Budaya  

Indonesia Tahun 2100: Akankah Budaya Kita Masih Bertahan di Tengah Arus Globalisasi?

Sumpah Pemuda
Foto : Ilustasi IA

MATRANEWS.ID – Pada tahun 2100, akan seperti apa wajah budaya Indonesia?

Pertanyaan ini tidak hanya mengusik akademisi dan pelaku budaya, tetapi juga generasi muda yang saat ini tengah hidup dalam pusaran digitalisasi, modernisasi, dan globalisasi.

Perubahan iklim, kemajuan teknologi, hingga pergeseran nilai hidup manusia ikut menjadi faktor penentu apakah kebudayaan Indonesia akan tetap lestari atau justru menjadi artefak sejarah belaka.

Di tengah perubahan yang masif, budaya Indonesia menghadapi ancaman pelan namun nyata: ketercerabutan dari akar identitasnya.

Situasi ini menjadi peringatan serius bagi siapa pun yang peduli terhadap eksistensi bangsa. (19/05/2025)

Jejak Tradisi di Tengah Digitalisasi

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa hanya sekitar 28% generasi muda usia 15–24 tahun yang memiliki ketertarikan mendalam terhadap budaya lokal.

Sebaliknya, hampir 72% lebih familiar dan tertarik pada budaya populer dari luar negeri.

Fenomena ini tidak muncul tiba-tiba.

Kemajuan teknologi dan kemudahan akses terhadap konten global telah menjadikan budaya asing bagian dari keseharian anak-anak muda Indonesia.

Wayang dan gamelan bersaing ketat dengan K-pop dan anime Jepang dalam ranah konsumsi budaya remaja.

Pemerintah dan Tantangan Pelestarian

Upaya pemerintah dalam melestarikan budaya terus dilakukan, misalnya melalui Dana Indonesiana dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Program ini memberikan bantuan kepada pelaku budaya agar bisa terus berkarya dan mendokumentasikan tradisi.

Namun, upaya ini tidak akan cukup jika tidak diikuti dengan penguatan ekosistem budaya yang inklusif dan adaptif.

Salah satu tantangan terbesar adalah menjadikan budaya sebagai bagian dari gaya hidup generasi muda, bukan hanya sebagai warisan masa lalu.

Tanpa pendekatan baru yang lebih segar dan partisipatif, upaya pelestarian hanya akan menjadi formalitas birokratis.

Potensi dan Harapan dari Komunitas Akar Rumput

Di sisi lain, masih ada harapan dari komunitas-komunitas budaya yang tumbuh dari akar rumput.

Beberapa kelompok seni di Yogyakarta, Bali, dan Sulawesi aktif melakukan inovasi pada ekspresi budaya lokal agar bisa diterima generasi sekarang.

Contohnya, Sanggar Seni Kinara di Sleman menggabungkan pertunjukan wayang dengan teknologi augmented reality (AR) untuk menarik minat milenial dan Gen Z.

Inisiatif-inisiatif semacam ini membuktikan bahwa budaya tidak harus kalah oleh zaman.

Ia hanya butuh ruang, dukungan, dan cara baru agar bisa terus hidup dan berkembang.

Tahun 2100: Sebuah Titik Ujian

Jika tren ini berlanjut tanpa intervensi strategis, Indonesia berisiko kehilangan sebagian besar ekspresi budaya otentiknya.

UNESCO pernah memperingatkan bahwa satu bahasa daerah punah setiap dua minggu.

Di Indonesia, sudah lebih dari 10 bahasa daerah tidak memiliki penutur aktif lagi per tahun 2023.

Tahun 2100 mungkin akan menjadi titik ujian terakhir: apakah budaya kita hanya tinggal cerita, atau masih hidup dalam tindakan sehari-hari masyarakat.

Kuncinya ada pada keberanian untuk beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.

Dan itu bukan tugas segelintir orang, melainkan tanggung jawab bersama sebagai bangsa.

Refleksi: Membudayakan Kembali Budaya

Tantangan utama Indonesia bukan sekadar mempertahankan warisan, tetapi menjadikan budaya sebagai kekuatan hidup bangsa.

Budaya harus kembali ke tengah masyarakat, bukan dipinggirkan sebagai bagian dari masa lalu.

Pendidikan harus memosisikan kebudayaan bukan sekadar pelajaran, tetapi praktik hidup yang menyatu dalam aktivitas keseharian.

Kolaborasi lintas generasi dan lintas sektor menjadi syarat penting dalam menjaga nyala kebudayaan agar tidak padam di tahun-tahun mendatang.

Budaya bukan hanya soal masa lalu—ia juga tentang masa depan yang ingin kita bentuk bersama.

10 FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

  1. Apa yang dimaksud dengan budaya Indonesia tahun 2100?
    Budaya Indonesia tahun 2100 merujuk pada kondisi, bentuk, dan keberlangsungan identitas budaya Indonesia di masa depan, termasuk tradisi, bahasa, seni, dan nilai-nilai lokal.
  2. Apa ancaman terbesar bagi budaya Indonesia ke depan?
    Globalisasi, digitalisasi, perubahan nilai generasi muda, serta kurangnya regenerasi pelaku budaya menjadi ancaman utama.
  3. Apakah teknologi bisa membantu pelestarian budaya?
    Ya, teknologi seperti AR/VR, media sosial, dan platform digital bisa menjadi alat baru untuk mempopulerkan dan mengarsipkan budaya lokal.
  4. Bagaimana peran pemerintah dalam menjaga budaya?
    Pemerintah memberikan pendanaan, regulasi, dan program pelestarian, seperti Dana Indonesiana dan program revitalisasi bahasa daerah.
  5. Apakah budaya asing berpengaruh negatif terhadap budaya lokal?
    Tidak selalu negatif, tetapi bisa menggeser budaya lokal jika tidak diimbangi dengan penguatan identitas budaya sendiri.
  6. Apa peran generasi muda dalam menjaga budaya Indonesia?
    Generasi muda bisa menjadi agen transformasi budaya dengan cara mempelajari, menghidupkan, dan menginovasikan budaya lokal.
  7. Apakah semua budaya tradisional harus dipertahankan?
    Budaya yang relevan dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal sebaiknya dilestarikan dan dikembangkan.
  8. Apa contoh inovasi budaya lokal yang sukses menarik generasi muda?
    Pertunjukan wayang berbasis AR, gamelan digital, dan pengarsipan cerita rakyat melalui podcast atau YouTube.
  9. Bagaimana memastikan budaya tetap hidup di tahun 2100?
    Dengan menjadikannya bagian dari sistem pendidikan, gaya hidup, dan memperkuat dukungan terhadap pelaku budaya.
  10. Mengapa budaya penting untuk masa depan bangsa?
    Budaya adalah identitas dan fondasi karakter bangsa. Tanpa budaya, sebuah bangsa kehilangan arah dan jati dirinya.