Kenangan Lama di Kampus Manglayang: Saat Prabowo Menemukan Kembali Jejak Sejarah IPDN

MATRANEWS.idKenangan Lama di Kampus Manglayang: Saat Prabowo Menemukan Kembali Jejak Sejarah IPDN

Ada satu momen kecil yang luput dari sorotan utama ketika Presiden Prabowo Subianto melantik 1.204 Pamong Praja Muda IPDN Angkatan XXXIII di Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor, Rabu, 29 Juli 2026.

Momen itu bukan terjadi saat pidato, bukan pula ketika parade berlangsung, melainkan ketika selembar foto lawas diperlihatkan kepadanya.

Presiden berhenti sejenak. Pandangannya tertuju pada foto yang diambil lebih dari tiga dekade silam.

presiden mengatakan bahwa Ia sebenarnya termasuk keluarga besar Alumni Pamong Praja IPDN. Warek Prof. Hyro dan Dr. Arief meyakinkan beliau secara historis.

Dalam gambar itu tampak sosok Danjen Kopassus Prabowo Subianto muda menghadiri seminar penguatan integrasi Timor Timur di Balairung Rudini, Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN), 11 Desember 1995.

Foto tersebut menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan hari ini.

Yang memperlihatkan dokumentasi itu kepada Presiden adalah salah seorang sahabat lamanya, Dr. Arief M. Edie, yang kini menjabat Wakil Rektor IPDN. Keduanya kemudian terlibat percakapan hangat mengenai berbagai kenangan di Kampus Manglayang.

Jejak Sejarah yang Masih Tersimpan

Pada 1995, Prabowo hadir sebagai narasumber seminar yang membahas penguatan integrasi Timor Timur. Saat itu ia didampingi Ketua STPDN Mayjen (Purn.) IGK Manila serta Gubernur Timor Timur Jose Abilio Osorio Soares.

IGK Manila merupakan Ketua STPDN kedua setelah Mayjen (Purn.) Sartono Hadisumarto dan memimpin kampus sejak angkatan kelima. Di bawah kepemimpinannya, STPDN berkembang sebagai salah satu institusi strategis yang menyiapkan kader pemerintahan.

Melihat kembali foto tersebut, Presiden tampak terkejut sekaligus tersenyum. Ingatannya kembali pada sebuah masa ketika ia masih aktif sebagai perwira TNI dan beberapa kali berinteraksi dengan lingkungan pendidikan pamong praja.

Percakapan kemudian mengalir ke sejarah yang lebih jauh.

Pihak civitas akademika menjelaskan bahwa Raden Mas Margono Djojohadikusumo—tokoh pergerakan nasional sekaligus kakek Presiden Prabowo—merupakan alumnus OSVIA Magelang tahun 1911, sekolah pendidikan calon pamong praja pada masa Hindia Belanda.

Penjelasan itu membuat hubungan Presiden dengan IPDN terasa bukan sekadar hubungan kelembagaan, melainkan memiliki akar historis yang panjang.

Lima Jam yang Tidak Biasa

Pelantikan Pamong Praja Muda sebenarnya hanya berlangsung sekitar satu jam, mulai pukul 08.30 hingga 09.30 WIB.

Namun Presiden baru meninggalkan kampus sekitar pukul 13.30 WIB.

Hampir lima jam berada di lingkungan IPDN merupakan durasi yang tidak lazim untuk sebuah agenda kenegaraan.

Setelah mendarat menggunakan helikopter di lapangan sepak bola kampus, Presiden mengikuti prosesi pelantikan, berpidato, berfoto bersama para Pamong Praja Muda di lapangan parade, kemudian menyaksikan atraksi victory lengkap dengan yel-yel yang menjadi tradisi korps pamong praja.

Di sela-sela rangkaian acara itu, ia juga menghabiskan waktu cukup lama berbincang dengan pimpinan IPDN di ruang penerimaan tamu.

Ketika menaiki mobil golf menuju lapangan parade, menurut sejumlah pejabat kampus, Presiden sempat berkelakar bahwa dirinya sebenarnya termasuk bagian dari keluarga besar pamong praja.

Ucapan itu kemudian ditanggapi oleh Wakil Rektor Prof. Hyronimus dan Dr. Arief M. Edie yang menjelaskan hubungan historis keluarga Djojohadikusumo dengan pendidikan kepamongprajaan melalui OSVIA.

Mengenang IGK Manila

Salah satu percakapan yang mengundang suasana haru terjadi ketika Presiden bertanya mengenai IGK Manila, mantan Ketua STPDN yang pernah mendampinginya pada seminar tahun 1995.

Ia baru mengetahui bahwa IGK Manila telah wafat.

Pertanyaan sederhana itu memperlihatkan bahwa ingatan terhadap tokoh-tokoh lama masih tersimpan, meski telah berlalu lebih dari 30 tahun.

Sejarah, dalam momen seperti itu, tidak lagi berupa arsip atau dokumentasi. Ia hadir sebagai hubungan antarmanusia yang kembali dipertemukan oleh waktu.

Lebih dari Sekadar Nostalgia

Kunjungan Presiden Prabowo ke IPDN tidak hanya dimaknai sebagai agenda pelantikan pejabat muda pemerintahan.

Bagi civitas akademika IPDN, kehadiran Presiden juga menjadi pengingat bahwa sebuah institusi tidak hanya bertahan karena gedung, kurikulum, atau organisasinya, melainkan juga karena kemampuannya merawat memori kolektif.

Sejarah menjadi perekat antara generasi terdahulu dan generasi yang sedang dipersiapkan untuk memimpin birokrasi Indonesia di masa depan.

Filsuf Romawi Marcus Tullius Cicero pernah menyebut sejarah sebagai “saksi waktu, cahaya kebenaran, kehidupan memori, guru kehidupan, dan pembawa pesan masa depan.” Sementara filsuf George Santayana mengingatkan bahwa mereka yang melupakan sejarah berisiko mengulang kesalahan yang sama.

Di Kampus Manglayang, pelajaran itu hadir bukan melalui pidato panjang, melainkan melalui selembar foto lama yang mampu menghidupkan kembali kenangan, mempertemukan sahabat lama, dan mengingatkan bahwa perjalanan sebuah bangsa selalu dibangun di atas ingatan yang dirawat.

Momen Wakil Rektor IPDN Arief M Edie bersama Prabowo yang jadi kenangan