Yusran Hadromi dan Diplomasi yang Tak Berhenti pada Jabatan

Yusran Hadromi dan Diplomasi yang Tak Berhenti pada Jabatan

MATRANEWS.id — MENOREHKAN JEJAK, MEMBANGUN LEGACY DIPLOMASI

Anjungan dan Taman Indonesia di Botanical Garden Kyif

Yusran Hadromi dan Diplomasi yang Tak Berhenti pada Jabatan

Seorang diplomat biasanya diukur dari jabatan yang pernah didudukinya: sekretaris, konselor, kuasa usaha, atau duta besar. Ada pula yang dikenang karena sebuah perjanjian yang ikut ditandatangani, sebuah perundingan yang berhasil, atau sebuah krisis yang berhasil dilewati.

Catatan pinggirnya adalah, Yusran Hadromi memilih ukuran yang berbeda. 30 tahun berkarir hingga dikirim oleh pemerintah atau negara untuk menyampaikan pesan atau melakukan tugas resmi di tempat lain.

Bagi pria kelahiran 29 Agustus 1969 ini, karier bukan semata-mata soal kapan seseorang mencapai puncak jabatan. Ada sesuatu yang lebih panjang umurnya daripada jabatan: legacy.

“Lebih cenderung ke legacy dan gagasan,” begitu kira-kira cara Yusran melihat perjalanan panjangnya sebagai diplomat. Sebab jabatan, pada akhirnya, akan berganti. Negara tempat bertugas akan berganti. Bahkan kantor tempat bekerja pun akan ditinggalkan.

Yang tersisa adalah jejak. Dan jejak itu tidak selalu berupa sesuatu yang besar.

Kadang sebuah produk Indonesia berhasil masuk supermarket di luar negeri. Kadang sebuah bangunan Indonesia berdiri di ruang publik negara lain. Kadang sebuah hubungan yang dibangun bertahun-tahun kemudian berubah menjadi dukungan politik. Kadang seorang warga negara Indonesia yang sedang berada dalam keadaan sulit merasa bahwa negaranya masih hadir.

Di situlah Yusran menemukan arti pekerjaannya.

Ia tidak selalu berada di panggung utama diplomasi. Ia bukan diplomat yang seluruh kariernya ditandai oleh jabatan duta besar. Tetapi dari Praha, Kyiv, Islamabad hingga Paris, ia meninggalkan sejumlah gagasan yang mencoba membuat kehadiran Indonesia lebih terasa.

Dan mungkin justru di sanalah menariknya perjalanan Yusran Hadromi.

Dari Ekonomi ke Diplomasi

Yusran menyelesaikan pendidikan Sarjana Ekonomi Jurusan Manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila pada 1991. Sebelum masuk ke jalur diplomasi, ia sempat bekerja di sektor swasta, antara lain di PT Balisani dan Jaya Bank.

Jalur diplomatiknya mulai terbentuk setelah mengikuti Sekolah Dinas Luar Negeri pada 1996. Ia kemudian mengikuti Sekolah Staf Dinas Luar Negeri pada 2006 dan Sekolah Staf dan Pimpinan Kementerian Luar Negeri pada 2014.

Kariernya bergerak dari pekerjaan administratif dan kanselerai ke bidang ekonomi, politik, konsuler, protokol, hingga manajemen perwakilan.

Ia pernah ditempatkan di Singapura, Praha, Kyiv dan Islamabad. Setelah bertugas di berbagai posisi di Jakarta, perjalanan itu berlanjut ke Paris.

Di atas kertas, riwayat tersebut tampak seperti jenjang karier seorang diplomat pada umumnya. Akan tetapi jika diperhatikan lebih dekat, terdapat pola yang berbeda.

Yusran tampaknya selalu mencari sesuatu yang bisa ditinggalkan.

Praha: Ketika Diplomasi Membuka Pintu

Praha, Republik Ceko, menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Yusran.

Pada periode 2006–2010, ia menjalankan fungsi konsuler dan ekonomi. Di kota ini ia belajar bahwa diplomasi ekonomi bukan sekadar menghadiri forum bisnis atau memperkenalkan produk Indonesia dalam sebuah pameran.

