MATRANEWS.id — “Kalau kita sampai ke tingkat ujung, satu agama dengan agama yang lain kita akan sampai pada persamaannya daripada perbedaannya,” ujar Prof. Dr. K. H. Nasaruddin Umar, Menteri Agama RI.
Penelitian kami menemukan bahwa representasi Allah SWT justru lebih menonjol sebagai “Feminine God”. Dalam bahasa yang mudah, Allah lebih sering hadir sebagai Tuhan Perempuan — penuh kelembutan, pengasih, penyayang, pemaaf — dibandingkan sebagai figur ayah yang menghukum, mengatur, atau mendominasi.
Saatnya Hijrah dari teologi yang sifatnya maskulin ke teologi yang lebih feminim. Dengan teologi feminim ini bertentangan dengan feminism yang struglingnya menonjol.
Tapi kalau feminim ini adalah kelembutan. Karena temuan kami dalam penelitian, bahwa Allah SAW itu lebih menonjol sebagai Feminim God. The Mother of God daripada mastering God atau the Fathering of God.
Jadi Allah SAW itu lebih menonjol sebagai Tuhan perempuan daripada Tuhan laki-laki, itu bahasa gampangnya.Feminim God bukan mastering God.99 nama Tuhan itu 80 nama Feminim. “Kok kenapa umatnya over maskulin,” ujar Nasarudin Umar.
Permasalahan kita, barangkali, bukan pada agama-agama itu sendiri. Melainkan pada cara kita memisahkan dan membandingkannya.
Kita sibuk membedakan “aku” dan “kamu”, “kami” dan “mereka”, sampai lupa bahwa Tuhan yang kita sembah sesungguhnya satu — hanya bahasa manusia yang membungkus-Nya dengan rupa-rupa.
Maka tibalah saatnya kita hijrah, bukan dari satu keyakinan ke keyakinan lain, melainkan dari cara pandang yang maskulin, menuju pemahaman yang lebih feminin tentang teologi.
Teologi feminin di sini bukanlah feminisme dalam arti perlawanan, tetapi feminin dalam arti kelembutan. Ia bukan perjuangan keras, bukan semata resistensi, melainkan pelukan kasih, kehadiran yang membimbing dengan sabar, dan cinta yang menyembuhkan.
Bahkan, dari 99 nama Allah, 80 di antaranya bersifat feminin. Maka kita pantas bertanya: mengapa umat-Nya justru sering tampil terlalu maskulin dalam perilaku dan retorika?
Jika kita mengenalkan akhlak Nabi sebagai akhlak yang feminin — bukan dalam arti gender, melainkan dalam keindahan, kelembutan, empati, dan kesucian hati — bukankah itu sejatinya kemuliaan? Bukankah itu pula yang diajarkan oleh Sang Nabi: menjadi suci dengan kasih, bukan dengan kekuasaan?
Lalu, apa yang salah?
Pria yang lahir pada 23 Juni 1958, dikenal luas sebagai sosok ulama intelektual, pemimpin spiritual, sekaligus negarawan yang teguh dalam memperjuangkan nilai-nilai toleransi, moderasi, dan keberagaman di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.
Menjaga Jejak, Merawat Cahaya; Merangkai Spiritualitas Dalam Simfoni Jiwa Para Perindu. #66thJejakCahaya: Talkshow dan Launching Program Nasaruddin Umar Ofice (NUO).
Momentum ulang tahun beliau kali ini dirangkai secara istimewa dalam acara bertajuk “Cahaya: Talkshow dan Launching Program Nazarudin Umar (NUO)”, yang digelar pada Sabtu malam, 28 Juni 2025, di Masjid Istiqlal Jakarta.
Acara yang dimulai sejak pukul 18.00 WIB ini menjadi panggung inspirasi dan refleksi spiritual, sekaligus peluncuran inisiatif baru yang digagas oleh beliau.
Acara tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh nasional lintas bidang dan agama.
Tampak Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, mantan Ibu Negara Sinta Nuriyah Wahid, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, hingga Romo Franz Magnis-Suseno memberikan testimoni dan penghormatan langsung kepada Prof. Nasaruddin di atas panggung.
Mereka menyampaikan penghargaan terhadap peran besar beliau dalam membangun dialog antariman dan memperkuat fondasi kebangsaan yang damai serta penuh welas asih.
Acara di awali dengan suasana hangat dalam jamuan makan malam bersama, yang mempererat tali silaturahmi dan kekeluargaan lintas tokoh dan umat.
- https://www.hariankami.com/profile-kami/23615448164/menteri-agama-saatnya-hijrah-dari-teologi-yang-sifatnya-maskulin-ke-teologi-yang-lebih-feminim






