Di Balik PHK TikTok, Alarm untuk Indonesia

TikTok ForYouBeauty 2026/dok Tribunnews

MATRANEWS.id — Di Balik PHK TikTok, Ketika Otak Teknologi Pindah ke China

Gelombang PHK terbaru di TikTok Shop–Tokopedia menyisakan hanya puluhan insinyur teknologi di Indonesia.

Di balik restrukturisasi itu tersimpan pertanyaan yang lebih besar: apakah Indonesia hanya akan menjadi pasar, sementara pusat inovasi dan pengambilan keputusan berpindah ke luar negeri?

Suasana di kantor TikTok Shop–Tokopedia kembali berubah.

Setelah beberapa kali melakukan restrukturisasi pasca-akuisisi Tokopedia dari GoTo, perusahaan kembali memangkas ratusan karyawan.

Kali ini, yang paling banyak terdampak adalah divisi teknologi—unit yang selama ini menjadi jantung pengembangan platform.

Menurut informasi yang dihimpun dari sejumlah sumber internal, lebih dari 450 karyawan teknologi terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam gelombang terakhir.

Dari sekitar 1.100 insinyur yang pernah bekerja di Tokopedia sebelum diakuisisi TikTok, kini hanya sekitar 35 orang yang masih tersisa.

Jika dihitung secara keseluruhan, jumlah karyawan TikTok Shop–Tokopedia yang bertahan disebut tinggal sekitar 10 persen dari sekitar 2.500 pegawai yang dimiliki Tokopedia ketika masih berada di bawah GoTo.

Mereka yang tersisa sebagian besar bekerja di fungsi bisnis, trust and safety, serta sebagian kecil di bidang teknologi.

Lebih dari sekadar pengurangan tenaga kerja, restrukturisasi ini juga menandai perubahan yang jauh lebih mendasar.

Sejumlah sumber menyebutkan hampir seluruh pengembangan teknologi Tokopedia dan TikTok Shop kini ditangani oleh tim ByteDance di China.

“Dulu disampaikan bahwa kedua perusahaan akan hidup berdampingan dan membantu pengembangan talenta Indonesia. Namun sekarang hampir seluruh pengembangan teknologinya sudah tidak lagi dilakukan di Indonesia,” ujar salah satu sumber.

ByteDance dilaporkan melakukan PHK terhadap sekitar 90% pekerja Tokopedia setelah peluncuran Tokopedia Lite. Disebutkan, karyawan paling terdampak berasal dari unit keuangan, teknologi, r&d, serta trust and safety.

Tokopedia secara bertahap akan dilemahkan (sunset) dan digantikan oleh Tokopedia Lite, yang disebut menggunakan sistem backend internal TikTok Shop dengan mempertahankan front-end Tokopedia.

TikTok Tokopedia menanggapi kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan.

Juru Bicara TikTok mengatakan bahwa perusahaan saat ini tengah melakukan penyelarasan organisasi di bidang riset dan pengembangan (research and development) sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang.

“Kami tengah menyelaraskan organisasi R&D pada ranah yang dapat mendorong pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan bagi bisnis kami, komunitas kreator, dan penjual di platform kami,” disampaikan Juru Bicara TikTok dalam keterangan resmi, Kamis (2/7/2026).

“Ini bukan keputusan yang mudah, dan kami fokus untuk memberikan dukungan kepada rekan-rekan kami yang terdampak selama masa transisi ini.”

TikTok menegaskan komitmennya pada kelanjutan investasi untuk pengembangan Tokopedia sekaligus mendukung pelaku usaha lokal.

Untuk diketahui operasional TikTok Shop sudah bersatu dengan Tokopedia lewat kesepakatan kepemilikan 75,01% saham PT Tokopedia yang sebelumnya dimiliki penuh oleh GoTo Gojek Tokopedia Tbk, sehingga GOTO kini hanya menggenggam sisa saham sebesar 24,99%.

Dalam keterangannya, juru bicara perusahaan mengatakan restrukturisasi dilakukan untuk menyelaraskan fungsi riset dan pengembangan (R&D) pada area yang dinilai mampu mendukung pertumbuhan jangka panjang perusahaan, komunitas kreator, dan para penjual di platform.

