MATRANEWS.id — Merawat Api Perjuangan Sang Panglima Besar, Menyiapkan Pahlawan Masa Kini
Cucu Jenderal Soedirman ini tidak ingin kakeknya hanya dikenang sebagai panglima perang yang memimpin gerilya. Di balik seragam militernya, ada sosok guru yang mengabdikan hidup untuk mendidik dan membangun karakter bangsa.
Melalui Yayasan Panglima Soedirman, Ganang berupaya menjaga warisan sejarah sekaligus menerjemahkan semangat kepahlawanan agar tetap relevan bagi generasi muda.
Ada kebanggaan sekaligus tanggung jawab yang melekat pada diri Ganang Priyambodo Soedirman.
Ia adalah cucu kandung Jenderal Besar TNI Raden Soedirman, Panglima Besar pertama Tentara Nasional Indonesia sekaligus salah satu tokoh paling penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Begitulah, berbicara dengan Ganang tidak melulu tentang heroisme sang kakek di medan perang.
Ada sisi lain yang ingin ia kenalkan kepada masyarakat: Soedirman adalah seorang pendidik. Sebelum menjadi tentara, sang kakek menghabiskan lebih banyak waktu sebagai guru.
Dalam perbincangan eksklusif bersama SS Budi Raharjo, Ganang bercerita tentang sosok sang eyang, kenangan keluarga, nilai perjuangan, hingga tanggung jawab generasi penerus dalam menjaga Indonesia.
Ganang juga memaparkan agenda Yayasan Panglima Soedirman menjelang peringatan hari kelahiran sang Panglima Besar pada 24 Januari 2027.
Percakapan berlangsung dalam suasana akrab, di sebuah kafe dekat Gedung Juang, Cikini, Jakarta Pusat. Ganang didampingi putranya, Bilal, anak muda yang menjabat Ketua Harian Yayasan Panglima Soedirman.
- Berikut petikan wawancaranya.
Sebagai cucu Jenderal Soedirman, bagaimana Anda memandang sosok beliau?
Ganang Priyambodo Soedirman: Bagi saya, beliau bukan hanya seorang kakek, tetapi juga teladan tentang bagaimana seseorang harus menjalani kehidupan dengan tanggung jawab.
Masyarakat selama ini lebih mengenal beliau sebagai seorang tentara yang berani, panglima perang yang memimpin perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Padahal, ada sisi lain yang tidak boleh dilupakan. Eyang sebenarnya seorang guru. Beliau lebih lama menjalani profesi sebagai pendidik dibandingkan menjadi tentara.
Saya sering mengatakan, menjadi tentara itu sebenarnya bagian yang relatif singkat dalam perjalanan hidup beliau.
Sebelumnya, beliau adalah seorang guru yang memiliki perhatian besar terhadap pendidikan dan pembentukan karakter anak-anak bangsa.
Mengapa sisi seorang guru ini penting untuk terus disampaikan kepada masyarakat?
Ganang Priyambodo Soedirman: Karena kita tidak boleh hanya melihat sejarah dari satu sudut pandang. Kalau masyarakat hanya mengenal Eyang sebagai panglima perang, tentu ada bagian penting dari kepribadian beliau yang terlewatkan.
Seorang guru memiliki tanggung jawab membentuk manusia. Ia bukan sekadar menyampaikan pelajaran, tetapi juga menanamkan kedisiplinan, kejujuran, keberanian, dan tanggung jawab.
Nilai-nilai itulah yang kemudian juga tercermin dalam kepemimpinan beliau sebagai seorang panglima.
Menurut saya, generasi muda perlu memahami bahwa keberanian tidak muncul begitu saja. Keberanian harus dibangun melalui pendidikan, karakter, dan keyakinan terhadap sesuatu yang diperjuangkan.
Anda merupakan cucu dari garis keturunan Ahmad Tidarwono Soedirman. Sejauh mana kenangan keluarga membentuk pemahaman Anda tentang sang kakek?
Ganang Priyambodo Soedirman: Saya merupakan cucu kandung dari anak laki-laki pertama Eyang, Ahmad Tidarwono Soedirman. Setelah Eyang wafat, saya banyak mendapatkan pengasuhan dan cerita dari Eyang Putri, Ibu Alfiah Soedirman.
Dari lingkungan keluarga itulah saya mengenal sosok beliau bukan hanya sebagai tokoh besar dalam sejarah, tetapi juga sebagai manusia yang memiliki kehidupan keluarga dan nilai-nilai yang diwariskan kepada anak cucunya.
Ada tanggung jawab moral bagi kami sebagai keluarga untuk menjaga nama baik dan menyampaikan sejarah beliau secara benar.
Tetapi saya selalu berpandangan bahwa perjuangan Eyang bukan milik keluarga Soedirman saja. Itu adalah bagian dari sejarah seluruh bangsa Indonesia.
