Berita Indikasi Peran ISIS dalam Demo Rusuh di Solo Bulan Agustus Tak Valid

MATRANEWS.idRamai diberitakan, Densus 88 ungkap ‘Demo Ricuh’ di Jateng Disusupi ISIS. Padahal, belum dirilis Hasil Investigasi Tim Densus 88.

Berita yang menyebutkan Indikasi Peran ISIS dalam Demo Rusuh di Solo Bulan Agustus ternyata belum valid.

Selentingan sengaja disebar, bahwa Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengumumkan hasil investigasi terkait aksi unjuk rasa yang berujung rusuh di Solo pada Agustus lalu.

Viral disebut analisis intelijen, aparat mengidentifikasi adanya indikasi keterlibatan kelompok jaringan teroris internasional, termasuk simpatisan ISIS.

Adapun fakta yang disebut, antara lain beberapa aktor yang memprovokasi kerusuhan memiliki rekam jejak keterhubungan dengan jaringan transnasional.

Juga pola komunikasi, sumber pendanaan, hingga materi propaganda yang digunakan mengarah pada afiliasi dengan kelompok ISIS.

Tersiar Densus 88 sebut ISIS sebarkan Propaganda via Medsos untuk Rekrut Anak-Anak

Proses doktrinasi kelompok radikal teror di media sosial dilakukan bertahap. Pertama penyebaran propaganda, kemudian pemetaan yakni memetakan reaksi atas propaganda yang disebarkan di media sosial.

Kemudian, tahap pendekatan dan perekrutan. Di tahap ini kelompok itu mulai melakukan pendekatan personal dan mulai menanamkan doktrin. Dan tahap selanjutnya adalah pembinaan dan pengendalian.

“Pada tahap ini mereka mulai mengikat dengan baiat dan doktrin-doktrin keras untuk mengarahkan dan mengendalikan melakukan tindakan kekerasan sampai pada tindakan teror,” jelas sang pengamat.

Kelompok radikal teror seperti ISIS dan Jamaah Anshorut Daulah (JAD) memang sudah menargetkan anak-anak untuk menjadi pengikut mereka. Propagandanya melalui media sosial.

Bahwa aksi unjuk rasa yang awalnya berlangsung damai tiba-tiba berubah menjadi anarkis setelah adanya penyusupan kelompok tertentu.

Massa didorong untuk melakukan perusakan fasilitas umum, menyerang aparat, dan menyebarkan narasi provokatif di media sosial.

Sejumlah barang bukti berupa dokumen, perangkat komunikasi, serta rekaman digital berhasil diamankan dan kini sedang dalam proses analisis forensik.

Dari situ, penyidik menemukan adanya pola operasi yang serupa dengan metode agitasi dan mobilisasi massa yang kerap digunakan oleh jaringan ISIS di berbagai belahan dunia.

Kelompok teror itu masuk ke grup-grup media sosial, termasuk WhatsApp, menunggangi kelompok Anarko yang rata-rata adalah anak-anak bawah umur. Pelajar SMA hingga SMP.

“Ada grup Facebook, Instagram. Mereka memanfaatkan situasi ini, yang penting situasinya chaos, itu seruan mereka, dengan menambahkan postingan-postingan misalnya tentang ketidakadilan,” jelas pengamat yang kemudian viral seolah temuan Densus 88.

Menurut info yang didapat majalah MATRA, Densus 88 belum resmi mengungkap tuntas temuannya.

Sementara itu, berita terlanjur menyebar hasil Investigasi Tim Densus 88 mengungkap, “Demo Rusuh Di Solo Bulan Agustus Ada Indikasi Peran dari Kelompok ISIS”.

Eng-ing-eng