
MATRANEWS.id — Di ujung utara Indonesia, di sebuah pulau kecil yang berbatasan langsung dengan Filipina, Presiden Prabowo Subianto berdiri di tengah anak-anak sekolah Pulau Miangas.
Suasana yang biasanya sunyi mendadak riuh ketika kepala negara itu ikut bernyanyi bersama mereka.
Di sela lagu dan tawa anak-anak, terselip pesan yang lebih besar: negara ingin hadir lebih dekat di wilayah terluar republik.
Kunjungan Prabowo ke Pulau Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, Sabtu, 9 Mei 2026, bukan sekadar agenda seremonial.
Dalam lawatan itu, ia meninjau langsung kondisi infrastruktur dasar dan layanan publik, mulai dari bandara, sekolah, hingga pusat kesehatan masyarakat (puskesmas).
Di hadapan warga, Prabowo menegaskan pemerintah akan memperkuat konektivitas digital di kawasan perbatasan dengan menyalurkan bantuan ponsel pintar dan layanan internet satelit Starlink untuk masyarakat Miangas.
“Ada Menteri Meutya di sini, Ibu Meutya adalah Menteri Komdigi, Komunikasi dan Digital, dan beliau akan memberi handphone. Ada Starlink dan handphone untuk semua KK,” ujar Prabowo, merujuk pada Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid yang mendampinginya.
Langkah itu disebut sebagai bagian dari upaya pemerintah memperkecil kesenjangan digital antara wilayah perkotaan dan daerah terluar.
Di kawasan seperti Miangas, keterbatasan akses internet selama ini bukan hanya menyulitkan komunikasi warga, tetapi juga membatasi layanan pendidikan, kesehatan, dan aktivitas ekonomi.
Dalam peninjauan ke sekolah-sekolah, Prabowo mengaku melihat program revitalisasi pendidikan mulai berjalan.
Beberapa ruang kelas, kata dia, telah dilengkapi panel interaktif digital sebagai bagian dari modernisasi pembelajaran di daerah terpencil.
Namun kondisi berbeda ia temukan di fasilitas kesehatan. Saat mengunjungi puskesmas, Prabowo mendapat laporan bahwa bangunan tersebut belum pernah diperbaiki selama bertahun-tahun.
“Tadi saya lihat beberapa tempat puskesmas. Menteri Kesehatan tadi bisik-bisik ke saya, ‘Pak, sekian tahun sejak zaman Pak Harto puskesmas belum pernah diperbaiki’. Kita perbaiki semua puskesmas di Indonesia, segera,” katanya.
Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa pembangunan kawasan perbatasan tak lagi semata berbicara soal keamanan wilayah, tetapi juga kualitas hidup masyarakat yang tinggal di garis terdepan Indonesia.
Bagi warga Miangas, kedatangan presiden mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun janji mengenai sekolah yang lebih layak, puskesmas yang diperbaiki, dan akses internet yang menjangkau pulau terpencil memberi harapan bahwa jarak geografis tidak lagi identik dengan keterisolasian.
Di pulau kecil yang selama ini lebih sering disebut sebagai titik paling utara Indonesia, negara kini mencoba menunjukkan kehadirannya—bukan hanya lewat batas peta, melainkan lewat layanan publik yang nyata.







