Simple Sabotage Field Manual, Dokumen CIA Asli?

MATRANEWS.id — Simple Sabotage Field Manual, sebuah dokumen yang diterbitkan oleh Office of Strategic Services (OSS)—pendahulu CIA—pada tahun 1944.

Dokumen ini berisi panduan sabotase sederhana yang dapat dilakukan oleh warga sipil di wilayah musuh selama Perang Dunia II.

Panduan Sabotase Sederhana: Cara Menghambat Musuh dari Dalam

Pada tahun 1944, di tengah berkecamuknya Perang Dunia II, lembaga intelijen Amerika Serikat yang saat itu bernama Office of Strategic Services (OSS) menerbitkan sebuah dokumen rahasia berjudul Simple Sabotage Field Manual.

Tujuan utamanya adalah memandu warga sipil di negara-negara yang diduduki oleh Nazi dan sekutunya untuk melakukan sabotase kecil namun efektif terhadap mesin perang musuh—dari dalam sistemnya sendiri.

Berbeda dari aksi sabotase militer yang memerlukan bahan peledak atau senjata, panduan ini menawarkan metode yang sangat sederhana, tidak mencolok, dan bisa dilakukan siapa saja, kapan saja, dengan alat dan sumber daya sehari-hari.

Meski tampak sepele, tindakan-tindakan ini jika dilakukan secara terorganisir dan berulang bisa menimbulkan dampak besar pada efisiensi pemerintahan, industri, dan organisasi musuh.

Sabotase Fisik: Mengacaukan Infrastruktur dengan Alat Seadanya

Panduan ini memberikan saran sabotase fisik yang bisa dilakukan oleh pekerja pabrik, petugas kereta api, atau bahkan pegawai kantor. Contohnya:

-Melempar pasir atau kotoran ke dalam tangki bahan bakar untuk merusak mesin kendaraan.

-Mengubah penanda jalan atau merusak papan petunjuk untuk membingungkan pasukan atau konvoi musuh.

-Mengganggu jalur rel kereta, seperti melonggarkan baut atau menghalangi sinyal.

Hal-hal kecil ini dimaksudkan agar tidak mudah dicurigai, tapi tetap bisa memperlambat gerakan musuh secara signifikan.

Sabotase Organisasi: Menghambat Lewat Birokrasi

Bagian paling menarik dari panduan ini justru adalah cara menghambat organisasi dari dalam, terutama di kantor, pemerintahan, atau lembaga formal lainnya.

OSS mendorong warga untuk bertindak seolah-olah mereka sedang bekerja seperti biasa, tetapi dengan cara yang sangat tidak efisien.

Berikut beberapa contoh saran sabotase organisasi:

-Selalu bersikeras mengikuti aturan secara kaku meskipun tidak relevan atau sudah tidak masuk akal.

-Mendesak untuk membentuk komite untuk setiap keputusan, sekecil apa pun, agar waktu terbuang dalam diskusi.

-Bertele-tele dalam diskusi, mengulang kembali hal-hal yang sudah disepakati.

-Mengoreksi dokumen yang tidak penting, lalu mengembalikannya karena salah ketik atau kesalahan minor.

-Menunda keputusan dengan alasan perlu “dipertimbangkan lebih lanjut”.

-Mematuhi prosedur dengan cara paling lambat dan meminta persetujuan tertulis atas segala hal.

Bahkan disarankan agar pimpinan bersikap tidak tegas, suka menunda, dan menghindari pendelegasian tugas.

Dengan kata lain, jadilah birokrat yang sangat buruk untuk melemahkan organisasi dari dalam.

Mengapa Panduan Ini Masih Relevan?

Walau dibuat lebih dari 80 tahun lalu, isi Simple Sabotage Field Manual terasa mengejutkan relevan di dunia modern.

Banyak organisasi, baik pemerintahan maupun swasta, secara tidak sadar menciptakan suasana kerja yang justru mirip dengan anjuran sabotase tersebut—terlalu banyak rapat, lambat dalam mengambil keputusan, terlalu birokratis, dan sebagainya.

Beberapa manajer modern bahkan menggunakan dokumen ini sebagai bahan refleksi: Apakah kita secara tak sadar menjalankan organisasi seperti yang disarankan oleh agen sabotase perang?

Simple Sabotage Field Manual adalah bukti bahwa sabotase tidak selalu harus keras, mencolok, atau mematikan.

Justru, sabotase paling efektif bisa datang dari tindakan-tindakan biasa yang disengaja untuk memperlambat, membingungkan, atau membuat frustrasi lawan.

Dokumen ini bukan hanya bagian dari sejarah perang, tapi juga pengingat akan pentingnya efisiensi, keputusan tepat waktu, dan kepemimpinan yang jelas—dalam situasi apa pun.