MATRANEWS.id — Purbaya Luruskan BPJS: Rp 20 Triliun untuk Sehatkan Sistem, Bukan Sekadar Lunasi Utang
Pemerintah akhirnya menepati janjinya. Melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, negara mengucurkan dana Rp 20 triliun untuk melunasi tunggakan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.
Tapi, seperti dikatakan Purbaya, langkah ini bukan semata urusan membayar tagihan. “Ini tentang memperbaiki sistem,” ujarnya.
Dana segar dari APBN itu diharapkan menyehatkan bukan hanya arus kas BPJS, tapi juga logika pengelolaannya.
Purbaya menilai ada banyak aturan lama yang sudah tidak relevan, namun masih diterapkan seolah tak ada perubahan zaman.
Salah satu contohnya: kebijakan yang mewajibkan rumah sakit memiliki sedikitnya 10 persen ventilator—aturan yang muncul saat pandemi COVID-19.
“Masalahnya, karena sudah beli, semua pasien diarahkan ke alat itu. Akibatnya, tagihan ke BPJS jadi membengkak,” kata Purbaya, separuh gusar, separuh heran.
Bagi Purbaya, memperbaiki sistem kesehatan tak cukup dengan menambal defisit. Ia bicara tentang revolusi data.
Dengan tenaga IT sekitar 200 orang, BPJS Kesehatan sebenarnya sudah berada di level perusahaan teknologi besar. Namun, menurutnya, potensi itu belum tergarap maksimal.
“Saya bilang, bikin lebih optimal dengan cara mengintegrasikan seluruh IT mereka di Indonesia dan pakai AI (Artificial Intelligence),” ujarnya.
Tujuannya jelas: memotong rantai inefisiensi. Dengan sistem digital yang terintegrasi dan berbasis kecerdasan buatan, BPJS diharapkan bisa mendeteksi klaim mencurigakan atau penyimpangan layanan lebih dini. Tak perlu lagi menunggu laporan manual atau audit panjang.
Purbaya bahkan memasang target ambisius: integrasi sistem IT BPJS rampung dalam enam bulan. Jika berhasil, sistem IT BPJS Kesehatan bakal menjadi salah satu jaringan teknologi kesehatan terbesar di dunia.
“Saya harapkan enam bulan ke depan itu (IT) sudah bekerja. Mereka bilang bisa. Kalau bisa sih harusnya BPJS kita merupakan IT di sistem rumah sakit yang terbesar dan terbaik di dunia,” ujarnya, menutup dengan nada yakin.
Purbaya tampak ingin menggeser narasi: dari defisit menuju efisiensi, dari urusan kas menjadi urusan kapasitas. Di balik Rp 20 triliun itu, ada keinginan agar sistem jaminan sosial terbesar di Indonesia akhirnya benar-benar sehat.








