Patung Jenderal Soedirman di Tokyo, Simbol yang Mulai Lapuk

MATRANEWS.idPatung Jenderal Soedirman di Tokyo, Simbol yang Mulai Lapuk

Di halaman Kementerian Pertahanan Jepang di Tokyo, berdiri sebuah patung perunggu setinggi sekitar empat meter.

Sosoknya tegap, bersahaja, dan asing—bukan samurai, bukan pula jenderal Jepang. Ia adalah Jenderal Soedirman, pahlawan revolusi Indonesia, yang justru diabadikan di jantung ibu kota Jepang.

“Ya, kemarin jumpa Laksma Hidayaturrahman, Athan RI di Tokyo, terkait Monumen Soedirman di Kemhan Tokyo. Harus diperbaiki,” ujar Ganang P. Soedirman, cucu dari Panglima Jenderal Soedirman saat dikonfirmasi mengenai kondisi patung tersebut.

Kalimat singkat itu menyiratkan satu hal: simbol yang begitu penting itu mulai dimakan waktu.

Patung Jenderal Soedirman di Tokyo bukan sekadar ornamen diplomatik. Ia adalah satu-satunya patung pahlawan asing yang dipajang secara resmi di Jepang.

Sebuah anomali sekaligus kehormatan—bukan hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi sejarah hubungan dua bangsa yang pernah berada di sisi berlawanan dalam Perang Dunia II.

Penghormatan yang Tak Lazim

Sejarah mencatat, masyarakat Jepang memiliki respek tersendiri terhadap Jenderal Soedirman.

Sosok panglima gerilya yang memimpin perang kemerdekaan dalam kondisi sakit itu dipandang sebagai figur militer yang berintegritas, disiplin, dan setia pada prinsip. Nilai-nilai yang juga dijunjung tinggi dalam tradisi militer Jepang.

Kontak historis itu berakar sejak masa pendudukan. Melalui Pembela Tanah Air (PETA) yang dibentuk Jepang, interaksi antara perwira Jepang dan calon elite militer Indonesia—termasuk Soedirman—terjadi.

Dari sana, terbentuk jejak relasi yang kelak dibaca ulang bukan sebagai kisah penjajahan semata, melainkan juga persinggungan sejarah yang kompleks.

Peneliti Jepang, Fujii, menyebut Soedirman sebagai simbol penting dalam sejarah Indonesia–Jepang.

“Melalui upacara peletakan karangan bunga di depan Patung Jenderal Sudirman—yang pertama kali dilakukan sejak patung ini dipajang dua atau tiga tahun lalu—saya berharap ritual ini akan terus berlanjut dan semakin meriah pada masa mendatang,” ujarnya.

Harapan itu menempatkan patung ini bukan hanya sebagai artefak, tetapi sebagai titik temu memori bersama.

Simbol yang Perlu Dirawat

Namun simbol, betapapun agung maknanya, tetap benda fisik yang rentan. Paparan cuaca, polusi, dan waktu membuat patung perunggu itu memerlukan perawatan.

Permintaan perbaikan yang disampaikan Ganang P. Soedirman menjadi pengingat: diplomasi sejarah tak cukup dijaga dengan narasi, ia juga butuh pemeliharaan yang nyata.

Di tengah dinamika hubungan Indonesia–Jepang yang kini bertumpu pada ekonomi, teknologi, dan geopolitik kawasan, patung Jenderal Soedirman berdiri sebagai pengingat senyap.

Bahwa ada bab sejarah yang dihormati bersama. Bahwa di jantung Tokyo, berdiri seorang jenderal dari negeri tropis, yang kisahnya melampaui batas bangsa.

Patung itu mungkin mulai lapuk. Tapi maknanya, justru kian relevan—selama ia dirawat, bukan hanya sebagai monumen perunggu, melainkan sebagai simbol ingatan yang hidup.

BACA JUGA: Majalah MATRA edisi Januari 2026, Klik ini

 

 

https://www.hariankami.com/kami-indonesia/23616527363/laksma-hidayaturrahman-athan-ri-di-tokyo-bertemu-ganang-p-soedirman