ITNasional

Senjakala Media Digital, Sedang Terjadi. Benarkah?

Oleh: S.S Budi Raharjo MM (CEO majalah eksekutif/Pemred majalah Matra)

Bersama "mbah Google"
876Views

Milenial males dicekoki berita, tapi senang transaksi jual beli. Tanpa perlu lagi pihak perantara, mediator, atau makelar.

MATRANEWS.id — Sekarang ini, bukan saja media televisi dan media cetak yang dipaparkan “surut”, ternyata era kejayaan media online, juga mulai disebut surut.

Loh?  Iya.  Memang, periode tiga tahun lalu, adalah era media online disebut sebagai anak emas internet. Kini, seorang pakar komunikasi menjelaskan banyak hal.

Kris Moerwanto bahkan sempat menulis dan menebak peluang eksistensi:  ‘Media Baru’, paska tamatnya New Media.

Apa itu?

Kris menyebut, media online sampai pada situasi di tahun 2016 ketika itu, senangnya copy-paste. Ide, aspirasi, informasi, atau data. Semuanya direproduksi, diduplikasi, direplikasi sekaligus dibagi. Bisa diakses secara gratis.

Konsultan media, pengamat teknologi, bahkan para media futurist menganalogikan berita di media online itu seperti mie Ramen Jepang.

Sementara berita di Koran atau majalah cetak, diibaratkan hidangan sekelas steak dengan daging pilihan.

Bagaimana di 2019 sekarang ini, ternyata akar masalahnya adalah problem monetisasi.

Model bisnis media online, jualan berita di media online ternyata tidak mudah. Berharap ada penghasilan dari iklan, ternyata sulit.

Masih menurut catatan Kris, media online luar negeri saja sudah ada beberapa yang merugi. Raksasa periklanan juga mengumumkan tak akan lagi meneruskan berbisnis di periklanan.

Para behavioral economists, termasuk yang sudah berkali-kali mewanti, bahwa murah, kini semakin dipersepsi sebagai ‘murahan’.

Fenomena banjir inflasi informasi sampah, semakin menyebabkan apresiasi audiens atas kredibilitas berita via media online, semakin merosot.

Itu berdampak ke aspek “perceived quality” dari konten produk. Tren akses murah-murahan (bahkan hampir gratis), berdampak sangat buruk, bagi bisnis.

Apalagi media sosial membuat semua orang semacam “wartawan”, bisa memproduksi informasi, berita, gossip, isu, atau pesan.

Lansekap media berubah.

Makin maraknya skala penggunaan applikasi di hampir semua hajat kehidupan.

Hanya audiens yang cerdas mencari berita bermutu. Milenial males dicekoki berita, tapi senang transaksi jual beli. Tanpa perlu lagi pihak perantara, mediator, atau makelar.

Bukan berarti “data” menjadi kunci tunggal penentu keunggulan satu-satunya. Pasalnya, dilansekap yang hyper-fragmented; di tengah turbulensi tanpa henti; justru context-lah aspek penentunya.

Tentang persepsi, relevenasi, asosiasi, korelasi, interpretasi dan seterusnya. Ada istilah: content is King. But context is still, the King Maker 🙂 .

Logika harga/beaya beriklan pun berubah. Akibat selanjutnya, profit periklanan, tak lagi berasal dari margin harga jual.

Makin di-klik, makin tak bermakna apa-apa. Audiens merasa iklan tak relevan dengan kebutuhannya.

Banyaknya jumlah penyinggah atau peng-klik media online, makin tak bermakna apa-apa. Jika tak diimbangi berapa banyak yang benar-benar membeli produk/brand yang diiklankan.

Faktanya, mengklik bukan otomatis membeli, menggunakan apalagi mengkonsumsi.

Makin sering, itu karena kepencet secara tak sengaja. Bahkan karena disesatkan oleh desain tampilan yang direkayasa. Atau gara-gara disesatkan click bait.

Semakin menurunnya trend cost-per-click, adalah indikator yang harus diwaspadai. Karena CPC, makna tak harfiahnya, adalah kesediaan pengiklan, membayar ongkos atas iklannya yang diklik.

Sehingga, fakta kecenderungan CPC yang makin murah, bahkan nyaris gratis, antara lain, karena beriklan di medium online belum terbukti efektif.

Cerita mengenai dibalik the brand sebagai kunci keunggulan berkompetisi di tengah pasar, mulai bergeser dari berbasis medium, ke platform, dan semakin bergeser ke pesan yang dipercakapkan secara sosial.

Periklanan bukan yang paling terdengar, yang dijamin pasti terbenar. Pun bukan yang followers-nya banyak, yang menjamin pesan menjadi lebih tersebar.

Bahkan, bukan tokoh ikonik bernama besar dan namanya terkenal, yang menjadikan apa yang dikatakannya, lebih dipercaya audiens.

Trust, reputasi, kredibilitas menjadi target kelompok social-publik.

Yang dikatakan friends, jauh lebih dipercaya dibanding yang diklaim brands. Maunya audiens, bukan dibombardir. Apalagi dieksploitir. Melainkan, mereka berharap didengarkan aspirasinya.

Menjadikan periklanan digital, seakan takdir tak akan pernah menjadi revenue stream. Apalagi, jika bisnis medianya tak sekaliber Facebook, atau Google.

Membahas media masa depan, lebih ke informasi yang tepat di waktu, tempat dan di tangan pihak yang tepat, bisa memberikan dampak perubahan yang lebih baik, seperti mengubah kualitas kehidupan.

Fakta di Indonesia menggambarkan itu: ketika akses website digratiskan, yang singgah jumlahnya bisa mencapai jutaan. Tapi begitu diharuskan berbayar, jumlah penyinggahnya langsung drop.

Jurnalisme berbasis berita yang kini makin bergeser ke cerita, diramal kelak akan menjelma menjadi jurnalisme berbasis data.

Orang lantas ingat dengan adagium ini: bahwa mayoritas (95% keputusan) kita ambil dalam keadaan subconscious mind state. Termasuk, sekadar ikut-ikutan melakukan yang kebanyakan orang lakukan.

Makanya, mayoritas pengguna merasa telah mengambil choice yang tepat. Dengan bersikap ‘percaya saja’ kepada commitment dan integritas pihak ketiga, pengelola keamanan platform.

Media, termasuk personal brand, harus siap-siap ter-disruption. Di-cuekin audiens. Atau mendadak lenyap, digilas perubahan. Peran Media ke depan adalah terkait ‘makna bagi jiwa’.

Karena, masih banyak yang senang membuka lembar majalah seperti halnya membaca buku cetak. Lebih humanis.

Eranya konvergensi, ada di online yang gratis – seperti lazimnya produk buatan pabrik– harus bisa diproduksi sebanyak-banyaknya.

Jadi, sejatinya,  tak hanya TV atau media cetak yang senjakala, jika minat baca kaum milenial lebih senang  IG,  nonton you tube, instastories atau film, memantau netflix, Hooq, iflix dan main game.

Gimana?

Media futurist menganalogikan berita di media online itu seperti mie Ramen Jepang.Berita di Koran atau majalah cetak, diibaratkan hidangan sekelas steak dengan daging pilihan.

Bagaimana di 2019 sekarang ini, ternyata akar masalahnya adalah problem monetisasi.

baca juga: majalah MATRA edisi cetak — klik ini —

Redaksi
the authorRedaksi

Tinggalkan Balasan

Translate »