MATRANEWS.id — Momen Warga Sahur Bersama di Huntara Aceh Tamiang: Daging dan Udangnya Enak! Laporan dari Aceh Tamiang
Dini hari baru saja beranjak ketika suasana di Huntara II, Aceh Tamiang, mulai ramai. Di atas terpal putih yang digelar memanjang di depan deretan hunian sementara, warga duduk bershaf, saling berhadapan.
Udara masih menyisakan sisa dingin malam, tetapi kebersamaan menghangatkan ruang yang beberapa bulan lalu dipenuhi cemas akibat banjir dan longsor November 2025.
Jumat (27/2) itu, sahur menjadi lebih dari sekadar makan sebelum fajar. Ia menjelma peristiwa kolektif—ruang temu antara warga dan negara.
Hadir di tengah mereka, Dody Hanggodo, yang ikut menyantap hidangan sederhana bersama masyarakat. Turut mendampingi, Wakil Bupati Ismail.
Kegiatan diawali doa bersama. Setelah itu, nasi dengan lauk daging dan udang dibagikan. Menu yang barangkali biasa di meja makan, namun di huntara terasa istimewa. Bagi anak-anak, ia menjadi cerita yang akan diingat.
“Sahur pakai daging sama nasi sama udang, enak. Senang kali bertemu Pak Menteri,” ujar seorang anak dengan wajah sumringah, dikelilingi teman-temannya.
Ia mengaku kuat menjalani puasa sehari penuh. “Kuat puasanya, sudah full. Aku senang kali puasa. Aku senang sekali sahur dengan Menteri PU,” katanya polos.
Di sudut lain, Saryani—akrab disapa Bibit—menahan haru. Baginya, sahur bersama itu bukan sekadar soal menu, melainkan rasa diperhatikan.
“Kami bersahur bersama. Enggak pernah jumpa Bapak Menteri, enggak pernah jumpa sama rekan-rekan ibu-ibu, bapak-bapak. Kami semangat sekali untuk sahur bersama begini. Ramainya, dikasih persediaan, semua lengkap,” tuturnya.
Ia menyadari tak ada balasan setimpal selain doa. “Rasanya kami enggak bisa balas. Hanya Allah yang balasnya. Senang kami, semangat kami. Dengan Bapak Menteri, dengan Bapak Wakil Bupati, bapak-bapak kita semuanya. Cukup semangat kami.”
Sudah sepekan Bibit menempati hunian sementara itu. Ia mengakui fasilitas yang tersedia cukup memadai—air bersih tersedia, kebutuhan dasar terpenuhi. Di tengah keterbatasan, rasa syukur menjadi fondasi untuk melanjutkan hari.
“Baru seminggu. Cukup enak, cukup baik. Kami pun semangat, kawan-kawan pun semangat. Hunian sementara yang diberikan sangat memadai. Cukup baik. Enak, ada airnya, ada semuanya. Alhamdulillah,” katanya.
Bagi warga Huntara II, Ramadan tahun ini dijalani dalam ruang yang berbeda dari rumah lama mereka.
Catatannya adalah, dini hari itu memperlihatkan sesuatu yang tak kalah penting dari bangunan fisik: solidaritas.
Di antara nasi, daging, dan udang yang disantap bersama, terselip keyakinan bahwa masa sulit dapat dilalui—pelan, tetapi pasti—dengan kebersamaan.








