Kesaksian Tenaga Profesional Mualaf Birokrasi, Catatan Pinggir SS Budi Raharjo

MATRANEWS.id Catatan pinggir SS Budi Raharjo MM (Tenaga Ahli Profesional).

MAYBE yes. Maybe no. Bisa iya. Bisa juga tidak.

Kalimat itu terus terngiang di kepala saya beberapa bulan terakhir. Rasanya seperti naik roller coaster. Kadang meluncur cepat. Kadang berhenti mendadak di tikungan tajam. Kadang merasa berada di puncak. Lima menit kemudian seperti dilempar ke jurang.

Begitulah suasana ketika seorang yang seumur hidup berada di luar birokrasi, tiba-tiba masuk menjadi bagian dari birokrasi itu sendiri.

Saya menyebutnya: mualaf birokrasi.

Tentu tidak mudah.
Atmosfernya berbeda.
Cara berpikirnya berbeda.
Bahasa tubuhnya juga berbeda.

Di luar birokrasi, orang terbiasa bergerak cepat. Salah sedikit, perbaiki besok pagi. Dalam birokrasi, kadang untuk mengubah satu kalimat saja harus melewati meja yang jumlahnya lebih banyak dari kaki kelabang.

Awalnya saya sempat bertanya dalam hati: bisa bertahan atau tidak?

Tetapi modal orang profesional memang cuma satu: percaya diri.

Saya masuk bukan sebagai orang partai. Bukan tim sukses. Bukan pula bagian dari kelompok pemenangan. Saya masuk lewat jalur yang disebut: tenaga profesional bidang komunikasi.

Saya ingat betul ketika pertama kali mendapat kabar itu. Saya sampai memastikan ulang dua kali. Jangan-jangan salah kirim pesan.

Ternyata tidak.

Saya justru merasa ini menarik. Di tengah anggapan bahwa jabatan hanya untuk mereka yang berkeringat di masa kampanye, ternyata masih ada ruang — meski kecil — untuk orang profesional.

Walau harus diakui, ruang itu sempit sekali.

Masuknya juga tidak mudah.

Ada screening ketat. CV diperiksa detail. Jejak digital dilihat. Networking dipetakan. Kompetensi diuji. Bahkan mungkin unggahan media sosial bertahun-tahun lalu ikut dibaca.

Saya membayangkan mungkin ada orang yang tugasnya hanya membuka-buka Instagram dan X sambil mencari: “Pernah nyinyir tidak?”

Lalu mulailah proses assessment.

Tes tertulis. Psikotes. Wawancara. Interview kompetensi. Sampai wawancara dengan deputi yang nantinya menjadi atasan langsung.

Dua hari penuh.

Rasanya seperti ikut seleksi astronot. Bedanya, ini bukan menuju bulan. Ini menuju kantor.

Setelah itu menunggu pengumuman.

Itulah masa paling aneh. Setengah berharap. Setengah pasrah.

Ketika nama dinyatakan lolos, saya justru lebih gugup. Karena setelah masuk, tantangan sebenarnya baru dimulai.

Jam kerja dimulai pukul 08.30 WIB. Pulang pukul 16.30 WIB. Absensi memakai geotag. Tidak bisa titip absen. Hape menjadi saksi apakah kita benar berada di kantor atau sedang ngopi di luar pagar.

Bagi orang yang lama bekerja fleksibel, disiplin model begini awalnya terasa seperti masuk asrama semi militer.

Tetapi lama-lama terbiasa.

Yang menarik justru dinamika manusianya.

Saya bertemu banyak orang pintar. Banyak juga yang sangat loyal. Sebagian datang dari jalur profesional. Sebagian lain dari jalur relawan politik. Ada yang tenang. Ada yang sangat politis. Ada yang kerjanya rapi. Ada yang kerjanya lebih banyak menjaga posisi.

Di situlah saya mulai memahami satu hal: birokrasi ternyata bukan hanya soal administrasi.

Ia juga ekosistem politik.

Office politic hidup sangat sehat di sana.

Kadang terlalu sehat.

Awalnya saya berpikir mitigasi risiko komunikasi, daily brief, monitoring isu, analisa media — semua akan dinilai secara profesional.

Ternyata tidak sesederhana itu.

Ada grup-grup kecil. Ada lingkaran-lingkaran kepercayaan. Ada “orang dalam”. Ada “orangnya siapa”.

Kalau rekomendasi kita bagus tapi bukan berasal dari kelompok tertentu, responsnya bisa datar.

Sebaliknya, usulan biasa saja bisa dianggap luar biasa kalau datang dari orang dekat kekuasaan.

Saya akhirnya paham: di birokrasi tingkat tinggi, kepintaran memang penting. Tapi sering kali bukan yang paling menentukan.

Yang lebih menentukan: Anda orangnya siapa.

Kalimat itu terdengar sinis. Tapi begitulah kenyataannya.

Apalagi posisi tenaga profesional ini fasilitasnya lumayan. Gajinya setara pejabat eselon satu. Fasilitas kerja lengkap. Akses terbuka. Lingkar pergaulan berubah.

Tentu banyak yang menginginkannya.

Daftar antreannya panjang.

Maka wajar jika perebutannya tidak selalu memakai ukuran profesionalisme.

Di titik itu saya mulai memahami kenapa kalimat “maybe yes maybe no” terasa sangat relevan.

Karena di birokrasi, kepastian sering menjadi barang mahal.

Hari ini Anda dianggap penting. Besok bisa biasa saja.

Hari ini dipanggil rapat inti. Minggu depan bahkan pesan WhatsApp Anda belum tentu dibaca.

Tetapi saya tetap bersyukur pernah masuk ke dalam sistem itu.

Setidaknya saya jadi tahu: mengelola negara ternyata jauh lebih rumit dibanding mengomentari negara dari luar pagar.

Dari luar semuanya terlihat sederhana. Setelah masuk, baru terasa betapa banyak lapisan kepentingan, ego, loyalitas, kompromi, dan pertarungan senyap.

Ada banyak hal menarik yang sebenarnya ingin saya tulis lebih detail.

Sangat menarik malah.

Tetapi maaf, banyak yang tidak boleh ditulis. Bukan karena takut. Tapi karena sebagian memang sudah masuk wilayah: rahasia negara.