Diplomasi ekonomi, menurut pengalaman tersebut, adalah pekerjaan membuka pintu.

Salah satu pintu yang coba dibukanya adalah pasar Ceko untuk produk Indonesia.

Indomie menjadi salah satu cerita yang paling menarik. Setelah temu bisnis antara distributor makanan dan minuman Ceko dengan PT Indofood Sukses Makmur yang difasilitasi KBRI Praha, proses penjajakan berlanjut hingga akhirnya ND Impex ditunjuk sebagai distributor resmi Indomie di pasar Ceko.

Pada September 2009, satu kontainer Indomie masuk ke Ceko. Sebulan kemudian, sejumlah varian mulai dipasarkan melalui jaringan ritel setempat.

Tetapi bagi Yusran, pekerjaan tidak berhenti ketika barang sampai. KBRI ikut membantu memperkenalkan produk kepada konsumen, mencari ruang promosi, mempertemukan distributor dan pelaku usaha, serta membangun awareness.

Pola serupa diterapkan pada Gingerbon, Bontea, Hemaviton dan berbagai produk Indonesia lainnya.

Dalam diplomasi seperti ini, seorang diplomat berubah fungsi. Bukan hanya representasi negara. Melainkan market opener. Bukan sekadar hadir di acara. Tetapi menjadi business facilitator.

Dari sana lahir sebuah pemahaman: produk Indonesia membutuhkan pintu masuk, tetapi pintu itu harus dijaga agar tidak kembali tertutup.

Gula, Bandara dan Pelajaran tentang Diplomasi

Praha juga memperlihatkan bahwa tidak semua diplomasi menghasilkan keberhasilan yang bisa dipamerkan.

Yusran ikut menjajaki kerja sama teknologi dan investasi Ceko untuk revitalisasi industri gula Indonesia. Sejumlah perusahaan Ceko dipertemukan dengan mitra Indonesia. Bahkan pernah dibicarakan investasi sekitar US$100 juta untuk pengembangan industri gula.

Tetapi persoalan industri gula ternyata jauh lebih rumit daripada sekadar mendatangkan mesin dan modal. Lahan, bahan baku tebu, rendemen, pembiayaan dan kebijakan menjadi persoalan struktural.

Program itu tidak serta-merta menghasilkan swasembada gula. Namun Yusran tidak melihatnya sebagai kegagalan diplomasi.

Ada pelajaran yang lebih penting: diplomasi dapat membuka pintu, tetapi tidak dapat menggantikan kelayakan sebuah proyek.

Teknologi tanpa bahan baku tidak cukup. Investor tanpa model bisnis tidak cukup. Kesepakatan tanpa ekosistem juga tidak cukup.

Pandangan semacam ini menunjukkan sisi lain Yusran: ia tidak hanya tertarik pada keberhasilan yang terlihat, tetapi juga pada pelajaran yang ditinggalkan sebuah proses.

Hal yang sama terjadi dalam penjajakan keterlibatan perusahaan Ceko pada rencana pembangunan Bandara Internasional Kulon Progo.

Saat itu, perusahaan Ceko melakukan studi dan penjajakan teknologi kebandarudaraan. KBRI berusaha mempertemukan perusahaan, pemerintah daerah, investor dan pemangku kepentingan Indonesia.

Proyek itu kemudian berjalan melalui perjalanan panjang hingga akhirnya Bandara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo diresmikan pada 2020.

Dalam diplomasi, tidak semua orang yang membuka pintu akan berada di ruangan ketika bangunan akhirnya berdiri.

Tetapi tanpa pintu yang dibuka pada awalnya, jalan menuju ke sana mungkin berbeda.

Kyiv: Membuat Indonesia Terlihat

Jika Praha adalah cerita tentang membuka pasar, Kyiv adalah cerita tentang membuat Indonesia terlihat.

Pada 2015–2018, Yusran bertugas sebagai Pelaksana Fungsi Politik KBRI Kyiv dan sempat menjadi Kuasa Usaha Ad Interim.

Di Ukraina, gagasan-gagasan kecil justru mendapatkan panggung yang lebih besar. Salah satunya adalah miniatur Indonesia.

