Ade Supandi, Laksamana yang Mengemban Mandat Adat Sunda

Ade Supandi, Laksamana yang Mengemban Mandat Adat Sunda

MATRANEWS.id — Ade Supandi, Laksamana yang Mengemban Mandat Adat Sunda

Mantan Kepala Staf Angkatan Laut itu dikukuhkan sebagai Pandita Utama Karesian Majelis Tritangtu Sunda Buana. Sebuah langkah untuk merawat tradisi di tengah perubahan zaman.

Sambutan Laksamana TNI (Purn) Dr. Ade Supandi, S.E., M.A.P. sebagai Pandita Utama Karesian Majelis Tritangtu Sunda Buana – (Sumber: MajmusSunda News)

BANDUNG — Seragam militer mungkin telah lama ditanggalkan. Dan, pengabdian Laksamana TNI (Purn) Dr. Ade Supandi, S.E., M.A.P., tampaknya belum selesai.

Kali ini, medan pengabdiannya bukan lautan, melainkan ruang kebudayaan yang menyimpan ingatan panjang masyarakat Sunda.

Pada Minggu, 18 Oktober 2026, Ade Supandi dikukuhkan sebagai Pandita Utama Karesian Majelis Tritangtu Sunda Buana oleh Majelis Adat Sunda Jawa Barat (MASDA Jabar).

Prosesi berlangsung di Gedung Pusat Kebudayaan, Jalan Naripan Nomor 7–9, Kota Bandung.

Pengukuhan tersebut menempatkan mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut itu dalam struktur kepemimpinan adat Sunda.

Ade Supandi juga menyandang peran sebagai Wakil Panglima Utama Kesundaan. Di luar perjalanan panjangnya dalam institusi militer, jabatan adat ini menghadirkan tanggung jawab baru: ikut menjaga nilai, tradisi, dan kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.

Bagi seorang purnawirawan perwira tinggi, perpindahan ruang pengabdian dari institusi negara ke lingkungan adat menghadirkan perspektif tersendiri.

Kedisiplinan, kepemimpinan, dan pengalaman mengelola organisasi besar dapat menjadi modal.

Dimana, kebudayaan memiliki watak berbeda dari institusi militer. Ia tidak hanya bertumpu pada struktur dan kewenangan, tetapi juga pada keteladanan, kepercayaan, serta kesediaan memahami akar tradisi.

Dalam konteks itulah pengukuhan Ade Supandi memperoleh maknanya.

Mandat di Ruang Kebudayaan

Sebagai Pandita Utama Karesian, Ade Supandi ditempatkan dalam posisi yang berkaitan dengan pemeliharaan nilai spiritual dan adat.

Sebutan tersebut mengisyaratkan tanggung jawab untuk ikut menjaga ajaran, tata nilai, dan tradisi yang hidup dalam lingkungan Majelis Tritangtu Sunda Buana.

Kepercayaan yang diberikan kepadanya juga memperlihatkan bahwa pelestarian kebudayaan dapat melibatkan tokoh dengan latar belakang yang beragam.

Pengalaman dari dunia militer, pemerintahan, pendidikan, maupun kehidupan sosial dapat bertemu dalam satu kepentingan: menjaga agar warisan leluhur tidak terputus oleh perubahan zaman.

Catatannya, pelestarian budaya bukan pekerjaan yang selesai melalui pengukuhan atau pemberian gelar.

Tantangan sesungguhnya terletak pada bagaimana nilai-nilai adat diterjemahkan ke dalam kehidupan masyarakat.

Tradisi harus tetap memiliki hubungan dengan generasi muda, pendidikan, kesenian, bahasa, dan praktik sosial sehari-hari.

Di situlah mandat seorang pemangku adat diuji. Bukan semata-mata melalui simbol yang melekat pada jabatan, melainkan melalui kontribusi nyata dalam menjaga kesinambungan kebudayaan.

Majelis Adat Sunda Jawa Barat, sebagai organisasi yang bergerak dalam pelestarian dan pengembangan budaya Sunda, menempatkan kegiatan semacam ini dalam kerangka penguatan identitas masyarakat.

Pengukuhan Ade Supandi menjadi bagian dari upaya mempertemukan tokoh-tokoh masyarakat dengan tanggung jawab merawat warisan budaya.