Anda dipercaya memimpin Yayasan Panglima Soedirman. Apa yang ingin dicapai melalui yayasan ini?
Ganang Priyambodo Soedirman: Yayasan Panglima Soedirman memiliki tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan menyebarluaskan nilai-nilai perjuangan Panglima Besar Soedirman.
Kami ingin sejarah tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Sejarah harus menjadi sumber inspirasi untuk menghadapi persoalan masa kini.
Nilai kepemimpinan, integritas, kedisiplinan, keberanian, dan pengabdian kepada bangsa harus terus disampaikan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Kami juga ingin memberikan motivasi kepada para prajurit TNI agar semakin berkarya dan memberikan pengabdian terbaik bagi bangsa dan negara.
Semangat Eyang harus menjadi dorongan bagi setiap orang untuk menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.
Apakah pernah ada pengalaman yang membuat Anda merasa memiliki tanggung jawab besar sebagai cucu seorang panglima?
Ganang Priyambodo Soedirman: Tentu. Salah satunya ketika saya pernah terlibat sebagai pemeran Jenderal Soedirman dalam sosiodrama peringatan HUT TNI.
Saya juga pernah terlibat dalam produksi film bertema kepahlawanan dan sejarah nasional, termasuk film Palagan Ambarawa.
Pengalaman tersebut memberikan pemahaman tersendiri. Memerankan atau menggambarkan seorang tokoh sejarah bukan sekadar persoalan penampilan. Ada nilai dan pesan yang harus disampaikan dengan benar.
Ketika kita membawa nama seorang pahlawan, ada tanggung jawab untuk tidak menghilangkan substansi perjuangannya.
Bagaimana Anda melihat pemahaman generasi muda terhadap sejarah perjuangan bangsa saat ini?
Ganang Priyambodo Soedirman: Kita hidup pada zaman yang sangat berbeda. Anak-anak muda sekarang tumbuh bersama teknologi digital, media sosial, dan berbagai perkembangan informasi.
Itu bukan sesuatu yang harus ditakuti. Justru teknologi bisa menjadi sarana untuk memperkenalkan sejarah dengan cara yang lebih menarik.
Kita bisa membuat film pendek, dokumenter, infografis, podcast, hingga cerita digital tentang perjuangan para pahlawan. Jangan sampai generasi muda lebih mengenal tokoh-tokoh populer di media sosial dibandingkan para pejuang yang telah mempertaruhkan nyawa untuk kemerdekaan Indonesia.
Yang terpenting, penyampaian sejarah harus menarik, mudah dipahami, dan berdasarkan fakta.
Pada 24 Januari 2027 mendatang merupakan hari kelahiran Jenderal Soedirman. Apa yang sedang dipersiapkan?
Ganang Priyambodo Soedirman: Tanggal 24 Januari merupakan momentum penting bagi kami untuk kembali mengingat kelahiran Eyang, yang lahir di Purbalingga pada 24 Januari 1916.
Melalui Yayasan Panglima Soedirman, kami ingin menjadikan momentum tersebut sebagai kesempatan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan beliau.
Bagi kami, peringatan hari kelahiran bukan hanya kegiatan seremonial. Ada pesan yang jauh lebih penting, yakni bagaimana masyarakat memahami perjuangan seorang tokoh bangsa dan meneruskannya melalui tindakan nyata.
Kami ingin mengajak berbagai kalangan, termasuk keluarga besar Soedirman, TNI, pemerintah, tokoh masyarakat, komunitas sejarah, dan generasi muda untuk bersama-sama merawat warisan perjuangan tersebut.
Apa pesan utama yang ingin disampaikan dalam momentum tersebut?
Ganang Priyambodo Soedirman: Bahwa perjuangan tidak boleh berhenti pada generasi yang telah merebut kemerdekaan.
Dahulu para pejuang mengangkat senjata karena bangsa ini menghadapi penjajahan. Sekarang tantangannya berbeda. Kita menghadapi persoalan pendidikan, ekonomi, kemiskinan, ketimpangan, lingkungan, hingga tantangan teknologi.
Kita harus menemukan bentuk perjuangan yang sesuai dengan zaman.
Kalau dahulu Eyang berjuang di medan gerilya, sekarang generasi muda harus berjuang melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, kreativitas, inovasi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Jangan hanya bangga menyebut nama pahlawan, tetapi tidak meneruskan nilai-nilai yang mereka perjuangkan.
Menurut Anda, apa nilai kepemimpinan Jenderal Soedirman yang paling relevan dengan kondisi Indonesia sekarang?
Ganang Priyambodo Soedirman: Integritas dan pengabdian.
