MATRANEWS.id — Parfum: Daya Magis di Balik Wewangian Laki-Laki
Wewangian atau parfum kerap kali diasosiasikan dengan dunia para pesolek—terutama kaum wanita. Aromanya yang semerbak sering kali digambarkan seperti alunan musik yang membangkitkan emosi dan menyentuh sisi paling dalam jiwa.
Bagaimana dengan kaum pria?
Apakah parfum hanya milik kaum hawa, atau justru ada daya magis tersendiri yang tersembunyi di balik semprotan wewangian itu bagi laki-laki?
Banyak pria yang secara terang-terangan mengakui bahwa parfum adalah bagian penting dari kepercayaan diri mereka.
Tanpa aroma khas yang melekat di tubuh, rasanya ada yang kurang. Fantasi pun bisa terpancing hanya dari aroma yang tercium.
Jadi, benarkah parfum punya kekuatan tersendiri untuk membentuk karakter dan pesona seorang pria?
Untuk mencari jawabannya, mari kita telusuri jejak parfum dari masa ke masa.
Dari Para Dewa Hingga Kaisar
Jauh sebelum parfum menjadi bagian dari rutinitas modern, wewangian telah digunakan oleh manusia dalam berbagai ritual keagamaan, penyembuhan, dan adat istiadat.
Di Mesir kuno, parfum dianggap sebagai “wewangian dari khayangan”.
Dalam proses pembalseman mumi, baik rakyat jelata hingga firaun, selalu digunakan campuran aromatik dari kayu dan resin untuk menebar harum sekaligus mengawetkan.
Bangsa India membakar kayu harum sebagai persembahan untuk Brahma, Wishnu, dan Shiwa.
Di Roma, Kaisar Nero pernah mengimpor ribuan ton dupa dan myrrh demi menghormati mendiang istrinya. Bahkan dalam tradisi Nasrani, salah satu hadiah untuk bayi Yesus adalah wewangian.
Napoleon Bonaparte—sosok legendaris dari Prancis—bahkan dijuluki sebagai “kaisar parfum” karena kecintaannya pada eau de cologne. Ia bisa menghabiskan hingga 200 liter parfum setiap bulan.
Sementara Raja Louis XIV dari Prancis, dalam setiap pesta mewahnya, melepaskan burung dara yang sayapnya telah diolesi wewangian, menyebarkan aroma ke seluruh istana.
Perjalanan Panjang Aroma
Asal mula parfum diyakini berasal dari Timur: dari Cina, lalu menyebar ke Persia, Arab, hingga Eropa.
Kata “parfum” sendiri berasal dari bahasa Latin per fumus, yang berarti “melalui asap”—menggambarkan cara kuno memperoleh aroma wangi melalui pembakaran.
Laskar Perang Salib dan saudagar Arab menjadi agen penting dalam menyebarkan parfum ke Barat.
Melalui jalur sutra dan pelayaran dagang, bahan-bahan eksotis seperti cendana dari Indonesia, myrrh dari Arab, serta rempah-rempah dari Sri Lanka mulai dikenal dunia.
Italia sempat memimpin pasar parfum Eropa lewat eau de cologne buatan Jean Marie Farina pada abad ke-18.
Namun kemudian Prancis mengambil alih kejayaan ini, dengan kota Grasse sebagai pusat industri parfum dunia.
Di sana, berbagai tanaman harum dari seluruh penjuru bumi dibudidayakan untuk menciptakan aroma khas yang memikat.
Aroma Laki-Laki: Antara Fantasi dan Identitas
Seiring perkembangan zaman, parfum tidak lagi hanya terbuat dari bahan-bahan alami. Inovasi kimia di era 1990-an memungkinkan produksi wewangian sintetis dengan aroma yang tahan lama dan bervariasi.
Dalam dunia modern, parfum menjadi bagian dari gaya hidup—bukan hanya untuk wanita, tapi juga pria.
Aroma tertentu bisa menjadi ciri khas seseorang, bahkan memunculkan kesan pertama yang tak terlupakan. Wewangian mampu menggambarkan karakter: lembut, maskulin, misterius, atau berani.
Para pria masa kini semakin menyadari bahwa parfum bukan sekadar pelengkap penampilan. Ia adalah pernyataan identitas, bahkan mungkin, senjata rahasia untuk memikat.
Komposisi Aroma Dunia
Berbagai bahan alami dari seluruh dunia digunakan dalam industri parfum. Dari Prancis: lavender, jasmine, dan tuberose.
Amerika menyumbang tonka bean dari Venezuela dan sweet lime dari Meksiko.
Asia memiliki sandalwood India, patchouli dari Singapura, dan rempah dari Indonesia. Afrika pun tak kalah harum dengan jasmine Mesir dan oakmoss dari Maroko.
Proses ekstraksi bahan ini beragam: dari penyulingan uap hingga pemerasan, dan pelarutan dalam alkohol. Kadar konsentrat aroma pun bervariasi: parfum murni (30%), eau de toilette (8–15%), hingga eau de cologne (5%).
Lebih dari Sekadar Wewangian
Hari ini, parfum telah melebur dalam berbagai produk lain: sabun, kosmetik, bahkan perlengkapan rumah tangga. Maka tak salah jika parfum disebut sebagai ambience enhancer, pelengkap suasana dan identitas diri.
Dari altar para dewa, istana kaisar, hingga rak kamar mandi masa kini—parfum terus hidup sebagai saksi perjalanan manusia dan emosi yang ia ciptakan.
Dan bagi para pria, parfum bukan sekadar bau harum. Ia adalah cerita. Ia adalah pesona. Ia adalah jati diri.
- https://www.hariankami.com/profile-kami/23614931804/pria-dan-parfum-atau-wewangian-kerap-dianggap-identik-dengan-citra-pesolek








