Orang Bijak Tidak Tergesa, Tapi Tidak Berhenti Melangkah, oleh: Jojo Media Coach

MATRANEWS.idOrang Bijak Tidak Tergesa, Tapi Tidak Berhenti Melangkah

Saya teringat seorang tua di kampung. Jalannya pelan. Sangat pelan. Kalau naik sepeda motor, mungkin ia akan disalip semua orang. Kalau ikut lomba lari, pasti kalah sebelum mulai.

Tapi anehnya, hidupnya tidak pernah berantakan.

Sawahnya tetap panen. Anak-anaknya sekolah. Tetangganya hormat. Dan ketika ia bicara, orang memilih diam mendengarkan.

Dulu saya heran. Di zaman orang berlomba cepat seperti sekarang, mengapa orang yang lambat justru tampak lebih tenang?

Kini saya mulai paham. Karena hidup ternyata bukan soal siapa yang paling cepat sampai. Tetapi siapa yang paling lama mampu berjalan tanpa kehilangan dirinya sendiri.

Hari ini orang mudah sekali tergesa. Semua ingin instan. Karier instan. Kaya instan. Terkenal instan. Bahkan bijak pun ingin instan.

Media sosial mempercepat semuanya. Orang baru belajar sehari sudah merasa ahli. Baru berhasil sedikit sudah sibuk memamerkan.

Padahal pohon besar tidak tumbuh dalam semalam. Justru yang tumbuh terlalu cepat sering tidak kuat diterpa angin.

Saya sering melihat orang hebat jatuh bukan karena kurang pintar. Tetapi karena terlalu terburu-buru.

Ingin cepat naik. Cepat dikenal. Cepat punya kuasa. Akhirnya jalan pintas dipilih. Sedikit manipulasi dianggap wajar. Geser sana-sini, sedikit kebohongan dianggap strategi.

Pelan-pelan. Dari dalam. Di situlah integritas diuji.

Integritas itu bukan pidato.  Bukan slogan seminar. Bukan kalimat motivasi yang ditempel di dinding kantor. Integritas adalah apa yang kita lakukan saat tidak ada yang melihat. Sesederhana mengembalikan uang lebih.

Sesederhana mengaku salah. Sesederhana tidak mengambil yang bukan haknya meski ada kesempatan.  Kelihatannya kecil. Tetapi justru hidup dibangun dari yang kecil-kecil itu.

Saya pernah bertemu banyak orang penting. Sebagian sangat cerdas. Sebagian sangat kaya. Sebagian sangat berkuasa. Tetapi, yang paling sulit ditemukan adalah orang yang tetap lurus ketika punya kesempatan untuk bengkok.

Karena ternyata, menjadi pintar lebih mudah daripada menjaga hati tetap bersih.

Orang yang berintegritas biasanya tidak banyak bicara tentang dirinya sendiri. Ia bekerja saja. Diam-diam. Tidak sibuk membangun pencitraan.

Ia tahu: citra bisa dibuat dalam sehari. Tetapi kepercayaan dibangun bertahun-tahun. Dan kepercayaan hanya lahir dari konsistensi. Bukan sekali jujur. Tetapi berkali-kali memilih jujur saat kebohongan terasa lebih menguntungkan.

Ada harga yang harus dibayar untuk itu. Kadang dianggap tidak fleksibel. Kadang ditinggalkan.

Kadang kalah cepat dibanding mereka yang berlari lewat tikungan-tikungan curang. Tetapi orang bijak tahu satu hal: Lebih baik terlambat sampai daripada cepat tiba dengan kehilangan diri sendiri.

Karena kemenangan yang mengorbankan nurani biasanya tidak bertahan lama.

Saya percaya, hidup punya cara sendiri untuk menghitung. Yang curang mungkin terlihat menang hari ini. Yang licik mungkin tampak bersinar sekarang.

Tetapi waktu adalah hakim yang paling jujur. Ia menyaring semuanya. Mana yang asli. Mana yang palsu. Mana yang dibangun dengan ketekunan. Mana yang sekadar pencitraan. Maka orang bijak tidak tergesa.

Ia berpikir. Menimbang. Mendengar suara hatinya.

Tetapi ia juga tidak berhenti melangkah. Sebab terlalu lama diam juga berbahaya. Keraguan bisa membuat hidup mandek.

Banyak orang gagal bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlalu takut memulai. Akhirnya hidup habis hanya untuk menghitung kemungkinan.

Padahal jalan baru akan terlihat setelah kaki melangkah. Pelan tidak masalah. Asal bergerak.

Sedikit tidak masalah. Asal konsisten.

Karena kehidupan yang kokoh biasanya dibangun bukan oleh lompatan besar, melainkan oleh langkah-langkah kecil yang tidak berhenti. Dan mungkin memang itu rahasianya.

Orang bijak tidak sibuk mengejar tepuk tangan. Ia hanya memastikan setiap langkahnya masih sejalan dengan hati nuraninya.

Meski pelan. Meski sepi. Meski kadang harus berjalan sendirian.