Dari Laut ke Tradisi Sunda

Nama Ade Supandi dikenal melalui perjalanan panjangnya di TNI Angkatan Laut. Sebagai mantan Kepala Staf Angkatan Laut, ia pernah berada di lingkungan yang menuntut kepemimpinan, disiplin, dan tanggung jawab strategis.

Kini, setelah purnatugas, ruang pengabdiannya meluas ke ranah kebudayaan.

Perubahan tersebut memperlihatkan bahwa pengabdian seseorang tidak selalu berhenti ketika masa tugas formal berakhir.

Pengalaman yang diperoleh selama puluhan tahun dapat memperoleh bentuk baru, termasuk melalui kegiatan sosial, pendidikan, dan pelestarian kebudayaan.

Akan tetapi, kebudayaan tidak cukup dirawat dengan pendekatan struktural. Ia membutuhkan keterlibatan masyarakat yang menjadi pemilik tradisi.

Para sesepuh memiliki pengetahuan tentang akar sejarah, para seniman menjaga ekspresi budaya, sedangkan generasi muda menentukan apakah warisan itu akan terus hidup atau sekadar menjadi catatan masa lalu.

Karena itu, tantangan Majelis Tritangtu Sunda Buana dan para pemangku adat lainnya adalah memastikan bahwa struktur organisasi mampu menjadi ruang kerja kebudayaan yang produktif.

Pelestarian bahasa Sunda, pengembangan seni tradisional, dokumentasi sejarah, serta pendidikan nilai-nilai lokal merupakan beberapa bidang yang dapat memperkuat relevansi adat dalam kehidupan kontemporer.

Pengalaman Ade Supandi dalam kepemimpinan organisasi diharapkan dapat menjadi bagian dari ikhtiar tersebut.

Budaya Sunda sebagai Penopang Nusantara

Pengukuhan Ade Supandi berlangsung dalam rangkaian Peringatan Hari Kebudayaan Nasional 2026 yang diselenggarakan MASDA Jabar. Perhelatan itu mengusung tema “Budaya Sunda Panyeundak Budaya Nusantara.”

Dalam pemaknaan yang disampaikan penyelenggara, kata panyeundak merujuk pada tiang penyangga atau fondasi penguat.

Tema tersebut menempatkan kebudayaan Sunda bukan sebagai identitas yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari kekayaan budaya yang menopang keberagaman Indonesia.

Gagasan itu memiliki relevansi di tengah arus modernisasi. Globalisasi memungkinkan informasi, gaya hidup, dan produk budaya bergerak melintasi batas negara dengan cepat.

Di satu sisi, perkembangan tersebut membuka kesempatan bagi kebudayaan lokal untuk dikenal lebih luas.

Di sisi lain, ia menghadirkan risiko ketika bahasa, kesenian, dan tradisi lokal kehilangan tempat dalam kehidupan generasi muda.

Merawat budaya karena itu tidak identik dengan menolak modernitas. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa masyarakat memiliki akar identitas yang kuat ketika berhadapan dengan perubahan.

Bahasa daerah dapat berkembang melalui teknologi digital. Seni tradisional dapat menemukan penonton baru melalui platform daring.

Pengetahuan leluhur dapat didokumentasikan dengan metode modern tanpa kehilangan konteks sejarahnya. Dengan cara itu, tradisi tidak hanya dikenang, tetapi juga digunakan dan dikembangkan.

Semangat tersebut menjadi salah satu pesan penting dari peringatan kebudayaan yang digelar di Bandung.

Rangkaian acara diawali dengan Rajah Bubuka, tuturan doa tradisional untuk memohon keselamatan dan keberkahan, kemudian dilanjutkan dengan Tari Mapag Tamu sebagai simbol penghormatan kepada para undangan.

Lagu kebangsaan Indonesia Raya dan lagu daerah Sabilulungan turut mengisi perhelatan tersebut.

Kehadiran unsur tradisi dan kebangsaan dalam satu panggung memperlihatkan hubungan antara identitas lokal dan identitas nasional.

Keduanya tidak harus dipertentangkan. Kebudayaan daerah justru menjadi salah satu sumber yang memperkaya keindonesiaan.

Dudung dan Ade Supandi dalam Struktur Adat

Dalam forum kebudayaan yang sama, Jenderal TNI (Purn) Prof. Dr. H. Dudung Abdurachman, S.E., M.M., juga disebut memperoleh gelar adat sebagai Puun Urang Sunda, Puun Ageung, Bapa Gede, sekaligus Panglima Utama Majelis Tritangtu Sunda Buana.

