Perry Tristianto Tedja: Membangun Pariwisata di Era Digital dengan Sentuhan Hospitality

MATRANEWS.id Perry Tristianto Tedja: Membangun Pariwisata di Era Digital dengan Sentuhan Hospitality

Ketika sebagian besar pelaku usaha sibuk berbicara tentang digitalisasi, kecerdasan buatan (AI), hingga transformasi teknologi, Perry Tristianto Tedja justru memiliki pandangan yang berbeda.

Bagi entrepreneur asal Bandung ini, teknologi memang penting, tetapi tidak pernah bisa menggantikan sentuhan manusia.

Menurutnya, keberhasilan sebuah bisnis, terutama di sektor pariwisata, tetap ditentukan oleh satu hal yang sederhana: hospitality atau keramahtamahan.

Pandangan itulah yang menjadi fondasi seluruh perjalanan bisnis Perry setelah meninggalkan masa kejayaan Factory Outlet (FO) di Bandung.

Ketika tren wisata belanja mulai mengalami kejenuhan, ia menjadi salah satu pengusaha yang paling cepat membaca perubahan perilaku wisatawan.

Ia menyadari bahwa orang tidak lagi datang ke Bandung hanya untuk membeli pakaian murah bermerek. Mereka mulai mencari pengalaman, suasana, dan tempat yang dapat memberikan cerita untuk dibagikan kepada orang lain.

Dari pengamatan itu lahirlah transformasi besar dalam perjalanan bisnisnya. Perry melakukan shifting dari bisnis ritel menuju industri pariwisata kreatif atau eco-tourism yang menggabungkan wisata, kuliner, budaya, hiburan, dan pengalaman keluarga dalam satu kawasan terpadu.

Langkah tersebut melahirkan berbagai destinasi wisata yang kini menjadi ikon Kabupaten Bandung Barat, seperti Floating Market Lembang, Farmhouse Lembang, The Great Asia Africa, Lembang Wonderland, De Ranch, hingga sejumlah destinasi kuliner tematik lainnya.

Masing-masing tidak sekadar menjadi tempat rekreasi, tetapi dirancang sebagai ruang pengalaman yang mendorong pengunjung berinteraksi, berfoto, menikmati kuliner, sekaligus mengenal produk-produk lokal.

Menurut Perry, perubahan perilaku wisatawan di era digital justru semakin memperkuat pentingnya kreativitas.

Kehadiran media sosial membuat destinasi wisata tidak lagi cukup hanya memiliki pemandangan yang indah. Sebuah tempat harus memiliki cerita, konsep, dan pengalaman yang berbeda agar mampu menarik perhatian publik.

“Jangan mengikuti pasar yang sudah ada, tetapi ciptakan pasar baru,” menjadi prinsip yang terus dipegangnya selama puluhan tahun membangun usaha. Filosofi tersebut membuat Perry dikenal sebagai market creator, bukan sekadar pelaku bisnis yang mengikuti tren.

Meski demikian, ia tidak menolak kemajuan teknologi. Perry mengakui bahwa digitalisasi telah mengubah cara masyarakat berwisata maupun berbelanja. Media sosial, platform digital, hingga sistem pembayaran elektronik dinilai mampu mempercepat pelayanan dan memperluas jangkauan pasar.

Namun, menurut alumnus Stamford College, Singapura itu, teknologi hanya berfungsi sebagai alat bantu. Keputusan wisatawan untuk datang kembali tetap ditentukan oleh bagaimana mereka diperlakukan selama berada di lokasi wisata.

“Teknologi hanya membantu manusia. Yang tidak bisa digantikan adalah hospitality,” ujarnya.

Karena itulah, ia sangat memperhatikan detail operasional di setiap unit usahanya. Mulai dari cara menyambut tamu, kebersihan lingkungan, kualitas makanan, hingga pelayanan para karyawan harus mampu memberikan kesan yang hangat kepada pengunjung.

Menurutnya, pelayanan yang tulus jauh lebih berharga dibandingkan teknologi yang paling canggih sekalipun.

Prinsip tersebut juga diterapkan dalam pengembangan UMKM yang menjadi bagian dari ekosistem wisata miliknya.

Di Floating Market Lembang, misalnya, lebih dari seratus pelaku usaha kecil diberi kesempatan mengembangkan produk kuliner dan kerajinan mereka.

Perry percaya bahwa wisata tidak hanya harus menguntungkan pengelola, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.

Baginya, pelaku UMKM memiliki “roh” yang tidak dimiliki perusahaan besar. Mereka memahami produknya, mengenal pelanggan, dan mampu menghadirkan pelayanan yang lebih personal.

Karena itu, keberadaan UMKM selalu menjadi bagian penting dalam setiap destinasi wisata yang ia bangun.

Di tengah derasnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan, Perry tetap optimistis terhadap masa depan industri pariwisata Indonesia.

Ia meyakini kebutuhan manusia untuk berinteraksi secara langsung tidak akan pernah hilang. Justru ketika kehidupan semakin digital, masyarakat akan semakin membutuhkan ruang untuk berkumpul, menikmati alam, dan memperoleh pengalaman yang autentik.

Pandangan itulah yang kini juga mendorong ketertarikannya melihat potensi pengembangan pariwisata di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Bukan pembangunan gedung pemerintahan yang menarik perhatiannya, melainkan peluang menciptakan destinasi wisata baru bagi masyarakat di sekitar Balikpapan, Samarinda, dan Kutai.

Menurutnya, setiap pusat pertumbuhan ekonomi baru akan selalu melahirkan kebutuhan baru di sektor rekreasi dan hiburan.

Lebih dari empat dekade berkiprah di dunia usaha, Perry Tristianto Tedja menunjukkan bahwa keberhasilan bisnis bukan hanya soal mengikuti perkembangan teknologi.

Yang jauh lebih penting adalah kemampuan membaca perubahan perilaku manusia. Teknologi akan terus berubah, tren akan datang dan pergi, tetapi kreativitas, inovasi, dan hospitality akan selalu menjadi fondasi utama dalam membangun bisnis yang mampu bertahan lintas zaman.

klik juga: Perry Tristianto Tedja Sang Pencipta Pasar yang Tak Pernah Berhenti Berinovasi – Harian Kami