MATRANEWS.id — Ulta Levenia masuk ke Badan Komunikasi Pemerintah (BAKOM RI): Dari Medan Konflik ke Ruang Kendali Informasi Negara
Di sebuah studio podcast milik Deddy Corbuzier, seorang perempuan muda berbicara tentang terorisme tanpa nada dramatis. Ia tidak mengutip laporan, melainkan pengalaman.
Tentang bagaimana ia masuk ke wilayah konflik, berbincang dengan aktor-aktor bersenjata, dan keluar dengan catatan lapangan yang tak semua orang berani kumpulkan. Namanya: Ulta Levenia Nababan.
Sejak penampilannya di Close The Door Podcast pada September 2025, publik mulai mengenalnya sebagai peneliti yang berjalan melampaui batas aman.
Tak lagi di KSP kini, sorotan itu menemukan babak baru. Ulta masuk ke jajaran Deputi IV di Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI)—posisi yang menempatkannya di jantung pengelolaan narasi negara.
Jalan Sunyi Seorang Peneliti
Ulta lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, dan tumbuh dalam lintasan pendidikan yang relatif konvensional. Ia menempuh studi Ilmu Politik di Universitas Indonesia sebelum melanjutkan magister di University of Leeds.
Di sana, ia memperdalam studi tentang keamanan, terorisme, dan pemberontakan.
Namun jalur akademik itu segera berbelok ke arah yang tak lazim. Alih-alih berhenti pada teori, Ulta memilih masuk ke lapangan. Ia menyusuri wilayah konflik di Filipina Selatan hingga Afghanistan, bersinggungan dengan kelompok seperti Abu Sayyaf dan Taliban.
Bagi sebagian orang, ini adalah keberanian yang nyaris nekat. Bagi Ulta, itu metode.
“Kalau hanya membaca, kita tidak akan pernah memahami bagaimana cara berpikir mereka,” ujarnya dalam sebuah forum diskusi. Kalimat itu, sederhana tapi tegas, merangkum pendekatannya: memahami ancaman dari dalam.
Antara Analisis dan Sensasi Publik
Nama Ulta melesat cepat setelah podcast itu viral. Publik terpikat pada narasi ekstrem—peneliti perempuan yang masuk “sarang teroris”. Namun di balik itu, ada dimensi lain: ia juga seorang analis yang kerap memantik kontroversi.
Dalam beberapa kesempatan, Ulta mengaitkan fenomena budaya populer seperti BTS dengan potensi dampak sosial yang lebih luas. Ia juga berbicara tentang dinamika geopolitik, termasuk posisi Indonesia dalam BRICS, yang menurutnya menyimpan implikasi strategis terhadap relasi global.
Pendekatannya konsisten: melihat segala sesuatu dari kacamata keamanan nasional. Bahkan ketika objeknya tampak jauh dari isu pertahanan.
Masuk ke Dalam Sistem
Pengangkatan Ulta sebagai sosok di Deputi IV Bakom RI menandai pergeseran penting. Ia tidak lagi berada di luar sistem, mengamati dan mengkritik. Kini, ia menjadi bagian dari mesin negara.
Peran ini menuntut hal yang berbeda dari dunia riset. Jika sebelumnya ia bebas menyusun hipotesis dan eksplorasi, kini setiap pernyataan harus terukur. Setiap narasi membawa konsekuensi politik dan sosial.
Di sinilah ujian sesungguhnya dimulai.
Bakom RI, sebagai institusi yang mengelola komunikasi pemerintah, berada di garis depan dalam menghadapi disinformasi, krisis persepsi, dan fragmentasi opini publik.
Ulta datang dengan bekal pengalaman lapangan dan sensitivitas terhadap ancaman. Namun ia juga membawa gaya komunikasi yang lugas—bahkan kadang provokatif.
Apakah itu akan menjadi kekuatan atau justru sumber gesekan, masih menjadi tanda tanya.
Generasi Baru dalam Birokrasi
Di usia 28 tahun, Ulta mewakili generasi baru dalam struktur pemerintahan—mereka yang lahir dari dunia global, terbiasa dengan dinamika cepat, dan tidak selalu terikat pada pola pikir lama.
Ia mendirikan MAPAN (Millennial untuk Pertahanan dan Keamanan), aktif di forum internasional, dan membangun jejaring lintas negara. Sosoknya mencerminkan pergeseran: dari birokrat administratif menuju figur dengan latar intelektual dan pengalaman lapangan.
Catatan pinggirnya adalah sejarah birokrasi Indonesia menunjukkan, sistem sering kali lebih kuat daripada individu.
Menunggu Babak Berikutnya
Ulta Levenia kini berada di titik yang menentukan. Dari medan konflik ke ruang kendali komunikasi, dari pengamat menjadi pengelola narasi.
Publik telah mengenalnya sebagai sosok berani. Tapi keberanian saja tidak cukup di dalam sistem. Yang dibutuhkan adalah ketepatan membaca situasi, kemampuan meredam, dan kecakapan membangun kepercayaan.
Di tengah lanskap informasi yang kian riuh, satu pertanyaan mengemuka: akankah Ulta tetap menjadi peneliti yang menembus batas—atau bertransformasi menjadi komunikator negara yang menjaga batas itu sendiri?
BACA JUGA: Majalah Matra Edisi 0347, 9 Maret 2026








