernah dimiliki Indonesia. Namun di balik keteguhan prinsip sang jenderal, ada sosok Eyang Meri yang selama puluhan tahun ikut menjaga agar keluarganya tetap hidup sederhana, meski berada di lingkaran kekuasaan.
Kesederhanaan yang Dijaga Seumur Hidup
Putra bungsunya, Aditya Soetanto Hoegeng atau Didit, mengenang ibunya sebagai sosok yang selalu menekankan pentingnya hidup apa adanya.
Ia mengatakan, pesan itu tidak hanya disampaikan lewat nasihat, tetapi benar-benar dijalani.
Menurut Didit, sang ibu selalu mengingatkan bahwa fasilitas negara tidak boleh digunakan untuk urusan pribadi.
Jabatan, katanya, adalah amanah, bukan kesempatan untuk mencari kenyamanan keluarga.
Cerita lama yang kembali ramai dibicarakan publik adalah bagaimana keluarga Hoegeng tetap hidup sederhana saat sang jenderal menjabat.
Bahkan Eyang Meri sempat berjualan bunga untuk membantu kebutuhan rumah tangga.
Ia memilih bekerja daripada menerima pemberian yang tidak jelas asal-usulnya.
Bagi keluarga, prinsip itu bukan pencitraan. Itu memang cara hidup yang dipilih dan dijaga sejak awal.
Karena itulah, nama Hoegeng tetap dikenang sampai sekarang sebagai simbol kejujuran.
Pesan yang Selalu Diingat Polri
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengaku memiliki kesan pribadi terhadap almarhumah.
Ia mengatakan, setiap kali bertemu, Eyang Meri selalu menitipkan pesan agar anggota Polri menjadi teladan bagi masyarakat.
Pesan tersebut sederhana, namun berat dijalankan. Menurut Kapolri, teladan pribadi jauh lebih kuat daripada sekadar aturan atau slogan institusi.
Sebagai bentuk penghormatan, Kapolri juga mengusulkan pemberian penghargaan Bintang Bhayangkara Utama kepada almarhumah.
Bagi banyak pihak, penghargaan itu menjadi pengakuan bahwa menjaga integritas keluarga pejabat juga memiliki dampak besar terhadap nama baik institusi negara.
Duka dan Penghormatan dari Daerah
Rasa kehilangan juga dirasakan masyarakat di berbagai daerah, salah satunya Kota Pekalongan. Kota itu punya kenangan tersendiri dengan Jenderal Hoegeng yang pernah bertugas di sana.
Pemerintah Kota Pekalongan mengibarkan bendera Merah Putih setengah tiang selama tiga hari sebagai bentuk penghormatan.
Banyak warga mengenang keluarga Hoegeng sebagai pejabat yang hidup sederhana dan dekat dengan masyarakat.
Bagi warga setempat, keluarga Hoegeng bukan pejabat yang menciptakan jarak dengan rakyat.
Mereka hidup biasa saja, tidak menunjukkan kemewahan, dan tetap bergaul dengan masyarakat seperti warga lainnya.
Menyaksikan Satu Abad Perjalanan Negeri
Lahir pada 1925, Eyang Meri menjalani hidup di berbagai fase sejarah Indonesia.
Ia menyaksikan masa perjuangan kemerdekaan, pergantian rezim, hingga era digital seperti sekarang. Namun gaya hidupnya tetap sama: sederhana dan jauh dari kemewahan.
Sejumlah kalangan pendidikan bahkan menilai kisah hidupnya layak dijadikan contoh pembelajaran karakter bagi generasi muda.
Di tengah tren gaya hidup mewah yang sering dipamerkan di media sosial, kehidupan Eyang Meri terasa seperti pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari harta.
Ia menunjukkan bahwa hidup tenang bisa diraih ketika seseorang tidak membawa beban moral terhadap orang lain.
Hidup cukup, jujur, dan tidak mengambil yang bukan haknya menjadi prinsip yang ia pegang sampai akhir hayat.
Warisan Nilai yang Tidak Boleh Hilang
Kepergian Eyang Meri seolah menutup satu generasi yang dikenal kuat memegang kesederhanaan. Namun nilai yang ia tinggalkan justru terasa semakin penting untuk diingat saat ini.
Keluarga dan berbagai pihak berharap pesan hidup sederhana, jujur, dan tidak menyalahgunakan fasilitas negara tetap diteruskan kepada generasi berikutnya.
Nilai inilah yang dulu membentuk reputasi Hoegeng, dan kini kembali diingat lewat sosok pendamping hidupnya.
Eyang Meri memang telah berpulang, tetapi cerita hidupnya tetap hidup di tengah masyarakat.
Ia meninggalkan pelajaran bahwa integritas bukan hanya milik pejabat, melainkan dimulai dari keluarga dan pilihan hidup sehari-hari.
Kini, masyarakat hanya bisa melepasnya dengan doa. Harapannya satu: semoga nilai kejujuran dan kesederhanaan yang ia wariskan tidak ikut hilang bersama kepergiannya.







