Indonesia Harum di Riyadh: Buku Kuliner Ini Dinobatkan sebagai Best Cookbook 2025

Dari Paris ke Riyadh: “L’Indonésie à la Maison” Menjadi Cookbook Terbaik Dunia 2025

MATRANEWS.idBuku Kuliner Indonesia Raih Panggung Dunia.
Riyadh tampaknya sedang akrab betul dengan aroma rempah Nusantara.

Pada Jumat, 28 November 2025, panggung Gourmand Awards International—ajang yang kerap disebut sebagai “Oscar”-nya buku kuliner dunia—menyebut satu nama dengan lantang: L’Indonésie à la Maison, karya Eka Moncarre, pendiri La Maison De L’Indonésie di Paris.

Seruan tepuk tangan di acara Saudi Feast Food Festival hari itu menjadi penanda sebuah kemenangan yang lebih besar dari sekadar trofi: citra kuliner Indonesia resmi mengukir prestasi baru di peta gastronomi global.

Buku yang baru terbit tahun ini itu tak hanya meraih satu gelar, tetapi langsung dua penghargaan sekaligus:

The Best Cookbook Asia, mengungguli kandidat-kandidat kuat dari Jepang, Malaysia, Korea, hingga Vietnam.

The Best Bilingual Cookbook, menyingkirkan kompetitor dari Bulgaria, Guatemala, Yordania, Amerika Serikat, hingga Uzbekistan.

Kemenangan ganda itu kian menegaskan bahwa kuliner Indonesia bukan lagi sekadar “eksotik” di mata dunia, melainkan mulai dipandang sebagai referensi kuliner yang patut disimak.

Dengan lebih dari 100 negara berpartisipasi dalam Gourmand Awards International 2025, prestasi ini menempatkan Indonesia dalam sorotan global.

Rempah, Cerita, dan Diplomasi Rasa

Setebal 270 halaman, L’Indonésie à la Maison bukan buku resep biasa.

Ia lebih mirip kapsul budaya yang mengantar pembacanya menapaki jejak kuliner Nusantara: warisan tradisi, bahan-bahan lokal, hingga lanskap rasa yang selama ini jarang terwakili di etalase internasional

Moncarre, yang sejak 2020 mengelola restoran sekaligus toko La Maison De L’Indonésie di Paris, memang menjadikan gastronomi sebagai misi kebangsaan kecil yang ia jalankan dengan determinasi.

Di balik kemenangannya, ada jejak promosi senyap yang ia lakukan bertahun-tahun: kopi Gayo di meja pelanggan Paris, cokelat Sulawesi di rak butik, hingga rempah dan teh Indonesia yang ia antarkan dari satu festival ke acara lain.

“Saya terharu dan bangga bisa mengharumkan nama Indonesia,” ujar Moncarre.

Dalam suaranya, tersirat kelegaan seorang pejuang kuliner yang kerja kerasnya akhirnya mendapat pengakuan dunia.

Panggung Global untuk Kuliner Nusantara

Didirikan oleh Edouard Cointreau—nama besar di balik sekolah memasak Le Cordon Bleu—Gourmand Awards sejak 1985 menjadi barometer penghargaan kuliner yang paling diperhitungkan.

Jaringannya mencakup 205 negara. Setiap tahun, ratusan judul buku kuliner, program televisi, hingga konten digital diseleksi untuk mencari karya yang mampu mengangkat budaya gastronomi secara otentik dan inovatif.

Tahun ini, perayaan makin istimewa karena Gourmand Awards menandai usia ke-30. Riyadh pun menjadi simpul pertemuan para penerbit, chef, penulis, dan jurnalis kuliner papan atas dari seluruh dunia.

Kehadiran Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Abdul Aziz Ahmad, sebagai tamu kehormatan dalam seremoni penghargaan turut menegaskan posisi Indonesia di ruang diplomasi rasa internasional.

Di ruang itulah, kuliner bekerja lebih tajam dari pidato: menghadirkan negara dalam bentuk paling membumi—melalui rasa.

Diplomasi Rasa yang Mulai Membuahkan Hasil

Kemenangan L’Indonésie à la Maison bukan sekadar soal buku, melainkan bukti bahwa gastro-diplomacy bukan jargon manis belaka.

Di tengah persaingan promosi budaya yang kian sengit, kuliner menjadi ujung tombak yang efektif: mudah diterima, mudah dirayakan, dan punya daya magnet yang tak pernah padam.

Moncarre sendiri menyebut penghargaan ini sebagai permulaan—sebuah titik pijak untuk memperluas pengaruh Indonesia lewat dapur dan meja makan. Bahwa di balik setiap bumbu dan resep, ada identitas bangsa yang layak disampaikan pada dunia.

“Salam gastronomi,” begitu ia menutup pesannya. Sebuah salam yang kini menggema lebih jauh dari Paris dan Riyadh—hingga kembali ke tanah asal rempah yang mengilhami buku itu.

Dan bagi Indonesia, kemenangan ini adalah pengingat: bahwa kekayaan kuliner Nusantara bukan hanya warisan, melainkan modal budaya yang—bila dirawat dengan serius—dapat mengantar Indonesia berdiri sejajar di panggung kuliner dunia.