Haji Asri Hadi Tentang Profil Nikita Dompas, Klik ini

MATRANEWS.id Nikita Dompas di Balik Sorotan Panggung: Arsitek Musik di Balik Java Jazz

Setiap festival punya bintangnya. Sosok yang berdiri di tengah panggung, menyerap cahaya sorotan dan tepuk tangan riuh penonton. Namun, di balik semua itu, tersembunyi para arsitek suara—mereka yang membentuk musik bahkan sebelum satu nada pun dipetik. Mereka adalah seniman yang tak selalu tampak, namun perannya krusial untuk memastikan pertunjukan berjalan mulus, menyatu, dan menyihir siapa pun yang menyaksikannya.

Salah satu nama yang bersinar di balik layar Java Jazz Festival adalah Nikita Dompas, seorang gitaris ternama yang dikenal bukan hanya sebagai musisi virtuoso, tetapi juga sebagai music director paling diburu di negeri ini.

Kariernya tak dibangun dalam semalam. Pengalamannya luas, insting musiknya tajam, dan pemahamannya tentang seni pertunjukan live tak tertandingi. Ia bukan hanya seorang penampil—ia adalah perancang.

Di Java Jazz, Nikita—yang merupakan suami dari Arini dan ayah dari seorang putri bernama Daxluca—memegang peran tak tergantikan.

Nikita Dompas menjembatani antara keahlian musikal dan presisi logis. Dialah yang memastikan bahwa ketika lampu dinyalakan dan sorak-sorai penonton pecah, semua berlangsung tanpa cela—harmonis, dramatis, dan penuh keajaiban. Nikita adalah otak di balik susunan nama di line-up, baik dari Indonesia maupun mancanegara.

Bersama tim kreatif, Nikita melakukan brainstorming, menyusun daftar artis, mengusulkan kolaborasi lintas genre, dan memetakan siapa tampil kapan, bagaimana, dan bersama siapa.

Ia tidak sekadar menyusun jadwal, melainkan membaca dinamika panggung dan memahami alkimia musikal antar performer. Ia mengkurasi alur cerita musikal dari sebuah pertunjukan, memastikan tiap transisi bermakna, tiap duet punya chemistry, dan tiap momen meninggalkan dampak emosional.

Maka, ketika musik mengalun sempurna dan para bintang bersinar di atas panggung, jangan lupa: ada para arsitek di balik layar—seperti Nikita, pria kelahiran 14 April 1981—yang membangun fondasi dari setiap keajaiban itu. Musisi sekaligus produser ini dikenal memiliki referensi bermusik yang luas, mulai dari Stadium Jazz ala Donny McCaslin, nuansa gospel KING, hingga sentuhan klasik Barbra Streisand.

Menemukan Diri dalam Nada: Perjalanan Musik Nikita Dompas

 Tak semua orang mengenali takdirnya sejak kecil. Tapi bagi Nikita, musik adalah suara takdir yang pelan namun pasti, mengantarnya ke panggung-panggung penting dalam kariernya. Semuanya dimulai dari permainan imajinatif dengan raket sebagai gitar dan nada-nada Michael Jackson. Perjalanannya membentang dari ruang keluarga hingga studio legendaris tempat Iwan Fals dan Setiawan Djody berlatih.

“Awalnya saya suka bernyanyi dan menirukan Brian May dengan raket,” kenangnya. Pada tahun 1986, almarhum ayahnya mendorongnya mengikuti les piano—sebagai penyeimbang hobi bela dirinya. Namun benih cinta pada musik terus tumbuh. Hadiah gitar elektrik di usia 12 tahun menjadi titik balik. Dari belajar akor dengan tetangga, ia mulai serius menekuni gitar, tanpa meninggalkan piano sepenuhnya.

Gitar: Pilihan Maskulin dan Jalan Menuju Jazz

“Dulu saya pilih gitar karena terasa lebih maskulin. Saya ingin ngeband sejak kelas 5 SD,” kata Nikita. Dari bermain keyboard di studio hingga mengalami dilema antara Metallica dan piano klasik, Nikita akhirnya mendalami gitar sepenuh hati. Musik grunge menjadi pembuka jalan, sebelum jazz hadir lewat suara dari mobil seorang teman.

“Incognito membuat saya merasa ini musik yang beda banget dan ribet,” katanya. Ia belajar langsung dari maestro Oele Pattiselano dengan metode mengamati dan meniru. Pendekatan ini diperluas saat ia bertemu Tjut Nyak Deviana, hingga akhirnya mendalami jazz secara akademik dan progresif.

Belajar dari Maestro, Lokal hingga Internasional

Perbedaan antara belajar dari maestro lokal dan internasional sangat terasa. “Pak Oele tidak menjelaskan teknik step-by-step. Saya harus meraba apa yang dia mainkan,” jelasnya. Di sisi lain, mentor luar negeri memperkenalkannya pada sistematika musik dari dasar. Kombinasi keduanya membentuk Nikita sebagai musisi yang fleksibel, teknikal, sekaligus peka terhadap konteks.

Aransemen, Karakter, dan Peran Sebagai Music Director

Bagi Nikita, dalam jazz, teknik dan harmonisasi adalah segalanya. “Kalau tidak, bisa timbul nada atau interval yang bertabrakan. Kami harus punya kesamaan bahasa,” ujarnya. Ia menjaga elemen kunci lagu dalam aransemen ulang agar tetap hidup, meskipun diberi improvisasi.

Sebagai musisi, Nikita tidak hanya tampil—ia juga melayani. “Ketika main untuk Andien, saya bukan Nikita yang punya ego artistik. Saya adalah bagian dari tim yang memperkuat pesan musikal Andien,” ucapnya. Prinsip ini juga ia pegang dalam proyek bersama TPE dan Souleh Solehah. “Intinya adalah fleksibilitas.”

Sebagai music director, ia membaca situasi, memilih personel, menentukan aransemen, hingga mengatur mood panggung. “Terkadang saya bahkan harus membaca ruangan sebelum lagu pertama dimainkan.”

Warisan Nada dan Revolusi Rasa

Nikita tidak hanya mencintai musik modern. Ia juga memuja masa Renaissance, ketika musik bertransformasi dari milik gereja menjadi milik rakyat. “Itu efek domino dari reformasi. Musik punya kekuatan mengubah kultur,” katanya penuh semangat.

Bagi Nikita, karakter adalah esensi. “Saya terprovokasi oleh groove yang jujur. Kadang dari sesuatu yang ‘tidak nyaman’, justru lahir warna baru yang menarik,” ujarnya.

Kini, dengan jam terbang sebagai gitaris, arranger, music director, dan produser, Nikita Dompas bukan hanya memainkan musik. Ia menghidupkan cerita, menanamkan karakter, dan menyulam benang merah antara masa lalu dan masa kini dalam setiap nada yang ia mainkan.

Jika Java Jazz Festival adalah sebuah simfoni agung, maka Nikita Dompas adalah konduktornya yang bekerja diam-diam—tapi menciptakan sihir yang menggema jauh setelah lampu panggung padam.