Perjalanan karir militer Brigjen TNI Harzeni Paine, S.H, M.A. dipenuhi sejumlah prestasi mengagumkan bagi kalangan prajurit TNI. Pasalnya, dimanapun ditugaskan, Harzeni selalu membuat karya nyata. Dan, semua karya nyatanya kini menjadi legacy atau warisan berharga dan bermanfaat bagi penerusnya.
Salah satunya adalah saat bertugas sebagai Komandan Batalyon Infanteri 400/Raider, Kodam IV/Diponegoro, pada tahun 2011. Batalyon ini berada di Jl. Setia Budi Srondol. Tepatnya berada di Pinggir jalan Raya Solo – Semarang, tepatnya di daerah Srondol, Semarang, Jawa Tengah.
Di kalangan TNI Angkatan Darat, Batalyon Infanteri 400/Raider dianggap sebagai Bataliyon sakral. Dari Batalyon Infanteri ini lahir tokoh-tokoh militer kelas Nasional dan kelas Dunia, mulai dari Jenderal TNI Ahmad Yani (Pahlawan Revolusi) dan sejumlah mantan KASAD.

Brigjen TNI Harzeni Paine, S.H, M.A. merupakan salah satu putra terbaik Negeri ini yang pernah menjadi Komandan Batalyon Infanteri 400/Raider. Banyak karya nyata yang dibangun oleh Harzeni yang saat itu berpangkat Letnan Kolonel (Letkol).
Di kesatuan ini, Harzeni menggagas pembuatan berbagai macam fasilitas untuk pembinaan fisik para prajurit di Batalyon Infanteri 400/Raider, seperti kolam renang, san-telban, barbel untuk seluruh kompi, dan fasilitas fisik lainnya.
Tentu saja butuh perjuangan luar biasa untuk bisa mewujudkan ide cerdas ini, terutama soal anggaran. Menurut Harzeni, sebelum ia menjabat sebagai Danyon, kondisi lingkungan bagian dalam Batalyon Infanteri 400/Raider masih banyak lahan yang kosong dan belum dimanfaatkan.
“Dulu, sebelum saya menjadi Danyon di sini, kondisinya banyak tanah yang gundul dan kurang terawat. Nah, begitu saya ditugaskan sebagai Komandan di sini, saya lakukan perubahan-perubahan,” ungkapnya.

Biaya Mencapai Rp 1 Miliar
Salah satu kondisi batalyon yang menjadi perhatian Harzeni waktu itu adalah tidak adanya kolam renang bagi prajurit. Dari sinilah muncul gagasan Harzeni untuk membangun kolam renang. Dua kolam renang sekaligus, dengan ukuran berbeda.
“Itu saya bangun mulai dari nol dengan dana swadaya. Bukan hal yang mudah memang, tapi saya bertekad kolam renang harus jadi. Alkhamdulillah terwujud,” ujarnya.
Sebagai Komandan Batalyon saat itu, pergaulan Harzeni dikenal cukup luas. Ia termasuk prajurit yang humble atau rendah hati, sehingga banyak memiliki teman dan jejaring cukup luas. Wajar jika untuk menggalang dana pembangunan kolam renang tidak terlalu sulit.
Harzeni menceritakan, ada dua kolam renang yang ia bangun: ukuran besar dan kecil. Kolam renang besar berukuran panjang 100 meter dan lebar 13 meter. Sedangkan kolam renang yang satunya, berukuran lebih kecil untuk anak-anak. Proses pembangunan berlangsung selama 10 bulan dan menelan anggaran mencapai Rp 1 miliar.
Dalam mewujudkan gagasan membangun kolam renang, tentu saja Harzeni meminta dukungan dari atasan. Saat menyampaikan gagasa kolam renang tersebut, atasan Harzeni menganggap ini ‘gagasan gila’, karena membutuhkan anggaran tidak sedikit.
“Tapi saya bilang, ‘jadi atasan itu memang harus gila, Pak. Kalau tidak, tidak akan terwujud gagasannya’,” ungkap Harzeni.

Bermacam Latihan Fisik Dalam Satu Lokasi
Selain kolam renang, di kesatuan ini Harzeni juga membangun San-Telban lengkap dengan tiang restok. Fasilitas ini juga dibangun dari nol sampai jadi. Anggaran yang dibutuhkan saat itu mencapai Rp 150 juta lebih. Lagi-lagi ini berkat jejaring yang dimiliki Sang Komandan.
Ada juga gagasan lain Harzeni yang dianggap sederhana, namun sangat dibutuhkan untuk pembinaan fisik prajurit, yakni membuat barbel. Barbel dibuat sebanyak sejumlah kompi di Batalyon ini. Semua ada empat kompi. Yang menarik, barbel dibuat dengan bermacam warna sesuai dengan kompinya. Sehingga saat disusun menarik perhatian.
Dengan lengkapnya fasilitas pembinaan fisik bagi prajurit ini, membuat lingkungan Batalyon Infanteri 400/Raider jadi tampak semarak dan tertata rapi. Saat ada kegiatan pembinaan berlangsung, akan terlihat beragam latihan fisik para prajurit dalam satu lokasi ini.
“Jadi kalau ada kunjungan dari luar, tamu akan melihat bermacam-macam latihan fisik yang dilakukan prajurit. Mungkin tamu akan bingung, mana yang mau dilihat, karena saking banyaknya,” ujar Harzeni.
Menjadi Peninggalan Berharga
Harzeni menceritakan, sebelumnya, semua fasilitas tersebut tidak ada sama sekali di Batalyon Infanteri 400/Raider. Kehadiran Harzeni sebagai Komandan Batalyon ini membawa perubahan besar. Banyak gagasan yang dipikirkan, lalu diwujudkan. Intinya, selama perjalanan karirnya, Harzeni selalu membuahkan karya nyata di manapun dirinya ditugaskan.
Wajar saja, jika di kalangan sesama prajurit TNI, sosok Harzeni dikenal sebagai prajurit yang profesional, penuh gagasan, dan mampu mewujudkan demi kemajuan kesatuan yang ia pimpin.
Prinsipnya, dimanapun ditugaskan sebagai komandan, Harzeni selalu membuat karya nyata untuk kebutuhan anggotanya. Ini bagian dari dedikasi yang tak pernah terlupakan, karena akan menjadi peninggalan berharga dan bermanfaat bagi generasi penerusnya.
“Tujuan saya membangun fasilitas-fasilitas itu adalah untuk pembinaan fisik anggota. Sarana ini bisa digunakan untuk tes samapta setiap tiga bulan sekali,” pungkasnya. (abdul kholis)
GALERI FOTO
Bukti proses dan hasil pembangunan sarana dan prasarana untuk pembinaan fisik para prajurit di Batalyon Infanteri 400/Raider.