Seorang pemimpin harus menempatkan kepentingan bangsa dan rakyat di atas kepentingan pribadi. Itu prinsip yang sangat penting.
Pemimpin tidak cukup hanya memiliki kekuasaan atau jabatan. Ia harus mampu memberikan teladan, mengambil keputusan dengan berani, dan bertanggung jawab terhadap setiap kebijakan yang dibuat.
Saya melihat Indonesia membutuhkan pemimpin yang inovatif atau innovative leader. Pemimpin yang tidak hanya pandai berbicara tentang perubahan, tetapi juga mampu menghasilkan karya dan kebijakan nyata.
Rakyat membutuhkan kemajuan pendidikan, peningkatan kualitas hidup, solusi terhadap persoalan ekonomi, dan kesempatan yang lebih baik untuk masa depan.
Apa yang Anda maksud dengan pemimpin inovatif?
Ganang Priyambodo Soedirman: Pemimpin inovatif adalah pemimpin yang berani melakukan terobosan, tetapi tetap berpijak pada kepentingan rakyat.
Inovasi tidak harus selalu sesuatu yang besar atau spektakuler. Kebijakan sederhana yang mampu menyelesaikan persoalan masyarakat juga merupakan inovasi.
Yang penting, ada keberanian untuk memperbaiki keadaan. Ada kemauan mendengarkan masyarakat dan kemampuan menerjemahkan kebutuhan rakyat menjadi program yang benar-benar dirasakan manfaatnya.
Pemimpin juga harus memiliki integritas. Jangan sampai inovasi hanya menjadi slogan, sementara pelaksanaannya tidak memberikan perubahan.
Apakah keluarga besar Soedirman memiliki pandangan khusus mengenai Pimpinan Indonesia?
Ganang Priyambodo Soedirman: Menurut saya, memilih pemimpin bukan hanya hak keluarga besar Soedirman. Itu merupakan hak dan tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia.
Keluarga kami tentu memiliki nilai-nilai perjuangan yang diwariskan Eyang. Namun, masa depan bangsa tidak boleh ditentukan oleh satu keluarga atau kelompok tertentu.
Rakyatlah yang memiliki hak untuk menentukan pemimpinnya melalui mekanisme konstitusional.
Yang harus kita jaga adalah bagaimana proses tersebut menghasilkan pemimpin yang benar-benar mencintai Indonesia, memiliki integritas, dan bekerja untuk kepentingan masyarakat.
Kecintaan kepada tanah air harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Dalam konteks kekinian, bagaimana generasi muda dapat menerjemahkan semangat kepahlawanan?
Ganang Priyambodo Soedirman: Menjadi pahlawan sekarang tidak harus mengangkat senjata. Setiap orang bisa menjadi pahlawan melalui profesi dan tanggung jawabnya masing-masing.
Seorang guru yang mendidik dengan tulus adalah pahlawan. Seorang dokter yang melayani masyarakat dengan penuh pengabdian juga pahlawan. Begitu pula petani, nelayan, wartawan, prajurit, pengusaha, dan pekerja lainnya yang menjalankan profesi dengan jujur.
Anak muda juga bisa menjadi pahlawan melalui kreativitas digital. Mereka bisa membuat konten positif, memperkenalkan sejarah, menyebarkan informasi yang benar, dan menggunakan teknologi untuk membantu masyarakat.
Jangan menggunakan media sosial untuk menyebarkan kebencian atau memecah belah bangsa.
Menurut saya, keberanian moral juga merupakan bentuk kepahlawanan. Berani jujur, menolak korupsi, tidak melakukan perundungan, menjaga lingkungan, dan membantu orang lain adalah tindakan sederhana yang memiliki arti besar.
Bagaimana nilai kepahlawanan sebaiknya ditanamkan kepada anak-anak sejak dini?
Ganang Priyambodo Soedirman: Pendidikan karakter harus dimulai dari keluarga.
Orang tua memiliki peran penting mengajarkan anak tentang tanggung jawab, keberanian, kejujuran, kedisiplinan, kepedulian, dan cinta tanah air.
Jangan hanya menyuruh anak membaca sejarah pahlawan. Ajak mereka memahami mengapa para pahlawan berjuang dan apa yang bisa mereka lakukan sekarang.
Misalnya, mengajarkan anak untuk menghormati orang lain, tidak menyerah ketika menghadapi kesulitan, membantu teman, menjaga kebersihan, dan berani mengatakan yang benar.
Nilai-nilai itu harus dicontohkan oleh orang tua. Anak-anak lebih mudah belajar dari tindakan daripada sekadar nasihat.
Bagaimana Anda melihat hubungan antara nasionalisme dan keberagaman Indonesia?
Ganang Priyambodo Soedirman: Indonesia adalah bangsa yang besar karena keberagamannya. Kita memiliki berbagai suku, bahasa, budaya, dan tradisi.
