MATRANEWS.ID – Di tengah lanskap perfilman Indonesia yang kian beragam genre dan gaya, satu gelombang baru tampaknya mulai menguat: kembalinya drama keluarga sebagai ruang refleksi sosial.
Film “Kupeluk Kamu Selamanya” hadir bukan sekadar sebagai tontonan emosional, melainkan sebagai penanda bahwa isu keluarga, hak asuh, dan ketahanan perempuan masih menjadi nadi yang relevan di layar lebar Indonesia hari ini.
Disutradarai dengan pendekatan yang cermat oleh Pritagita Arianegara, film ini mengangkat kisah Naya—seorang ibu tunggal yang hidupnya terhimpit oleh realitas ekonomi sekaligus masa lalu yang belum selesai.
Di tengah segala keterbatasan, satu hal menjadi pusat gravitasi emosional: anaknya, Aksa.
Ketika Ibu Bukan Sekadar Peran, Tapi Medan Perjuangan
Yang membuat film ini menonjol bukan hanya premisnya, melainkan cara ia memperlakukan tokoh utama.
Naya tidak dibingkai sebagai simbol ideal ibu yang serba kuat, melainkan sebagai manusia yang retak, lelah, namun tetap memilih bertahan.
Penampilan Hana Malasan sebagai Naya menjadi salah satu sorotan utama.
Ia menghadirkan lapisan emosi yang tidak tunggal: antara ketakutan kehilangan, kemarahan yang tertahan, hingga cinta yang tidak pernah benar-benar bisa dijelaskan dengan logika.
Di sisi lain, kehadiran karakter Bagaskara yang diperankan Ibnu Jamil memperluas spektrum konflik.
Film ini tidak jatuh pada dikotomi sederhana “benar vs salah”, melainkan mengajak penonton masuk ke wilayah abu-abu yang lebih manusiawi: tentang hak, ego, dan definisi kepemilikan dalam keluarga.
Debut Produksi dan Arah Baru Sinema Emosional
Menariknya, film ini juga menandai langkah awal Dinda Hauw sebagai produser.
Kolaborasi dengan Kuy Studios dan Aktina Film menghadirkan pendekatan produksi yang terasa lebih intim, tidak berlebihan, dan fokus pada kedekatan emosi ketimbang spektakel.
Secara estetika, film ini tidak berusaha menjadi megah. Ia justru memilih jalan yang lebih sunyi—kamera yang dekat, dialog yang minimalis, dan ruang hening yang memberi waktu bagi penonton untuk meresapi.
Lebih dari Film: Refleksi Zaman
Dalam konteks yang lebih luas, “Kupeluk Kamu Selamanya” dapat dibaca sebagai bagian dari tren baru sinema Indonesia: pergeseran dari hiburan semata menuju narasi yang lebih reflektif terhadap struktur sosial.
Isu hak asuh, ketimpangan ekonomi, dan peran perempuan dalam keluarga modern tidak lagi hadir sebagai latar belakang, tetapi menjadi inti dari konflik itu sendiri.
Film ini tidak menawarkan jawaban. Dan mungkin memang bukan itu tujuannya.
Penutup: Sinema yang Mengingatkan, Bukan Menghakimi
Pada akhirnya, “Kupeluk Kamu Selamanya” berdiri sebagai pengingat bahwa di balik istilah “keluarga”, selalu ada kompleksitas yang tidak sederhana. Ia tidak meminta penonton untuk setuju, melainkan untuk merasakan.
Dan dalam era ketika banyak cerita bergerak cepat dan keras, film ini memilih untuk melakukan hal yang berbeda: memperlambat, mendekat, dan memeluk.
Kadang, itu justru yang paling lama tinggal di ingatan.







