Air Es, Jantung, dan Fakta Kesehatan: Harus Takut atau Cukup Bijak?

MATRANEWS.idAir Es, Jantung, dan Fakta Kesehatan: Harus Takut atau Cukup Bijak?

Ada satu kalimat yang sering muncul di pesan berantai: “Musuh jantung adalah air es.”

Bagi sebagian orang, kalimat itu sudah cukup membuat mereka berhenti menikmati es teh di siang hari yang terik.

Tapi apakah benar air dingin adalah musuh utama jantung? Atau ini sekadar mitos yang sudah terlanjur dipercaya?

Mari kita bahas dengan tenang—seperti minum segelas air hangat.

Mengapa Air Dingin Sering Disebut Berbahaya?

Dalam berbagai tulisan kesehatan populer, disebutkan bahwa minum air dingin setelah makan dapat menyebabkan:

-Lemak makanan mengeras dan sulit dicerna
-Penyempitan pembuluh darah
-Risiko penyumbatan dan serangan jantung

Secara teori, ada hal yang dapat dipahami: temperatur makanan memang dapat memengaruhi proses pencernaan.

Saat air dingin masuk ke tubuh, pembuluh darah dapat menyempit, dan otot pencernaan perlu bekerja lebih keras untuk menghangatkan cairan tersebut ke suhu tubuh.

Namun, hingga saat tulisan ini dibuat, belum ada penelitian ilmiah kuat yang membuktikan bahwa air es secara langsung menjadi penyebab serangan jantung.

Banyak dokter jantung sepakat bahwa faktor risiko utama adalah:

-Tekanan darah tinggi
-Kolesterol tinggi
-Diabetes
-Merokok
-Kurang bergerak
-Stres kronis

Dengan kata lain, air es tidak menggantikan rokok sebagai bahaya besar bagi jantung.

Tetap Ada Kelompok yang Perlu Berhati-hati

Meskipun tidak berbahaya bagi kebanyakan orang, beberapa kondisi medis tertentu memang tidak dianjurkan mengonsumsi minuman terlalu dingin, seperti:

-Refluks lambung (GERD)
-Gangguan saraf otonom
-Pasien jantung dengan vasospasme (penyempitan pembuluh darah mendadak)

Pada mereka, air es dapat memicu ketidaknyamanan, nyeri dada, atau kembung.

Air Hangat: Tradisi Timur, Manfaat Modern

Sementara air es masih diperdebatkan, air hangat justru banyak mendapat dukungan—meski bukan obat “serbaguna”.

Beberapa manfaat minum air hangat menurut studi fisiologi dan gaya hidup Asia Timur:

-Membantu melancarkan pencernaan
-Membantu hidrasi setelah tidur
-Mengurangi rasa kembung
-Memberi efek relaksasi pada otot tubuh dan tenggorokan

Bukan tanpa alasan budaya Jepang, Tiongkok, hingga India memiliki ritual minum air hangat sebagai bagian dari keseharian dan terapi tradisional.

Namun klaim bahwa air hangat dapat mengobati kanker, menyembuhkan epilepsi, atau menyapu kolesterol dalam 30 hari tidak memiliki landasan penelitian medis resmi.

Air hangat membantu fungsi tubuh, bukan menggantikan pengobatan klinis.

Kenali Gejala Serangan Jantung yang Sebenarnya

Informasi salah lainnya adalah anggapan bahwa serangan jantung selalu menimbulkan nyeri dada kiri. Faktanya, gejala bisa beragam:

✔ Rasa berat atau tertekan di dada
✔ Nyeri menjalar ke rahang, leher, atau tengkuk
✔ Sesak napas
✔ Keringat dingin
✔ Mual atau rasa seperti masuk angin berat
✔ Badan terasa letih luar biasa

Jika gejala muncul lebih dari 5 menit, segera ke IGD. Waktu penanganan menentukan keselamatan.

Kapan Sebaiknya Minum? Sebelum, Saat, atau Setelah Makan?
Jawabannya sederhana: sesuai kenyamanan tubuh.

Penelitian menunjukkan tidak ada bahaya signifikan terkait waktu minum, selama tubuh tetap terhidrasi.

Namun kebiasaan minum 1–2 gelas air hangat setelah bangun tidur bisa membantu:

-Mengaktifkan metabolisme
-Menghidrasi tubuh setelah 7–8 jam tidak minum
-Mendukung pergerakan usus

Tidak ada salahnya mencoba—itu bukan mitos, melainkan kebiasaan yang aman dan mendukung kesehatan.

Kesimpulan: Bukan Soal Dinginnya, Tapi Pola Hidupnya
Air es bukanlah “musuh jantung”.

Ia hanyalah temperatur air. Jantung lebih takut pada:

-Gaya hidup tidak aktif
-Lemak jenuh berlebih
-Kurang tidur
-Rokok
-Stres emosional
-Tidak pernah olahraga

Dan tentu: kurang minum air itu sendiri
Jadi, bila Anda ingin sehat:

🥗 Makan makanan seimbang
🚶‍♂️ Bergerak setiap hari
💧 Minum air cukup—dingin atau hangat sesuai kondisi tubuh
😴 Tidur cukup
🙂 Kelola stres

Minum air hangat boleh, bahkan baik. Tapi bukan karena air es mematikan—melainkan karena tubuh kita lebih menyukai kenyamanan dan keseimbangan.

Karena pada akhirnya, kesehatan adalah soal kebiasaan, bukan kepanikan.
Dan segelas air—dingin atau hangat—tidak akan menghancurkan jantung yang dirawat dengan baik.