Perbedaan itu seharusnya menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan.
Saya melihat semangat perjuangan Eyang harus diterjemahkan sebagai semangat persatuan. Ketika para pejuang dahulu berjuang mempertahankan kemerdekaan, mereka tidak bertanya siapa berasal dari suku atau golongan mana.
Mereka memiliki satu tujuan, yaitu Indonesia merdeka.
Sekarang kita harus melanjutkan semangat yang sama. Jangan sampai perbedaan pilihan politik, agama, suku, atau pandangan membuat kita kehilangan rasa persaudaraan sebagai sesama anak bangsa.
Di tengah kesibukan, Anda dikenal rajin menjalin silaturahmi. Apa maknanya bagi Anda?
Ganang Priyambodo Soedirman: Silaturahmi itu sangat penting. Saya percaya, dengan menjaga silaturahmi, kita bisa mendapatkan banyak hal. Rezeki bisa bertambah, pengetahuan semakin luas, dan hubungan antarmanusia menjadi lebih baik.
Bagi saya, silaturahmi bukan sekadar bertemu atau mengirim pesan. Itu merupakan cara menjaga persaudaraan.
Saya berusaha menyapa sahabat, kerabat, dan teman-teman, termasuk mereka yang sudah lama tidak bertemu. Sekarang teknologi memudahkan kita. Melalui WhatsApp, kita bisa saling menyampaikan kabar, mengucapkan selamat hari Minggu, atau sekadar menanyakan keadaan.
Hal sederhana seperti itu bisa menjaga hubungan tetap hangat.
Apakah nilai kekeluargaan tersebut juga Anda tanamkan kepada anak-anak?
Ganang Priyambodo Soedirman: Tentu. Anak-anak harus memahami pentingnya menghormati orang lain dan menjaga hubungan baik.
Dalam keluarga, kami juga berusaha menjaga tradisi dan budaya. Anak saya, Bilal, misalnya, dibiasakan menggunakan bahasa Jawa dengan baik.
Istri saya sendiri merupakan perempuan Betawi asli yang masih kental dengan adat istiadat serta dialek Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.
Saya sejak kecil tumbuh di Yogyakarta. Jadi, dalam keluarga kami ada perpaduan budaya yang menarik.
Menurut saya, itu kekayaan Indonesia. Anak-anak harus mengenal akar budaya keluarganya sekaligus belajar menghargai budaya lain.
Apa tantangan terbesar menjadi cucu seorang pahlawan nasional?
Ganang Priyambodo Soedirman: Tantangannya adalah bagaimana menjaga nilai-nilai yang diwariskan tanpa merasa bahwa nama besar keluarga merupakan sesuatu yang harus dibanggakan secara berlebihan.
Saya selalu berpikir bahwa menjadi cucu seorang pahlawan bukan berarti kita otomatis menjadi orang yang hebat.
Justru sebaliknya, kita harus terus belajar dan berbuat sesuatu yang bermanfaat. Nama besar Eyang harus menjadi motivasi untuk bekerja lebih baik, bukan menjadi alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Saya ingin masyarakat melihat bahwa keluarga besar Soedirman juga memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi kepada bangsa.
Jika boleh menyampaikan satu pesan kepada generasi muda Indonesia, apa yang ingin Anda katakan?
Ganang Priyambodo Soedirman: Jangan pernah melupakan sejarah, tetapi jangan pula hanya hidup di masa lalu.
Ambil semangat para pahlawan, kemudian wujudkan dalam kehidupan sekarang. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, bekerjalah dengan jujur, hormati orang tua, cintai keluarga, dan berikan kontribusi terbaik bagi masyarakat.
Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga memiliki karakter dan kepedulian.
Jangan menunggu menjadi pejabat atau orang besar untuk berbuat sesuatu bagi bangsa. Mulailah dari lingkungan sendiri.
Terakhir, apa harapan pribadi Anda untuk Indonesia ke depan?
Ganang Priyambodo Soedirman: Saya berharap Indonesia menjadi negara yang semakin maju, damai, adil, dan sejahtera. Pemimpinnya memiliki integritas, rakyatnya bersatu, dan generasi mudanya memiliki kesempatan untuk berkembang.
Kita harus terus menjaga persatuan dan tidak mudah terpecah belah.
Warisan terbesar para pahlawan bukan sekadar nama yang tertulis di buku sejarah, melainkan kemerdekaan yang harus kita isi dengan kerja nyata.
Saya ingin semangat Panglima Besar Soedirman tetap hidup dalam hati masyarakat Indonesia.
Semoga pintu kedamaian senantiasa menyelimuti hidup kita semua.
© 2026 MATRANEWS.ID. Cantumkan tautan artikel asli saat mengutip.
