A Moment of Recognition A Memoir Peter F Gontha

MATRANEWS.id — A Moment of Recognition A Memoir Peter F Gontha

 

 

 

Sahabat, kerabat dan teman dekat Peter F Gontha memenuhi Kafe Cabana yang berbasis tanaman di rofftop pada lantai 9 di 25 Hours Hotel The Oddbird, SCBD Jakarta Selatan.  Menciptakan zona holistik untuk relaksasi. 

Sebuah perhelatan yang terasa lebih seperti reuni jiwa—bukan sekadar peluncuran buku.

Di tengah atmosfer outdoor yang santai namun hangat, A Moment of Recognition: A Memoar karya Peter F. Gontha resmi diluncurkan.

Buku dari secuil riwayat besar seorang Peter F. Gontha—diplomat, pebisnis, penggagas Java Jazz, pencinta musik, sekaligus sahabat bagi banyak orang.

Buku setebal 350 halaman itu bukan sekadar catatan perjalanan diplomatik sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Polandia; ia adalah sebuah jendela yang dibuka lebar untuk memperlihatkan ruang batin seorang pria yang menyulam jembatan antara bangsa dengan benang kepekaan, seni, dan kecintaan pada manusia.

Addie MS, musisi yang lebih dari sekadar maestro orkestra, membuka kesaksian atas sosok Peter F Gontha dengan nada penuh rasa.

“Saya ingin menobatkan Peter sebagai Duta Besar Musik Indonesia untuk dunia,” katanya, dan tepuk tangan pun pecah—bukan sebagai formalitas, melainkan getaran rasa yang tulus.

Addie Muljadi Sumaatmadja yang dikenal pendiri Twilite Orchestra mengenang Peter F. Gontha telah mendirikan sejumlah perusahaan penting dalam karirnya yang beragam.

Seperti diketahui publik, selain mendirikan Chandra Asri sosok PFG juga merupakan salah satu pendiri RCTI dan SCTV, dua stasiun televisi terkemuka di Indonesia. Selain itu, juga turut mendirikan Indovision (sekarang MNC Vision), First Media, dan beberapa perusahaan lainnya.

Setelah menghabiskan masa tugasnya sebagai Duta Besar Indonesia untuk Polandia di tahun 2019, Peter Gontha aktif sebagai Direktur Utama Transvision hingga saat ini.

Beberapa langkahnya mendunia, antara lain Java Jazz Festival, yang menjadi salah satu festival musik jazz terbesar di dunia.

Addie MS juga mengingat betapa Peter menghadirkannya di panggung orkestra Polandia—bukan sekadar pertunjukan, melainkan diplomasi yang dibalut harmoni.

Lalu muncul Luhut Binsar Pandjaitan. Menteri, jenderal, dan sahabat lama memberi kesaksian.

Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, yang telah bersahabat dengan Peter selama lebih dari 50 tahun, menceritakan kebaikan hati sahabat lamanya tersebut.

LBP membawa kenangan dari dekade yang telah lalu, dari masa saat pangkat masih Mayor, saat Presiden Soeharto masih menjadi poros negeri ini. Dan saat Peter kala itu sudah masuk ring satu —dengan caranya yang khas— ia adalah sosok yang ramah, suka memberi tanpa pamrih.

“Dia tahu tentara gajinya kecil, dan dengan suka cita ia berbagi berkat ke saya,” ucap Luhut, menyiratkan nilai-nilai yang tertanam dalam diri Peter F Gontha jauh sebelum ia berdiri di mimbar diplomatik. PFG sosok yang humble, cerdas dan bersahaja yang dengan ringan tangan menolong sesama.

Chairul Tanjung, dengan senyum dan sentuhan kenangan, mengenang saat menjadi pengusaha UKM, sementara PFG saat itu sudah pengusaha top memberikan hadiah ponsel pertamanya,yang mungkin jika dinilai harga HP kala itu seharga mobil kijang.

“Saya juga belajar televisi dari Peter,” kata CT bersaksi Peter adalah gurunya dalam dunia media dan broadcasting.

Dwiki Dharmawan, musisi yang paham benar denyut diplomasi budaya melihat PFG sebagai sosok yang memulai karir dari seorang pegawai restoran, kerja di kapal pesiar. Sampai di New York, hingga supir taksi.

“Om Peter hobinya bermusik, tapi hingga membawa musik Indonesia ke dunia dan dunia musik ke Indonesia,” ujar Dwiki takjub dan kagum atas dedikasi Peter dalam memajukan industri musik.

Menyamakan Peter dengan seorang penenun. “Benang demi benang ia sabar sulam, hingga tercipta kain yang bernama diplomasi budaya.”

Kalimat itu seakan merangkum betapa Peter bukan hanya penghubung antara dua negara, tapi juga antara dua jiwa: seni dan negara, musik dan kebijakan, diplomasi dan humanisme.

Ricard Bagun, jurnalis senior, yang dengan jujur menggambarkan hubungannya dengan Peter seperti komidi putar.

“Kadang dekat, kadang menjauh,” katanya, “tapi kekaguman saya tak pernah surut.” Seperti putaran itu sendiri, Peter tetap menjadi pusat gravitasi dalam kehidupan banyak orang—meski kadang menjauh, daya tariknya tak pernah pudar.

Begitulah keseruan dari tampak hadir di acara peluncuran buku dari generasi baby boomers, generasi X yang hebat di masanya.

Para tamu bukan hanya hadir sebagai undangan, tapi sebagai bagian dari kisah hidup seorang Peter F. Gontha—tokoh yang memadukan karya, cinta, dan dedikasi dalam setiap langkahnya.

Kelihatan di antara tamu, antara lain Aulia Rahman, Adiguna Taher, Miranda Gultom hingga Rocky Gerung.

Juga hadir Wakil Menteri Veronica Tan Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) serta Profil Silmy Karim (Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Kabinet Prabowo-Gibran). Surya Paloh dan Erna Witoelar beserta suami (Rachmat Witoelar) juga para Pemimpin Redaksi media massa maintream.

Peter F. Gontha Tidak Hanya Hadir Sebagai Penulis Memoar

Ia menjadi sebuah narasi hidup. Sosok yang tidak bisa dijabarkan hanya dengan satu kata kerja. Peluncuran buku ini bukan sekadar acara. Ia adalah upacara kecil dalam hidup orang-orang yang pernah disentuh oleh Peter—sebuah “moment of recognition”.

Bukan hanya untuk sang penulis, tapi juga untuk kita yang menyaksikan bahwa hidup bisa dijalani dengan penuh warna, jika kita cukup berani untuk mencintai musik, mencintai negara, dan mencintai sesama manusia, sebagaimana Peter F. Gontha telah melakukannya.

“A Moment of Recognition” lebih dari sekadar memoar diplomatik; ia adalah catatan hati, cermin dari hubungan yang hangat dan penuh makna antara seorang sahabat dengan dunianya.

A Moment of Recognition A Memoir Peter F Gontha – MAJALAH EKSEKUTIF # terbit sejak 1979 –