Antologi Puisi Prof Dibia: KUMPICAK


Antologi Puisi Prof. Dibia : KUMPICAK

Membaca kumpulan puisi Prof. Dibia yang terhimpun dalam buku Kumpicak (Kumpulan Puisi Kecak) ini – sangat menarik. Sebab, terlihat, transformasi atau alih wahana dari tari ke puisi tidaklah mudah.

Tentu, penulis mesti memahami hal-ihwal seni tari tersebut, baik dari sudut estetika, maupun praksis dan teoritis. Demikian juga manakala Prof. Dibia menulis puisi yang terinspirasi oleh seni tari.

Sudah tentu, beliau sangat memahami obyek atau ‘bahan baku’ proses kreatifnya dalam menulis puisi. Pasalnya, beliau adalah budayawan dan maestro seni sekaligus Guru Besar koreografi Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Sebab, mengalihkan tarian menjadi puisi membutuhkan observasi yang mendalam, sensitivitas terhadap gerakan dan emosi, serta keterampilan untuk menggambarkan semuanya dalam kata-kata.

Begitulah yang dilakukan Dibia pada proses penciptaan buku teranyarnya ini.

Proses ini memungkinkan kita untuk menangkap esensi tarian dan menyampaikannya melalui medium yang berbeda, menciptakan pengalaman artistik yang baru – melalui kata.

Prof. Dibia sudah puluhan tahun bergelut di dunia pendidikan dan seni pertunjukan, punya kapasitas ini.

Buku Kumpicak, seperti sudah disebutkan di atas, merupakan karya paling baru Prof Dibia. Sebelumnya, dalam antologi puisinya “seri Puitika Tari”, Dibia juga banyak menulis puisi tentang penari.

Mungkin, demikian juga di tanah air – tidak banyak puisi yang terinspirasi dari tarian – dan lebih banyak tarian yang terinspirasi dari puisi atau karya sastra lainnya. Tapi saya yakin, pasti ada penyair kita yang menulis puisi tentang tari dan penari.

Pada antologi puisi kali ini, Prof Dibia, Puisi-puisi Prof. Dibia, tak hanya ‘kumpulan estetika’ semata, tapi juga hal-ihwal kesejarahan, kosmologi, etnologi, dan makna simbolis tari bali – khususnya yang berkait dengan Cak dan Sanghyang di buku ini.

Seperti kita ketahui, Wayan Limbak adalah pencipta tari Kecak. Sekitar tahun 1930an, ia bersama Walter Spies, seorang koreografer dan pelukis asal Jerman, memodifikasi tarian Sanghyang menjadi tari Kecak yang saat ini kita kenal.

Dalam modifikasi tarian tersebut, Limbak dan Spies menyisipkan sebuah cerita yang diambil dari epos Ramayana.

Beberapa penari, dilibatkan untuk menarasikan wiracarita Ramayana itu, khususnya saat Hanoman dan pasukannya membantu Rama melawan Rahwana.

Pada mulanya tari Cak berkait erat dengan tari Sanghyang, yang ditarikan manakala ada wabah, atau menurut jadwal ritual keagamaan.

Ketika itu, Cak dikategorikan sebagai tarian sakral. Limbak dan Spies memodifikasi menjadi tarian profan.

Mungkin, menurut pemikiran Walter spies, agar para wisatawan bisa menikmati tari Cak — yang kemudian menjadi Kecak, tanpa menunggu kegiatan ritual keagamaan atau adanya wabah. Spies adalah seorang seniman lukis, musik, komposer, koreografer, dan pemikir.

Puisi yang bertajuk Cak, mengangkat tradisi Bali yang kaya akan elemen budaya dan spiritual. “Gamelan suara” atau Chorus, yang merupakan ciri khas dari Tari Kecak, diambil sebagai inti dari puisi ini.

Hal ini menunjukkan bagaimana seni pertunjukan tradisional berperan penting dalam kehidupan masyarakat Bali.

Hampir setiap upacara keagamaan di Bali, acap diikuti oleh pementasan seni pertunjukan. Kehidupan masyarakat Bali, memang tak terlepas dari seni.

Penggunaan gamelan suara yang dipilih oleh warga “berkat pawisik semesta” selain mencerminkan penghormatan dan keterhubungan dengan alam serta kepercayaan spiritual, juga merupakan upaya membentuk identitas kolektif.

“Gamelan suara” dalam puisi ini diibaratkan sebagai suara manusia (Chorus) yang “menggema serupa gamelan”, juga mencerminkan bagaimana elemen-elemen budaya dapat menggambarkan keindahan dan kompleksitas kehidupan manusia.

Begitulah indahnya seni tari di Bali. Seorang pengamat Budaya menuturkan – ada kesan bahwa meskipun karya tari Bali terkesan abstrak, nir kata-kata – namun ada ‘narasi’. Esensinya adalah puisi.

Menurutnya, menikmati tari Bali, sama dengan menikmati puisi. Pemikiran ini penting untuk memahami perwujudan dalam tari. Puisi adalah cara untuk memfasilitasi transformasi atau alih wahana tersebut.

Buku antologi setebal 66 halaman ini, merupakan kumpulan puisi yang di tulis Prof Dibia antara tahun 2023 hingga 2024.

Prof Dibia, merupakan salah satu professor di Bali yang cukup produktif menulis buku. Ia juga menulis buku dalam bahasa Inggris dan Bali, selain bahasa Indonesia.

#Hartanto

Klik juga:  https://www.hariankami.com/dari-kami/23615416003/hartanto-bali-tentang-antologi-puisi-prof-dibia-kumpicak