Hoaks Foto Prabowo dan Trump Pamer Daging Babi, Berikut Faktanya!

MATRANEWS.id Hoaks Foto Prabowo dan Trump Pamer Daging Babi, Berikut Faktanya!

Linimasa media sosial kembali diramaikan oleh beredarnya sebuah foto yang menampilkan Presiden RI Prabowo Subianto bersama Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, seolah-olah tengah memamerkan produk olahan daging babi.

Konten itu cepat menyebar, memicu perdebatan dan gelombang komentar bernada provokatif.

Benarkah peristiwa tersebut terjadi?

Akun pemeriksa fakta @cekfakta.ri memastikan bahwa konten tersebut merupakan hoaks. Dalam unggahannya pada Minggu (1/3), akun itu menyebut narasi yang dibangun dalam foto tersebut bersifat manipulatif dan mengandung unsur fitnah.

“Framing tersebut sengaja dibangun untuk memicu persepsi negatif dan menimbulkan kebencian, sebagaimana terlihat pada kolom komentar yang dipenuhi ujaran bernada provokatif. Narasi ini jelas menyesatkan dan tidak berdasar,” tulis akun tersebut.

Manipulasi Berbasis AI

Menurut penelusuran yang dilakukan, tidak pernah ada dokumentasi resmi maupun arsip foto yang menunjukkan momen sebagaimana diklaim dalam unggahan tersebut. Visual yang beredar disebut sebagai hasil manipulasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Teknologi AI generatif memang memungkinkan pembuatan gambar yang tampak realistis dalam waktu singkat. Tanpa literasi digital yang memadai, publik mudah terkecoh oleh visual yang sekilas tampak autentik. Di era banjir informasi, manipulasi semacam ini kian sulit dibedakan dari dokumentasi asli.

Fenomena ini bukan sekadar soal gambar palsu, melainkan bagian dari pola disinformasi yang memanfaatkan sentimen sosial dan identitas untuk menciptakan polarisasi.

Respons dan Literasi Digital

Banyaknya warganet yang mempercayai dan menyebarkan ulang konten tersebut menunjukkan tantangan serius dalam ekosistem digital Indonesia. Informasi yang belum terverifikasi kerap dibagikan tanpa proses cek dan ricek.

Cek Fakta RI mengingatkan publik untuk tidak terjebak dalam DFK—disinformasi, fitnah, dan kebencian. Masyarakat diminta lebih berhati-hati sebelum membagikan konten yang sensitif, terlebih yang menyangkut figur publik dan isu-isu bernuansa identitas.

“Selalu periksa sumber, cek kebenaran konten, dan utamakan etika serta tanggung jawab dalam bermedia sosial agar ruang digital tetap sehat dan kondusif,” tulis akun tersebut.

Di tengah kontestasi opini dan derasnya arus informasi, kewaspadaan publik menjadi benteng utama. Sebab, dalam ruang digital, satu gambar bisa membentuk persepsi—dan persepsi, bila dibiarkan tanpa verifikasi, dapat menjelma menjadi kegaduhan yang tak perlu.