Wartawan Istana, Apa Sih Hebatnya? Oleh: SS Budi Raharjo MM

MATRANEWS.id– Wartawan Istana, Apa Sih Hebatnya?

“Istana itu bukan kuil para dewa. Ia cuma bangunan megah yang dikelilingi pagar, dijaga pasukan, dan dihuni manusia biasa—presiden, menteri, dan kadang, jurnalis.”

Apa sih hebatnya jadi wartawan istana?

Pertanyaan itu seperti batu kecil yang dilempar ke kolam, membuat riak dalam benak banyak orang.

Wartawan ya wartawan, tugasnya sama: mencari, mengulik, menggali informasi dari sumber yang bisa dipercaya, lalu membaginya ke publik. Tapi ketika kata “istana” disematkan, seolah ada auranya.

Sebentuk legitimasi tak kasatmata yang bisa membuat nama jurnalis melambung—atau terjerembab.

Di lingkungan wartawan, “pos istana” kerap disebut sebagai kasta tertinggi—semacam puncak piramida liputan. Sejatinya, Kasta tertinggi bukan wartawan istana, tapi wartawan investigasi.

Mereka yang punya ID Card Istana seolah telah masuk ke lingkaran eksklusif negeri ini. Mereka tak perlu lagi berdiri lama di luar pagar, menunggu izin masuk seperti rakyat biasa. Mereka cukup menunjukkan selembar kartu, dan pintu-pintu besi yang berat itu akan terbuka.

Tapi benarkah itu puncaknya?

Istana: Sakral, Tapi Bukan Suci

Istana Negara, bagi sebagian orang, adalah simbol kekuasaan tertinggi. Tempat di mana keputusan negara dibuat, dan masa depan bangsa dibicarakan. Tapi bagi seorang wartawan, istana bukan cuma monumen politik—ia juga medan liputan, ladang berita, dan ruang teka-teki.

Setiap presiden datang membawa warna dan aturan sendiri.

Di zaman Soeharto, misalnya, istana ibarat panggung yang rapi—jam tayang selalu tepat, tamu datang teratur, dan berita pun, ya, selalu baik-baik saja.

Masa-masa itu, kata sebagian senior, wartawan istana dikenal karena “amplopnya tebal”, oleh-oleh kunjungan daerah juga tak kalah menggiurkan.

Stigma itu bertahan lama, bahkan hingga kini. Meski wujudnya berubah, kesan glamor itu tak benar-benar hilang.

Di era Soesilo Bambang Yudhoyono dan Jokowi, nuansa berubah. Istana menjadi lebih terbuka—tapi juga lebih sibuk, lebih cair, kadang lebih tidak terduga.

Kini di masa Prabowo, siapa tahu? Karakter pemimpin memengaruhi bagaimana istana dijaga, bagaimana berita dibagikan, dan seberapa dalam wartawan boleh menggali.

Namun satu hal yang harus diingat: istana bukan tempat suci. Ia tempat manusia bekerja.

Presiden pun bukan malaikat. Ia bisa lelah, bisa marah, bisa salah. Dan karena itulah, jurnalisme harus tetap hidup di dalam pagar-pagar kekuasaan itu—untuk mencatat, bukan untuk menjilat.

Tanda Pengenal dan Tanda Tanya

Untuk bisa meliput di istana, ada syarat tak main-main. Dulu harus wartawan senior dan pilihan dari redaksinya, tapi situasi berubah. Karena harus absen tiap hari, kini hanya minimal dua tahun jadi jurnalis, sertifikat kompetensi, media harus terdaftar di Dewan Pers. Dan tentu, lolos verifikasi tim komunikasi istana.

Bukan sembarang orang bisa masuk. Tapi setelah dapat ID itu, lalu apa?

Seseorang pernah bilang, “Kalau kamu bisa bertanya langsung ke Presiden, kenapa harus sibuk kejar-kejaran dengan kepala desa?”

Kalimat itu mengandung kebenaran, sekaligus jebakan. Wartawan istana punya akses, iya. Tapi kadang, akses itu membuat kita lupa bertanya lebih jauh.

Terlalu dekat dengan kekuasaan bisa membuat seseorang kehilangan jarak. Dan kehilangan jarak adalah awal dari kehilangan sikap.

Ketika ID Dicabut

Belakangan, publik dihebohkan dengan kabar seorang wartawan istana dicabut ID-nya. Alasannya belum jelas, simpang siur.

Tapi peristiwa ini membuka kembali pertanyaan lama: seberapa bebas wartawan di jantung kekuasaan? Apakah akses membuat jurnalis semakin tajam, atau justru makin tumpul?

Ini momen refleksi: bahwa ID Card istana, betapapun kerennya, bukanlah mahkota. Bukan pula surat sakti yang menjadikan seseorang lebih jurnalis daripada yang lain.

Kasta tertinggi dalam dunia kewartawanan bukanlah posisi, melainkan keberanian.

Kasta Tertingi Wartawan adalah Wartawan Investigasi, Bukan Wartawan Istana

Dan puncak dari segala puncak, tetaplah jurnalis investigasi—mereka yang memilih jalan sunyi, jauh dari lampu sorot istana, tapi dekat dengan suara rakyat yang sunyi.

Jurnalisme: Antara Pagar dan Pilar

Seorang wartawan istana yang baik bukan sekadar mencatat acara, memotret pidato, atau menyalin rilis. Ia harus bisa membaca gestur, menangkap jeda, menelisik narasi di balik narasi. Tapi ia juga harus ingat: istana bukan satu-satunya sumber kebenaran. Di luar pagar itu, dunia nyata menunggu—dengan segala kompleksitasnya.

Jurnalisme yang sehat adalah jurnalisme yang merdeka. Ia bisa berdiri di istana tanpa menjadi bagian dari istana. Ia bisa duduk bersama menteri, lalu pulang menulis tentang petani.

Jadi, apa sih hebatnya wartawan istana?

Mungkin hebatnya bukan pada kartu identitasnya, tapi pada sejauh mana ia mampu tetap menjadi jurnalis—meski berada di tengah kekuasaan.

Karena di dunia ini, yang paling sulit bukan masuk istana. Yang paling sulit adalah tetap merdeka setelah berada di dalamnya.

Catatan: Tulisan ini adalah bentuk refleksi jurnalisme, bukan serangan personal. Semua yang disebut adalah peristiwa publik yang patut direnungkan bersama.

Klik juga: https://www.hariankami.com/profile-kami/23615995517/wartawan-istana-apa-sih-hebatnya-oleh-ss-budi-raharjo-mm