
MATRANEWS.id — Lima Puluh Tahun Salemba: Etika yang Bertahan di Tengah Deras Informasi
Di aula Kampus Salemba, waktu seolah dilipat. Setengah abad bukan sekadar angka yang dirayakan, melainkan jarak yang dihadapi dengan cermin.
Pada pembukaan peringatan 50 Tahun Suratkabar Kampus UI Salemba, Antony Z Abidin—pendiri sekaligus Pemimpin Umum—tidak memilih nada nostalgia. Ia memilih pertanyaan yang lebih berat: nilai apa yang akan diwariskan.
Salemba, kata Antony, lahir bukan sebagai terompet perlawanan dan bukan pula corong propaganda. Ia lahir sebagai media kampus yang dikelola secara profesional, dengan prinsip sederhana namun tegas: pikiran harus ditulis dengan tanggung jawab, kebebasan dijalankan dengan etika.
Pada masa awal, menjadi wartawan kampus berarti melewati pendidikan pers. Tidak semua lulus. Fakta diverifikasi, opini dipisahkan dari berita, sumber dihormati, dan setiap kalimat harus siap dipertanggungjawabkan.
Standar itulah yang membuat Salemba melampaui pagar kampus. Ia dibaca luas bukan karena sensasi, melainkan kepercayaan.
Sejarah memang tidak selalu ramah. Salemba pernah dibredel. Namun, menurut Antony, yang diwariskan bukanlah kisah pembredelan, melainkan disiplin profesionalisme—sesuatu yang jarang dirayakan, tetapi menentukan.
Sebagai institusi intelektual, Universitas Indonesia telah melahirkan ilmuwan, teknokrat, dan pemimpin negara.
Tradisi itu dihadirkan kembali lewat kehadiran Emil Salim, pelopor penerbitan surat kabar kampus UI pada 1950-an.
Integritas Emil—yang memilih tetap menjadi teknokrat saat godaan jabatan politik tinggi datang—disebut Antony sebagai penanda: pengabdian bertumpu pada kejujuran.

Deretan hadirin lain menguatkan nada yang sama.
Yusril Ihza Mahendra hadir sebagai rujukan pemikiran hukum dan ketatanegaraan; Chairul Tanjung menghadirkan kisah kepemimpinan yang menempatkan profesionalisme dan disiplin sebagai modal keberlanjutan organisasi.
Pertanyaannya kemudian beralih ke hari ini. Di era digital, setiap orang dapat menjadi “penerbit”. Informasi mengalir tanpa henti.
Justru di situ, Antony menekankan, kualitas, etika, dan tanggung jawab menjadi semakin mendesak. Media kampus bukan lagi sekadar ruang latihan menulis. Ia adalah cermin reputasi akademik. Cara menulis, standar kerja, dan keberanian untuk bertanggung jawab mencerminkan kualitas intelektual universitas.
Tema peringatan ini, karena itu, bukan nostalgia. Ia adalah upaya menjaga relevansi nilai profesionalisme di tengah kecepatan.
Peluncuran buku 50 Tahun Suratkabar Kampus UI Salemba setebal 524 halaman diposisikan bukan sebagai monumen masa lalu, melainkan dokumen pembelajaran—mencatat proses, keberhasilan, kesalahan, dan prinsip yang dapat dirujuk generasi berikutnya.
Di akhir sambutan, Antony menutup dengan garis batas yang jelas. Salemba tidak ingin dikenang sebagai simbol konflik.
Ia ingin dikenang sebagai penetap standar: kebebasan yang berjalan bersama tanggung jawab, keberanian yang berdampingan dengan integritas, dan reputasi yang dibangun lewat kerja konsisten, bukan sensasi sesaat.
Setengah abad berlalu. Di Salemba, etika masih dipertahankan—sebagai kerja sunyi yang justru menentukan arah.
****

- Antony Z Abidin, Founder dan Pemimpin Umum Suratkabar Kampus UI SALEMBA, dalam sambutannya pada acara Peringatan 50 Tahun Suratkabar SALEMBA, menyampaikan sebagai berikut:
Hari ini bukan sekadar perayaan usia. Hari ini adalah momen refleksi.
Kita tidak hanya mengenang apa yang pernah terjadi lima puluh tahun lalu, tetapi menanyakan kembali satu hal yang lebih penting: nilai apa yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya.
Lima puluh tahun yang lalu, Salemba lahir bukan sebagai simbol perlawanan, bukan pula sebagai alat propaganda.
