Negeri yang Bertengkar dengan Bayangannya, Oleh: SS Budi Raharjo MM (Pengamat Sosial)

MATRANEWS.idNegeri yang Bertengkar dengan Bayangannya, Oleh: SS Budi Raharjo MM (Pengamat Sosial)

Tanpa sengaja, saya membayangkan kembali percakapan dua anak muda di sebuah kafe pada malam yang basah.

Yang satu pesimis. Yang satu optimis.

Yang pesimis melihat utang negara, pabrik tutup, pengangguran, sawah yang makin sempit, kelas menengah yang turun pelan-pelan seperti pasir longsor. Baginya, Indonesia sedang berjalan menuju jurang dengan langkah yang justru terasa semakin percaya diri.

Yang optimis tersenyum. Demokrasi, katanya, tetap hidup. Pendidikan membaik. Anak-anak muda makin kreatif. Investasi asing masih datang. Lapangan kerja baru lahir dari teknologi yang dulu tak pernah kita bayangkan. Indonesia terlalu besar untuk gagal.

Saya mendengarkan dua-duanya.

Dan seperti biasa, di negeri ini, dua-duanya bisa benar pada saat bersamaan.

Itulah Indonesia: negeri yang sering bertengkar dengan bayangannya sendiri.

Pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR kemarin menarik justru karena ia mencoba menjahit dua wajah Indonesia itu sekaligus.

Di satu sisi, ia berbicara dengan nada optimistis: pertumbuhan ekonomi 6 persen, industrialisasi, hilirisasi, swasembada pangan, koperasi desa, energi surya, mobil nasional, hingga mimpi Indonesia menjadi ekonomi keempat terbesar dunia pada 2045.

Tetapi di sisi lain, ia justru membongkar sesuatu yang jarang dibuka terang-terangan oleh seorang presiden di depan parlemen: kebocoran.

Ia menyebut under-invoicing. Transfer pricing. Penyelundupan. Pelarian devisa. Bahkan “deep state”. Kata-kata yang biasanya hanya beredar di seminar tertutup atau obrolan para ekonom yang frustrasi.

Prabowo terdengar bukan seperti kepala negara yang sedang merayakan capaian. Ia lebih mirip auditor yang baru selesai membuka gudang tua penuh tikus.

Dan mungkin memang itu inti pidatonya: Indonesia bukan negara miskin. Indonesia hanya terlalu lama bocor.

Kalimat itu penting.

Sebab selama bertahun-tahun kita hidup dengan paradoks yang aneh. Ekonomi tumbuh, tetapi keresahan sosial ikut tumbuh. Gedung bertambah tinggi, tetapi isi dompet rakyat biasa terasa tetap pendek. Statistik terlihat sehat, tetapi banyak keluarga hidup dengan rasa cemas yang diam-diam permanen.

Prabowo bahkan mengutip sesuatu yang jarang diucapkan penguasa dengan jujur: ekonomi Indonesia tumbuh 35 persen dalam tujuh tahun terakhir, tetapi angka kemiskinan justru naik dan kelas menengah menurun.

Kalimat seperti itu biasanya membuat pasar gelisah.

Tetapi justru di situ menariknya.

Ia sedang mencoba memindahkan diskusi dari sekadar “berapa pertumbuhan” menjadi “siapa yang menikmati pertumbuhan”.

Dan itu pertanyaan paling penting abad ini.

Dulu, ketika dunia masih industrial, ukuran keberhasilan negara relatif sederhana: bangun pabrik, buka jalan, tarik investasi, selesai. Tetapi ekonomi global hari ini bergerak lebih licin.

Yang kaya bukan lagi hanya pemilik tambang atau pemilik tanah, melainkan pemilik pengetahuan, teknologi, data, dan jaringan.

Robert Reich pernah menyebut kelompok ini sebagai “symbolic analysts” — para analis simbol. Orang-orang yang hidup dari kemampuan berpikir, merancang, menghubungkan, memecahkan masalah, dan menjual gagasan.

