AkalSuluh Jadi Media Peter F. Gontha Di Tengah Riuh Podcast Digital

MATRANEWS.id #AkalSuluh Jadi Media Peter F.Gontha, menjaga nalar di tengah kebisingan zaman

Di sebuah lanskap digital yang riuh—ketika opini diproduksi secepat jempol bergerak dan perdebatan kerap berakhir tanpa makna—Peter F. Gontha justru memilih jalur sunyi.

Ia tidak lagi berdiri di balik gemerlap studio televisi seperti saat membidani RCTI atau SCTV. Kini, ia hadir lewat kanal yang lebih tenang, nyaris kontemplatif: AkalSuluh.

Bagi Gontha, ini bukan sekadar kanal digital. Ini semacam ruang jeda—tempat percakapan dipulihkan dari kegaduhan.

“Kita terlalu cepat berpendapat, terlalu lambat memahami,” ujar Gontha dalam percakapan dengan majalah MATRA, suatu sore yang lengang.

Nada bicaranya datar, nyaris seperti seorang pengamat yang sudah terlalu lama menyaksikan siklus yang sama berulang.

Melawan Arus yang Terlalu Cepat

AkalSuluh lahir dari kegelisahan yang tidak mendadak. Ia tumbuh dari pengamatan panjang seorang pelaku media yang pernah berada di pusat arus utama.

“Dulu, tantangannya adalah bagaimana membuat orang menonton. Sekarang, tantangannya justru bagaimana membuat orang berhenti sejenak,” katanya.

Di tengah algoritma yang mengutamakan kecepatan dan sensasi, AkalSuluh justru bergerak sebaliknya: pelan, dalam, dan tidak reaktif.

Gontha menyadari, ruang publik hari ini cenderung kehilangan konteks. Orang berbicara sebelum memahami. Berdebat tanpa tujuan. Bahkan, menurutnya, “percakapan sering kali hanya menjadi ajang menang-menangan.”

AkalSuluh, kata dia, mencoba mengembalikan martabat dialog itu.

Bukan Podcast, Tapi Kurasi Pikiran

Gontha menolak menyebut AkalSuluh sebagai podcast dalam pengertian populer. Ia lebih suka menyebutnya sebagai “kurasi pemikiran”.

Topik yang diangkat tidak tunduk pada tren. Politik dibahas untuk memahami kebijakan, bukan sekadar konflik. Ekonomi dikupas untuk mencari pijakan rasional, bukan euforia sesaat.

Ia juga memberi ruang pada hal-hal yang kerap dianggap “pinggiran”: musik, budaya, bahkan olahraga—semuanya ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem berpikir.

Mungkin ini tidak mengejutkan, mengingat latar belakangnya. Selain dikenal sebagai pengusaha dan diplomat—pernah menjadi Duta Besar RI untuk Polandia—Gontha juga adalah motor di balik Java Jazz Festival, salah satu festival jazz terbesar di dunia.

“Musik itu juga cara berpikir,” katanya. “Ia mengajarkan harmoni, bukan dominasi.”

Dari Wall Street ke Ruang Sunyi

Perjalanan Gontha sendiri nyaris seperti narasi klasik: dari awak kapal pesiar, meniti karier finansial global di Citibank dan American Express, hingga menjadi arsitek industri media Indonesia.

Ia ikut membangun ekosistem televisi swasta nasional, lalu beralih ke sektor industri, diplomasi, hingga BUMN—termasuk perannya di Garuda Indonesia.

Namun justru setelah semua itu, ia memilih medium yang paling sederhana: percakapan.

“Semakin banyak pengalaman, justru semakin sadar bahwa kita tidak tahu segalanya,” ujarnya.

Popularitas Tanpa Sensasi

Menariknya, AkalSuluh justru mulai mendapat perhatian publik. Di salah satu platform media, artikel tentangnya sempat menempati posisi terpopuler—mengalahkan isu politik dan ekonomi yang biasanya mendominasi.

Fenomena ini, bagi Gontha, bukan sesuatu yang perlu dirayakan berlebihan.

“Itu hanya indikator kecil,” katanya. “Yang penting bukan ramai atau tidak, tapi apakah ada yang tercerahkan.”

PFG sadar betul, popularitas di era digital sering kali tidak berkorelasi dengan kedalaman.

Akal Suluh dianggap ruang berpikir, bukan sekedar podcast biasa. Jika AkalSuluh mendapat tempat, mungkin karena ia menawarkan sesuatu yang kini langka: kejernihan.

Konsepnya Justru Melawan Arus Konten Viral yang Cepat dan Dangkal

Pada akhirnya, AkalSuluh bukan proyek media biasa. Ia lebih menyerupai sikap.

Sikap untuk tidak tergesa-gesa. Sikap untuk mendengar sebelum berbicara. Dan mungkin, sikap untuk tetap percaya bahwa akal sehat masih punya tempat di ruang publik.

“Kalau kita berhenti berpikir,” kata Gontha pelan, “kita berhenti menjadi bangsa yang dewasa.”

Di era ketika perhatian adalah komoditas, AkalSuluh justru meminta sesuatu yang lebih mahal: kesediaan untuk berpikir.

Dan di situlah, barangkali, letak kekuatannya.