Di Taman “Ukraine in Miniature”, KBRI Kyiv mengembangkan gagasan menghadirkan bangunan-bangunan ikonik Indonesia. Borobudur, Masjid Istiqlal, Katedral Jakarta, Pura Ulun Danu Bratan dan Monas kemudian hadir dalam bentuk miniatur.

Bukan di gedung kedutaan. Bukan dalam acara diplomatik tertutup. Tetapi di ruang publik yang didatangi masyarakat.

Gagasan tersebut bermula dari penjajakan Yusran dengan pengelola taman pada 2017. Pengelola bahkan menyediakan lahan untuk miniatur Indonesia.

Ada logika sederhana di baliknya.

Jika masyarakat Ukraina tidak datang ke Indonesia, maka Indonesia yang datang kepada mereka.

Logika yang sama terlihat dalam gagasan mural di sejumlah gedung di Kyiv. Pihak pemerintah kota memberikan ruang pada sejumlah bangunan untuk karya mural.

Indonesia hadir bukan melalui pidato. Indonesia hadir melalui gambar.

Dalam salah satu kesempatan lain, Yusran juga mendorong partisipasi Indonesia dalam Festival Paskah di kawasan St. Sophia. Sebuah patung kelinci raksasa dihias dengan motif Barong.

Kelinci Barong.

Dua simbol dari dua kebudayaan berbeda bertemu di satu ruang publik. Ribuan orang melihatnya. Sebagian berhenti untuk berfoto. Media ikut memperhatikannya.

Benda itu mungkin sederhana. Tetapi gagasannya tidak.

Indonesia hadir tanpa harus membuat orang datang ke sebuah acara yang bernama Indonesia.

Diplomasi sebagai Seni Menemukan Ruang

Di Kyiv, Yusran juga melihat manusia sebagai aset diplomasi.

Marina Barabash, alumni Darmasiswa yang kemudian bekerja di KBRI Kyiv, diberdayakan untuk menerjemahkan cerita anak Indonesia ke bahasa Ukraina.

Ada pula upaya mendorong keterlibatan warga Ukraina dalam program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia.

Pendekatan semacam ini memperlihatkan keyakinan bahwa diplomasi bukan hanya urusan pemerintah dengan pemerintah.

Diplomasi juga terjadi antara manusia dengan manusia. Seorang mahasiswa. Seorang seniman. Seorang pengusaha. Seorang pengunjung taman. Seorang pembaca buku anak. Seseorang yang pernah mencicipi makanan Indonesia.

Dari hubungan kecil itulah persepsi mengenai sebuah negara dapat terbentuk.

Yusran juga terlibat dalam upaya lobi kepada Georgia dan Armenia untuk mendukung pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB periode 2019–2020.

Kedua negara tersebut kemudian memberikan dukungan melalui diplomatic note. Ia juga, sebagai KUAI, memfasilitasi kunjungan Presiden Ukraina Petro Poroshenko ke Indonesia yang menghasilkan sejumlah kesepakatan.

Diplomasi, dengan demikian, tidak selalu berupa meja perundingan yang panjang. Kadang ia dimulai dari percakapan.  Dari sebuah ide. Dari keberanian mengetuk pintu.

Islamabad: Membangun Rumah Indonesia

Setelah Kyiv, Yusran menuju Islamabad.

Pada 2022–2024 ia menjalankan fungsi Protokol dan Konsuler, sekaligus menjadi Kepala Kanselerai KBRI Islamabad dan menjalankan sejumlah fungsi lain.

Di Pakistan, ukuran legacy berubah. Tidak lagi hanya membuka pintu di luar. Tetapi juga membenahi rumah Indonesia sendiri.

Sebagai Kepala Kanselerai, ia berhadapan dengan pekerjaan yang sering luput dari perhatian publik: gedung, arsip, fasilitas konsuler, keamanan, administrasi dan berbagai kebutuhan internal perwakilan.

Tiga bangunan baru berdiri dalam masa dua tahun: Gedung Konsuler, Gedung Arsip dan Guest House. Sejumlah fasilitas juga direnovasi.