Mereka bisa hidup di mana saja.

Seorang programmer di Bandung bisa bekerja untuk perusahaan California. Musisi Indonesia bisa terkenal lewat Seoul. Animator dari Jogja bisa membuat film untuk Tokyo. Wartawan bisa menulis untuk pembaca global. Konsultan bisa menjual strategi lintas negara.

Kelompok inilah yang relatif tenang menghadapi krisis nasional. Negara kacau sedikit, mereka masih bisa bertahan. Mata uang jatuh, mereka tetap punya akses pasar global.

Tetapi masalah sebuah bangsa bukan pada segelintir jagoan itu.

Masalahnya adalah: berapa banyak rakyat biasa yang ikut naik kelas?

Di sinilah pidato Prabowo menjadi penting sekaligus berbahaya.

Penting karena ia bicara soal pemerataan, soal negara hadir, soal kebocoran yang harus ditutup, soal keberanian mengendalikan sumber daya alam sendiri.

Berbahaya karena sejarah menunjukkan: hampir semua negara berkembang pernah jatuh pada godaan nasionalisme ekonomi yang terdengar heroik di podium tetapi rumit di lapangan.

Menjadikan BUMN sebagai eksportir tunggal sawit, batu bara, dan ferro-alloys misalnya. Secara teori, itu bisa memperkuat pengawasan. Bisa menambah penerimaan negara. Bisa mencegah manipulasi harga.

Tetapi teori selalu lebih rapi daripada praktik.

Sebab pertanyaan berikutnya sederhana: siapa yang mengawasi pengawas?

Indonesia punya bakat besar membuat lembaga baru yang akhirnya ikut bocor.

Prabowo tampaknya sadar itu. Karena berkali-kali ia bicara tentang birokrasi yang lamban, pungli, bea cukai, ASN yang kebal, hingga aparat yang menjadi “beking”.

Itu pengakuan yang keras.

Dan publik sebenarnya sudah lama tahu.

Orang kecil di negeri ini bukan tidak patriotik. Mereka hanya lelah melihat terlalu banyak pidato besar berakhir menjadi proyek kecil-kecil untuk kelompok yang sama.

Maka pertaruhannya sekarang bukan lagi pada pidato.

Melainkan pada eksekusi.

Bisakah negara benar-benar membersihkan kebocoran? Bisakah hukum berlaku pada pemain besar? Bisakah industrialisasi berjalan tanpa menjadi ladang rente baru? Bisakah koperasi desa menjadi alat produksi, bukan sekadar baliho politik?

Dan yang paling penting: bisakah negara menciptakan lebih banyak “analis simbol” baru dari desa-desa dan kota kecil Indonesia?

Karena pada akhirnya, kemakmuran modern bukan hanya soal sumber daya alam. Banyak negara kaya tambang tetap miskin. Banyak negara miskin sumber daya justru kaya teknologi.

Yang menentukan masa depan bukan apa yang ada di bawah tanah.

Tetapi apa yang ada di dalam kepala manusia.

Prabowo tampaknya mengerti itu ketika bicara tentang guru, pendidikan, entrepreneurship, dan anak muda yang jangan hanya bercita-cita menjadi ASN.

Kalimat itu terasa sederhana. Tetapi mungkin justru paling revolusioner.

Karena terlalu lama kita membangun budaya aman, bukan budaya unggul.

Anak-anak terbaik dibesarkan untuk mencari kursi stabil, bukan menciptakan risiko baru.

Padahal abad ini milik mereka yang berani bersaing secara global.

Mungkin itulah sebabnya saya teringat lagi dua anak muda di kafe malam itu.

Yang pesimis sebenarnya takut kehilangan masa depan.

Saya yang optimis.  Yang optimis sebenarnya sedang mempertahankan harapan.

Dan Indonesia selalu hidup di antara keduanya.