MATRANEWS.id — Jejak Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia pertama di Era Digital
Di sebuah jelang siang, yang masih menyisakan sisa-sisa embun, Auditorium BTI Gedung Jenderal Soedirman di kampus Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta mulai dipadati mahasiswa. Jumat, 17 April 2026, ruang di lantai empat itu menjadi tempat bertemunya sejarah dan masa depan.
Ganang P. Soedirman—cucu dari Jenderal Soedirman—berdiri di podium, membawa satu gagasan yang terdengar klasik sekaligus mendesak: bagaimana meneladani kepemimpinan sang panglima dalam lanskap generasi digital.
Kuliah umum yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 11.00 WIB ini merupakan hasil kerja sama antara Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi bersama UPN “Veteran” Jakarta. Namun, yang mengemuka bukan sekadar seremoni akademik.
Ganang mengajak audiens menengok kembali sosok Soedirman bukan sebagai figur patung sejarah, melainkan sebagai energi moral yang hidup.
“Yang kita warisi bukan hanya kisah perang gerilya,” ujarnya, “tetapi keberanian untuk bersikap muda—bahkan radikal—dalam arti berpikir dan bertindak demi bangsa.”
Di tengah derasnya arus teknologi, kata Ganang, generasi muda menghadapi tantangan yang berbeda, tetapi esensinya serupa: panggilan untuk berbakti.
Jika pada 1945 tokoh-tokoh seperti Soekarno, Mohammad Hatta, dan Agus Salim menjawab sejarah dengan keberanian politik, maka generasi hari ini dituntut menjawabnya dengan kecakapan digital, integritas, dan keberpihakan pada kepentingan publik.
Ganang menekankan pentingnya “jiwa muda Soedirman”—sebuah sikap yang tidak tunduk pada keadaan, melainkan membentuk keadaan.
Cucu dari Jenderal Soedirman ini mengingatkan bahwa sejarah memiliki kecenderungan berulang, tetapi selalu dalam wajah yang berbeda.
Di sinilah, menurutnya, momentum menuju Indonesia Emas 2045 menjadi relevan. “Tahun 2045 adalah milik kalian,” katanya kepada para mahasiswa. “Tanggung jawab itu tidak bisa diwariskan begitu saja. Ia harus dijawab, seperti para pendiri bangsa menjawab zamannya.”
Kuliah itu ditutup tanpa gegap gempita. Hanya tepuk tangan panjang dan, mungkin, sedikit kegelisahan yang tertinggal di benak peserta. Sebab pesan yang disampaikan terasa sederhana, tetapi tidak ringan: tantangan akan selalu ada, dan sejarah tidak pernah menunggu mereka yang ragu.
Di luar gedung Universitas Pembangunan Nasional veteran Jakarta, hari sudah beranjak siang. Namun, bagi sebagian mahasiswa yang hadir, barangkali ada sesuatu yang baru saja dimulai.








