MATRANEWS.id — Tanamur Dari Denyut Ajojing Ibu Kota Saat Jakarta Belajar Menari
Catatan tentang sebuah klub malam yang pernah menjadi episentrum gaya hidup urban Jakarta
Sebelum Jakarta mengenal Stardust di Hayam Wuruk, Earthquake di sekitar Monas, Lipstick, Happy Day di Blok M, atau Ebony di Kuningan, denyut ajojing ibu kota lebih dulu bersemi di sebuah bangunan di Jalan Tanah Abang Timur. Namanya Tanamur.
Tanamur kerap disebut sebagai tempat diskotek atau klub malam pertama di Jakarta. Ia beroperasi sejak awal 1970-an—sebuah masa ketika hiburan malam masih dipandang asing, bahkan kontroversial, di kota yang sedang belajar menjadi metropolitan.
Tahukah Anda, justru di sanalah Jakarta mula-mula berkenalan dengan musik dansa modern, lampu-lampu disko, dan gaya hidup kosmopolitan yang kelak menjamur di berbagai penjuru kota.
Pada masanya, Tanamur bukan sekadar tempat bergoyang.
Ia adalah ruang pergaulan lintas kelas dan lintas bangsa. Tokoh-tokoh penting dari dalam dan luar negeri—dari diplomat hingga selebritas—pernah singgah.
Malam-malam di Tanamur menyimpan cerita tentang Jakarta yang ingin menatap dunia: berisik, penuh cahaya, dan percaya diri.
Seiring waktu, peta hiburan malam bergeser. Klub-klub baru bermunculan dengan konsep lebih segar, teknologi suara yang mutakhir, dan lokasi yang mengikuti pusat-pusat pertumbuhan kota.
Tanamur bertahan cukup lama—hingga sekitar 2005—sebelum akhirnya menutup pintunya. Tidak ada pesta perpisahan besar; sejarahnya mengendap pelan, seperti lampu disko yang diredupkan satu per satu.
Kini, bangunan yang pernah menjadi ikon klub malam legendaris itu telah beralih fungsi.
Dari tempat orang berdansa hingga dini hari, ia menjelma warung mie ayam—sederhana, bersahaja, dan nyaris tak menyisakan jejak masa lalu.
Ironi itu sekaligus menjadi penanda: kota berubah, ingatan memudar, dan ruang-ruang budaya bisa berganti wajah tanpa aba-aba.
Tanamur mungkin telah lama tutup, namun kisahnya tetap hidup dalam arsip, obrolan nostalgia, dan ingatan kolektif mereka yang pernah merasakan denyut awal hiburan malam Jakarta.
Dari ajojing ke mie ayam, dari lampu disko ke mangkuk kaldu—Tanamur adalah potret bagaimana sebuah kota menua, bertransformasi, dan terus berjalan.
Klik juga: https://www.hariankami.com/pembaca-kami/23616510296/tanamur-ketika-jakarta-belajar-menari