Penjelasan itu mencerminkan arah baru perusahaan teknologi global. Setelah fase ekspansi dan akuisisi selesai, fokus bergeser pada efisiensi, integrasi sistem, dan peningkatan produktivitas melalui kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Pada tahap awal memasuki sebuah negara, perusahaan digital membutuhkan ribuan pekerja untuk membangun infrastruktur, mengembangkan produk, mengintegrasikan sistem, serta memperluas basis pengguna. Namun setelah skala bisnis tercapai, kebutuhan terhadap banyak fungsi operasional mulai berkurang.

AI memungkinkan pekerjaan yang bersifat rutin dijalankan secara otomatis. Sistem pelaporan semakin sederhana. Pengendalian kualitas dibantu algoritma.

Sebagian fungsi pengembangan perangkat lunak dapat dikerjakan oleh tim yang lebih kecil dengan bantuan AI generatif. Lapisan manajemen pun dipangkas agar organisasi bergerak lebih cepat.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di TikTok. Hampir seluruh perusahaan teknologi besar dunia sedang memasuki fase serupa. Mereka berlomba membangun organisasi yang lebih ramping, tetapi memiliki produktivitas yang lebih tinggi.

Perubahan tersebut menghadirkan tantangan baru bagi Indonesia.

Selama ini Indonesia dipandang sebagai salah satu pasar digital terbesar di Asia Tenggara. Jumlah pengguna internet terus bertambah, transaksi perdagangan elektronik meningkat, dan jutaan pelaku UMKM bergantung pada platform digital.

Namun besarnya pasar ternyata tidak menjamin pusat inovasi berada di dalam negeri.

Kasus TikTok Shop–Tokopedia memperlihatkan bagaimana sebuah platform global dapat membangun pasar di Indonesia, mengakuisisi pemain lokal, mengintegrasikan operasional, menghimpun data pengguna, lalu memusatkan kembali fungsi teknologi ke negara asalnya.

Indonesia tetap menjadi pasar yang besar, tetapi lapisan paling strategis—yakni pengembangan algoritma, rekayasa sistem, dan pengambilan keputusan teknologi—berada di luar negeri.

Bagi para pengembang perangkat lunak dan talenta digital, perubahan ini menjadi sinyal bahwa kebutuhan industri juga sedang bergeser.

Perusahaan tidak lagi hanya mencari programmer dalam jumlah besar, tetapi lebih membutuhkan tenaga yang mampu mengembangkan AI, membangun model machine learning, mengelola data berskala besar, mengaudit algoritma, memahami tata kelola data, menjaga keamanan siber, serta menerjemahkan kebutuhan bisnis menjadi inovasi teknologi.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi sekadar berapa banyak lapangan kerja digital yang tersedia.

Yang jauh lebih penting adalah siapa yang mengendalikan teknologi, memiliki hak atas algoritma, dan menentukan arah inovasi.

Di situlah letak tantangan Indonesia pada era kecerdasan buatan. Selama hanya menjadi pasar, Indonesia akan terus menjadi tempat platform global menjual layanan, menguji produk, mengumpulkan data, dan sewaktu-waktu melakukan restrukturisasi ketika efisiensi dianggap perlu.

PHK di TikTok Shop–Tokopedia karena itu layak dibaca lebih dari sekadar berita korporasi.

Ia adalah alarm bahwa persaingan digital tidak lagi hanya soal jumlah pengguna atau besarnya transaksi. Yang diperebutkan kini adalah kepemilikan teknologi, penguasaan kecerdasan buatan, dan kualitas talenta yang mampu membangun sistem, bukan sekadar mengoperasikannya.

Di era AI, masa depan tidak hanya berpihak kepada mereka yang bekerja di dalam sistem. Masa depan berada di tangan mereka yang memahami bagaimana sistem itu dirancang, dilatih, dan dikembangkan.

PHK di TikTok, dengan demikian, bukan sekadar urusan internal perusahaan.

Ia adalah cermin perubahan besar yang sedang berlangsung dalam ekonomi digital dunia.

Dan bagi Indonesia, peristiwa itu layak dibaca sebagai sebuah peringatan: menjadi pasar yang besar belum tentu menjadikan sebuah bangsa sebagai pemain utama.

Di era AI, masa depan tidak hanya dimiliki mereka yang mengoperasikan sistem. Melainkan mereka yang mampu merancang cara sistem itu berpikir.

https://www.myedisi.com/eksekutif/7455