Salemba lahir sebagai media kampus yang dikelola secara profesional, dengan satu prinsip sederhana: Bahwa pikiran harus ditulis dengan tanggung jawab, dan kebebasan harus dijalankan dengan etika.
Pada masa itu, kami belajar bahwa menjadi wartawan kampus bukan berarti menulis sesuka hati. Kami harus melalui pendidikan pers.
Tidak semua lulus. Fakta harus diverifikasi. Opini harus dibedakan dari berita. Sumber harus dihormati. Dan setiap tulisan harus dapat dipertanggungjawabkan.
Itulah sebabnya Salemba tidak hanya dibaca di lingkungan kampus, tetapi juga di masyarakat luas. Bukan karena sensasi, melainkan karena kepercayaan.
Namun kita juga tahu, sejarah tidak selalu ramah kepada mereka yang menjaga standar. Salemba pernah dibredel.
Itu adalah bagian dari perjalanan bangsa kita. Tetapi hari ini saya ingin menegaskan satu hal: yang kami wariskan bukanlah kisah pembredelan, melainkan standar profesionalisme.
Universitas Indonesia adalah salah satu institusi intelektual tertua dan paling dihormati di negeri ini. UI telah melahirkan ilmuwan, teknokrat, pemimpin negara, dan tokoh-tokoh yang membentuk arah pembangunan Indonesia.
Di antara tokoh-tokoh itu, hari ini kita merasa terhormat dapat menghadirkan Prof. Dr. Emil Salim. Beliau bukan hanya pelopor penerbitan suratkabar kampus UI pada tahun 1950-an, tetapi juga seorang teknokrat dan negarawan yang integritasnya diakui lintas generasi.
Kita tahu bagaimana beliau memilih tetap menjadi teknokrat ketika ditawari jabatan politik yang sangat tinggi, karena keyakinannya bahwa integritas dan kejujuran adalah fondasi utama pengabdian kepada negara.
Kehadiran beliau hari ini adalah pengingat bahwa tradisi intelektual UI selalu berpijak pada etika, tanggung jawab, dan kepentingan bangsa.
Kita juga merasa terhormat atas kehadiran Bapak Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, yang selama puluhan tahun menjadi rujukan dalam pemikiran hukum dan ketatanegaraan.
Demikian pula Bapak Chairul Tanjung, yang perjalanan kepemimpinannya menunjukkan bahwa profesionalisme, disiplin, dan integritas adalah modal utama membangun organisasi yang berkelanjutan.
Hadirin sekalian, Mengapa acara ini penting di era sekarang?
Kita hidup di zaman digital, di mana informasi mengalir tanpa henti. Setiap orang dapat menjadi “penerbit”. Tetapi justru di tengah arus informasi yang sangat cepat ini, kualitas, etika, dan tanggung jawab semakin dibutuhkan.
Media kampus tidak lagi sekadar sarana latihan menulis. Media kampus adalah bagian dari reputasi institusi akademik. Apa yang ditulis, bagaimana ditulis, dan dengan standar apa sebuah media kampus bekerja, akan mencerminkan kualitas intelektual universitas itu sendiri.
Karena itu, tema yang kita angkat hari ini bukan nostalgia. Tema kita adalah:
bagaimana nilai profesionalisme, etika, dan disiplin jurnalistik tetap relevan, bahkan semakin penting, di era digital.
Buku yang hari ini kita luncurkan, “50 Tahun Suratkabar Kampus UI Salemba”, setebal 524 halaman, bukanlah monumen untuk masa lalu.
Buku ini adalah dokumen pembelajaran. Ia mencatat proses, keberhasilan, kesalahan, dan prinsip-prinsip yang dapat dijadikan rujukan oleh generasi berikutnya.
Hadirin yang saya hormati,
Kami tidak ingin Salemba dikenang sebagai simbol konflik. Kami ingin Salemba dikenang sebagai penetap standar: standar bahwa kebebasan berekspresi harus berjalan bersama tanggung jawab,
bahwa keberanian harus berjalan bersama integritas, dan bahwa reputasi institusi dibangun melalui kerja yang konsisten, bukan sensasi sesaat.
Dengan semangat itu, izinkan saya membuka rangkaian acara peringatan setengah abad Suratkabar Kampus UI Salemba.
Semoga forum ini menjadi ruang refleksi yang jernih, berkelas, dan bermanfaat bagi Universitas Indonesia, bagi mahasiswa hari ini, dan bagi bangsa yang kita cintai.
Kampus UI Salemba, 2026.







