Langsung ke konten
Konvergensi Majalah MATRA
  • Berita
  • Hotline Redaksi: 0816-1945-288 (whatsapps/telegram)
  • Premium Konten
  • PRNEWSWIRE
  • redaksi@matranews.id
  • Konvergensi Majalah MATRA | Trend Anda & Peristiwa
SemuaBeritaBudayaEkonomiEntertainmentFoto BeritaGaya HidupHiburan KekinianHukuminternasionalITKawula MudaKepolisianKolomKomunitasKriminalLive TV StreamingMatra DaratMatra LautMatra UdaraNusantaraOlahragaOtomotifPolitikPR NewswirePremium KontenRilisTeknologi InformasiTokohTrendviralWisata & Kuliner
Beranda Budaya Anya, Gadis Kecil Pemberani
Budaya  

Anya, Gadis Kecil Pemberani

Redaksi
Terbit: 10 Jul 2020, 05:20 WIB · Diperbarui: 10 Jul 2020, 05:43 WIB
Anya, Gadis Kecil Pemberani

MATRANEWS.id —  “Hujan semalam menyisakan rinainya di pagi yang berkabut. Rasa dingin perlahan menelusup ke setiap sendi”

Anya membuka mata, bangkit dan duduk mendekati perapian sembari membungkus tubuh kurusnya dengan selimut usang.

Di seberang perapian, nenek tergolek lemah di atas dipan tua beralas senat. Dirinya tak dapat melepaskan pandangannya pada tubuh tua itu.

Baca Juga: Circle of Life: Kehidupan Berputar antara Bahagia dan Sulit

Mata yang dulu bersinar, sekarang terpejam.

Dengkuran suara nafas yang berat terdengar seolah tubuh tua itu sedang merintih dalam tidur.

Sudah tiga hari nenek hanya bisa berbaring dan minum beberapa teguk air.

Baca Juga: Menjelajahi Realitas Wanita Malam dengan Nuansa Sosial dan Budaya

Hatinya teriris sedih, melihat tubuh nenek penuh berbagai macam dedaunan yang dipercaya sebagai obat.

Mereka tinggal di ujung sebuah kampung di pegunungan Arfak. Dengan rumah di tepi sebuah sungai kecil yang jauh dari tetangga.

Bapak dan Mama telah lama merantau, tanpa pernah pulang menjumpainya. Mereka meninggalkannya sejak lahir sampai saat ini, di mana dia berusia delapan tahun.

Baca Juga: Rumah Karya Sjuman Mempersembahkan Nada di Balik Tubuh, Babak Baru Perjalanan Artistik Kreativität Dance Indonesia

“Dorang pergi dengan kapal putih ke tanah Jawa” cerita sang nenek pada suatu waktu. Anya tak pernah bisa membayangkan wajah kedua orang tuanya, dalam diam dia begitu merindukan mereka.

Pegunungan Arfak tempat tinggalnya, merupakan sebuah kabupaten pemekaran di provinsi Papua Barat yang berjarak sekitar 5 jam dari Manokwari ibukota provinsi, ditempuh dengan kendaraan roda empat melalui jalanan yang sebagian berlumpur dan terkadang banyak tanah longsor di tepi jurang.

Tempat yang sangat indah di dataran tinggi yang dipenuhi bunga-bunga rhododendron, gladiol di padang rumput, danau kembar Anggi dan Anggi Gida pada ketinggian 2000 M dpl.

Baca Juga: Kombinasi Cancer-Taurus dalam Skala Populasi, Begini Ramalan Karakter Bangsa 10 Tahun ke Depan!

Cuaca sangat mudah berubah di sini, kabut tetiba turun disertai hujan juga angin dingin pegunungan.

Hari ini Anya bertekad akan berjalan kaki menuju puskesmas Anggi yang berjarak kira-kira satu jam perjalanan dari rumahnya menuruni bukit.

Dia akan meminta tolong suster untuk datang memeriksa neneknya. Ia menyadari sang nenek pasti akan memarahinya bila tahu dirinya melakukan perjalanan seorang diri, tetapi rasa sayang kepada pengganti orang tuanya ini mengalahkan rasa takutnya.