Pemberian gelar kepada Dudung, sebagaimana dijelaskan dalam bahan penyelenggara, didasarkan pada kesepakatan para tokoh, sesepuh Tatar Sunda, pemangku adat, dan raja-raja Nusantara yang hadir.

Mandat tersebut dimaknai sebagai simbol pemersatu masyarakat Sunda. Nilai ngahiji, yang berarti bersatu, serta guyub sauyunan, yang mencerminkan kerukunan dan kebersamaan, menjadi pesan yang ingin ditegaskan melalui pengangkatan tersebut.

Sementara itu, Ade Supandi mengemban posisi Pandita Utama Karesian dan Wakil Panglima Utama Kesundaan.

Kehadiran dua tokoh berlatar belakang militer di dalam struktur adat memperlihatkan upaya MASDA Jabar menghimpun figur-figur berpengaruh untuk mendukung pelestarian budaya.

Meski demikian, gelar adat memiliki konteks dan legitimasi yang berbeda dari jabatan formal negara.

Pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat pada akhirnya bergantung pada penerimaan komunitas adat, konsistensi menjalankan tanggung jawab, serta manfaat yang dirasakan oleh masyarakat.

Dengan demikian, pengukuhan bukanlah garis akhir. Ia justru menjadi titik awal untuk membuktikan bahwa kepercayaan yang diberikan dapat diterjemahkan menjadi kerja kebudayaan yang berkelanjutan.

Menjaga Warisan, Menyiapkan Masa Depan

Peringatan Hari Kebudayaan Nasional 2026 itu juga menjadi ajang penganugerahan Sunda Sabuana Awards 2026.

Bekerja sama dengan Yayasan Forum Silaturahmi Sunda Sabuana, penyelenggara memberikan piagam penghargaan kepada sekitar 100 tokoh yang dinilai berprestasi dan inspiratif dalam bidang budaya, seni, olahraga, pendidikan, sosial, serta bidang lainnya.

Acara tersebut dihadiri kalangan purnawirawan TNI dan Polri, pemangku adat, tokoh masyarakat, pimpinan daerah, serta sejumlah pejabat dan undangan lainnya. Ketua Umum MASDA Jabar, Irjen Pol (Purn) Dr. H. Anton Charliyan, M.P.K.N., turut hadir dalam kapasitasnya sebagai pimpinan organisasi.

Penghargaan dan pengukuhan merupakan bentuk pengakuan terhadap kontribusi seseorang. Namun, bagi kebudayaan, pengakuan baru memiliki arti lebih luas ketika mendorong lahirnya kegiatan yang konkret.

Tradisi perlu didokumentasikan agar tidak hilang bersama wafatnya para sesepuh. Seni daerah membutuhkan ruang pertunjukan dan regenerasi.

Bahasa Sunda memerlukan lingkungan penggunaan yang hidup. Generasi muda perlu memperoleh kesempatan untuk memahami adat bukan sekadar sebagai rangkaian upacara, melainkan sebagai sumber nilai yang dapat berdialog dengan kehidupan masa kini.

Di tengah tuntutan tersebut, pengukuhan Ade Supandi menjadi bagian dari dinamika baru pelestarian budaya Sunda.

Seorang mantan pemimpin militer kini memikul tanggung jawab dalam lingkungan adat, bersama para sesepuh dan tokoh masyarakat yang menjaga kesinambungan tradisi.

Laut yang pernah menjadi ruang pengabdiannya memiliki cakrawala yang luas. Begitu pula kebudayaan. Keduanya membutuhkan kepemimpinan, ketekunan, dan kemampuan membaca perubahan.

Jadi, jika di laut seorang laksamana berhadapan dengan gelombang, di ruang kebudayaan tantangannya berbeda: memastikan agar nilai-nilai leluhur tidak tergerus oleh waktu.

Pada akhirnya, keberhasilan seorang Pandita Utama tidak hanya diukur dari gelar yang disandangnya. Ukurannya adalah apakah warisan budaya yang dipercayakan kepadanya tetap hidup, dipahami, dan diteruskan oleh generasi berikutnya.

Klik juga https://matranews.id/buku-kasal-kedua-dari-tanah-pasundan-fondasi-negara-maritim-siap-dicetak-ulang/