Bagi Yusran, gedung bukan sekadar beton.

Fasad KBRI adalah wajah Indonesia.

Karena itu, pekerjaan yang tampaknya administratif sebenarnya memiliki dimensi diplomatik.

Jika kantor perwakilan adalah rumah Indonesia di negara lain, rumah itu harus mencerminkan negara yang diwakilinya.

Tetapi Islamabad tidak hanya berbicara tentang bangunan.

Di National Book Foundation Islamabad dikembangkan Indonesian Corner. Ada pula gagasan Indonesian Park dengan alokasi lahan lebih dari 5.000 meter persegi.

Diplomasi budaya berjalan bersamaan dengan diplomasi ekonomi dan politik.

Pameran Indonesia digelar. Soekarno diperkenalkan kembali melalui pameran sejarah. Buku Indonesia Spice Up Pakistan ikut menjadi medium memperkenalkan Indonesia.

Ketika Diplomasi Berhadapan dengan Manusia

Islamabad juga memperlihatkan sisi paling sensitif dari pekerjaan seorang diplomat: perlindungan warga negara.

Ada persoalan perkawinan campur. Ada KDRT. Ada masalah overstay. Ada dokumen imigrasi.

Di sini diplomasi tidak lagi berbicara tentang investasi atau perjanjian. Ia berbicara tentang manusia yang berada dalam posisi rentan. Pendekatan pencegahan kemudian dikembangkan melalui sosialisasi dan Warung Konsuler.

Negara hadir bukan hanya ketika masalah terjadi. Tetapi berusaha hadir sebelum masalah menjadi lebih besar.  Gagasan itu kelak menjadi semakin penting ketika Yusran bertugas di Paris.

Paris: Ketika Diplomasi Menjadi Empati

Paris adalah bab yang berbeda.  Sejak 2024, Yusran menjalankan fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Paris.

Kota ini menerima jutaan wisatawan, termasuk warga Indonesia. Di sana pula terdapat komunitas pekerja migran dan WNI dengan persoalan yang beragam.

Ada pencurian. Ada pencopetan. Ada persoalan dokumen perjalanan. Tetapi ada juga persoalan yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan selembar dokumen.

Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah ketika ia mendampingi WNI yang mengalami gangguan kesehatan mental.

Dalam sekitar satu tahun, ia beberapa kali mengunjungi rumah sakit untuk menemui tiga WNI berbeda.

Pendekatannya bukan menggurui. Ia mendengarkan. Membangun rasa aman. Memberikan penghargaan dan empati.

Di titik ini, diplomasi konsuler menemukan bentuknya yang paling manusiawi. Ada kalanya negara hadir dalam bentuk paspor.

Ada kalanya dalam bentuk surat perjalanan. Tetapi pada situasi tertentu, negara hadir melalui seseorang yang bersedia duduk, mendengar dan menemani.

Menjaga Warisan yang Terbawa ke Luar Negeri

Paris juga mempertemukan Yusran dengan persoalan perlindungan warisan budaya.

Ya, kasus Arca Nias yang berada dalam proses hukum di Prancis menjadi salah satu contoh.

KBRI Paris menyampaikan berbagai bukti pendukung kepada pihak berwenang Prancis untuk memperkuat asal-usul dan status arca sebagai warisan budaya Indonesia.

Proses hukum kemudian berjalan melalui otoritas terkait di Prancis. Upaya koordinasi dan komunikasi terus dilakukan untuk mengawal proses tersebut dan mengupayakan pengembalian arca kepada Indonesia.

Di sini diplomasi mengambil bentuk lain. Bukan membuka pasar. Bukan membangun taman. Bukan memperkenalkan makanan. Tetapi menjaga agar sesuatu yang merupakan bagian dari sejarah Indonesia tidak hilang begitu saja di luar negeri.

Empat Kota, Satu Benang Merah

Praha. Kyiv. Islamabad. Paris.

Empat kota itu memberikan pengalaman yang berbeda.

Praha mengajarkan Yusran membuka pintu ekonomi.

Kyiv mengajarkannya bagaimana membuat Indonesia terlihat.

