MATRANEWS.id — Silaturahmi Fotografer Lintas Genre: Dari Klise Analog hingga Cekrek Digital bertajuk TemuLawas#10
Suasana hangat dan penuh semangat tumpah ruah di Darwis Triadi School of Photography (DTSOP), Kemang Raya, Jakarta Selatan, dalam sebuah perhelatan istimewa bertajuk TemuLawas#9: Fotografer dan Model.
Bukan sekadar reuni, TemuLawas#10 adalah panggung silaturahmi lintas generasi yang menyatukan para penggiat fotografi dari berbagai genre, era, dan medium—dari yang terbiasa dengan kamera analog hingga yang kini lihai dengan sensor digital.
Dibuka dengan makan siang penuh cita rasa khas Indonesia—tahu dan tempe bacem, ayam bumbu rujak, hingga aneka kudapan lezat—TemuLawas#10 langsung menjelma menjadi ruang berbagi yang mengalir alami.
Tidak ada sekat, tidak ada kasta. Fotografer dari berbagai latar belakang duduk di ruangan studio besar. Mereka ngobrol asyik dan berbagi cerita, pengalaman, hingga tawa.
Yang membuat momen ini makin istimewa: acara ini disponsori penuh. Para peserta bisa datang tanpa biaya (gratis), menjadikan kebersamaan ini benar-benar “lecker zonder betalen”—enak tanpa bayar, namun penuh makna.
Ragam Genre, Satu Komunitas
Beragam genre hadir, dari fotografer fashion, pernikahan, travel, jurnalistik, produk, hingga drone dan makanan.
Diskusi pun menjalar ke topik-topik serius—etika dalam memotret, realita harga jasa yang terus tergerus, hingga bagaimana tetap relevan di tengah derasnya perkembangan teknologi.
Salah satu momen yang menarik, adalah cerita seorang fotografer muda yang memotret jenazah sebagai bagian dari pilihan genre untuk mencari cuan.
Kiat bagaimana fotografer berjuang untuk eksis dengan segala perniknya, bukan hanya soal visual, tapi juga menyangkut tips menjaga reputasi profesional, membangun jaringan, hingga pentingnya kolaborasi di industri kreatif.
Meski realita kadang pahit, soal era banting harga di era digital obrolan dipenuhi gelak tawa dan semangat—mengingatkan kembali bahwa fotografi bukan hanya soal cuan, tapi soal cinta pada proses dan cerita di baliknya.
Saat malam tiba, nostalgia kian terasa. Cerita tak lagi soal kamar gelap, cetak klise, hingga proses afdruk manual. Tapi Darwis Triadi, sang tuan rumah sekaligus legenda fotografi Indonesia, turut berbagi kisah spiritualnya dalam menjalani perjalanan panjang di dunia fotografi.
Sebagai penutup, Mas Darwis memberikan buku kenangan kepada tiap fotografer. Sebuah simbol bahwa kenangan hari itu tidak boleh menguap begitu saja. Tapi menjadi alasan untuk terus bertemu dan berbagi di masa mendatang.
Menuju Temu-Temu Berikutnya
Koordinator acara, Rr Kori Soenarko—akrab disapa Oie—menggugah semangat peserta, “Nanti kita bikin per tiga bulan sekali ya.” Ucapannya disambut riuh tepuk tangan dan senyum lebar para peserta yang merasa pulang membawa sesuatu yang tak kasat mata, tapi nyata: rasa memiliki satu sama lain sebagai komunitas.
TemuLawas#10 membuktikan bahwa fotografi bukan sekadar teknik dan estetika, melainkan tentang rasa, persaudaraan, dan kenangan. Sebuah ruang yang merayakan cahaya dan bayangan, sekaligus menyatukan hati-hati yang terhubung lewat lensa.

foto: Drigo L Tobing