Islamabad mengajarkannya bagaimana membangun rumah Indonesia sekaligus hadir bagi warga negara.

Paris mengajarkannya bahwa pada akhirnya diplomasi adalah soal manusia. Dan, tahukah Anda di antara keempatnya terdapat satu benang merah. Yusran cenderung melihat kemungkinan.

Ketika melihat produk Indonesia, ia melihat pasar. Ketika melihat festival lokal, ia melihat ruang untuk Indonesia. Ketika melihat alumni Darmasiswa, ia melihat calon duta budaya.

Ketika melihat gedung KBRI, ia melihat wajah Indonesia. Ketika melihat WNI dalam kesulitan, ia melihat tanggung jawab negara. Ketika melihat artefak Indonesia di luar negeri, ia melihat kewajiban untuk memperjuangkan pemulihannya.

Itulah cara kerja seorang diplomat yang memandang pekerjaan bukan semata sebagai rutinitas.

Legacy yang Tidak Selalu Berbentuk Monumen

Menariknya, tidak semua gagasan Yusran berakhir sebagai keberhasilan. Ada yang menjadi proyek. Ada yang berhenti sebagai penjajakan.

Ada yang berjalan, kemudian berhenti. Ada yang hasilnya dapat dihitung. Ada pula yang nilainya hanya terasa melalui hubungan antarmanusia.

Toyota Prado yang dihias dengan truck art Pakistan adalah contoh yang sederhana.

Kendaraan itu pernah menjadi media diplomasi budaya. Ikon Indonesia dan simbol Pakistan bertemu di badan sebuah kendaraan. Ia menarik perhatian dalam berbagai kegiatan KBRI.

Kini kendaraan itu telah dihapus dari inventaris. Secara fisik ia tidak ada lagi. Tetapi bagi Yusran, legacy tidak harus selalu bertahan dalam bentuk benda. Yang penting adalah cerita yang ditinggalkannya.

Sebuah mobil dapat hilang. Ingatan tidak selalu demikian.

Bukan Tentang Menjadi Duta Besar

Ada sesuatu yang menarik dari cara Yusran memandang kariernya.

Ia menyadari bahwa perjalanan menuju masa pensiun bukanlah cerita yang paling menarik untuk diceritakan.

Jabatan terakhirnya sebagai Minister Counsellor sekaligus Pelaksana Fungsi Protokol dan Konsuler Perwakilan RI di Paris hanyalah salah satu titik dalam perjalanan panjang itu.

Yang lebih penting adalah apa yang ditinggalkan. Sebab seorang diplomat pada akhirnya akan pergi.

Kantor akan ditempati orang lain. Meja akan digunakan pejabat berikutnya. Nomor telepon akan berganti.

Tetapi jika sebuah hubungan tetap hidup, sebuah program terus berjalan, sebuah ruang masih membawa nama Indonesia, atau seseorang masih mengingat Indonesia karena pernah bertemu seorang diplomat Indonesia, maka pekerjaan itu belum benar-benar selesai.

Itulah mungkin ukuran legacy yang paling masuk akal. Bukan berapa tinggi jabatan. Bukan berapa lama seseorang berada di sebuah negara. Melainkan apa yang masih hidup setelah ia pergi.

Yusran Hadromi tampaknya memilih ukuran itu.

Ia menorehkan jejak dengan cara yang tidak selalu gaduh. Membuka pintu. Mengetuk kesempatan.

Mempertemukan orang. Mengubah gagasan menjadi ruang. Mengubah hubungan menjadi kerja sama. Mengubah tugas administratif menjadi perbaikan institusi.

Dan dalam beberapa keadaan, mengubah tugas konsuler menjadi kehadiran negara yang terasa manusiawi.

Karena diplomasi, pada akhirnya, bukan hanya tentang negara bertemu negara. Diplomasi adalah tentang manusia yang bertemu manusia.

Dan legacy seorang diplomat mungkin justru dimulai ketika masa tugasnya berakhir: ketika apa yang pernah ia kerjakan masih memberi jalan bagi orang lain.

Yusran Hadromi sedang meninggalkan jejak itu.

Exit mobile version