Baca Juga: ETIKET: Adab Berkata-kata Ada Atasan, Ada Bawahan

Setelah merebus air dan membakar betatas buat nenek, tak lupa ia memasukkan dua buah betatas bakar ke dalam kantong plastik usang untuk bekalnya di perjalanan.

Dipeluknya sang nenek, lalu berpamitan. Anya beralasan akan ke kebun untuk menggali ubi dan keladi.

Berbekal daun pisang untuk menutupi tubuh kecilnya dari gerimis, ia berlari kecil menelusuri jalan setapak.

Baca Juga: 10 Alasan Perusahaan Memecat Karyawan Gen Z

Jantungnya berdetak kencang, nafasnya terengah-engah, namun kaki kecilnya yang tanpa alas terus melangkah.

Setelah menempuh perjalanan panjang akhirnya nampak atap-atap rumah maupun perkantoran.

Anya bertanya dengan sopan pada seorang perempuan yang sedang berjalan menggendong anaknya.

Baca Juga: Bahlil dan Teddy: Dua Pria yang Sedang Trending dalam Satu Bingkai Kekuasaan

“Selamat pagi mama, bisa tolong kasih tahu kalo mau cari suster di mana kah?”.

“ Anak perempuan ko jalan lurus saja nanti dekat pohon besar di ujung jalan ini belok ke kiri, nanti ada tulisan besar-besar PUSKESMAS”, jawab sang ibu.

Ia mengucapkan terima kasih dan segera berlari menuju tempat yang dimaksud.

Baca Juga: PRAFI SP3 Manokwari: Kota Kecil yang Teduh di Tanah Papua Barat

Hatinya sangat gembira mengenali beberapa orang berbaju putih yang pernah memberikan pengobatan di balai kampungnya beberapa waktu yang lalu sedang berdiri di depan sebuah bangunan dari papan yang bercat putih.

Setelah menyampaikan tujuannya kepada petugas kesehatan, Ia pun duduk kelelahan.

Dikeluarkannya ubi bakar bekalnya, ia mengunyah dengan pelan sambil menikmati sarapan paginya yang tertunda.

Baca Juga: Hidup Ini Adalah Kesempatan

Hatinya tersenyum saat beberapa petugas menyiapkan peralatan dan obat-obatan kemudian mengajaknya ikut serta naik sepeda motor untuk kembali ke kampungnya.

Nenek, tunggu kami datang, membawa obat untuk menyembuhkanmu, ucapnya dalam hati.

Gerimis telah usai, matahari perlahan mulai meninggi, di antara nyanyian burung dan bunyi mesin motor, Anya duduk memeluk erat petugas kesehatan yang memboncengnya.

Baca Juga: Cerita Prabowo 34 Tahun Mengabdikan Diri Kembangkan Pencak Silat

Hari itu, hatinya berwarna “aku ingin sekolah biar pintar, aku ingin jadi perawat.” (Ed : DR)

**

Catatan:

Baca Juga: Parade Imlek Nusantara Meriahkan Jakarta, Warga Antusias Meski Diguyur Hujan

Betatas : ubi jalar
Mama : panggilan umum perempuan di Papua yang sudah memiliki anak
Senat : semacam alas/ tikar yang terbuat dari gelagah

Tentang penulis :
Riyanti Windesi, seorang dokter spesialis anak yang bertugas di RS Selebesolu Sorong, hobi memotret dan melakukan perjalanan ke pelosok-pelosok wilayah terpencil, membuat buku foto dan menulis cerita anak bersama anak laki-lakinya yang bekerja sebagai ilustrator.

***

sumber: diPapua

Baca Juga: Benarkah Manusia Umumnya Memiliki 3 Hingga 5 Teman Yang Sangat Dekat?
@MediaPendidikanPapua

 

459

© 2020 MATRANEWS.ID. Cantumkan tautan artikel asli saat mengutip.

Navigasi pos

Pos sebelumnya Peluncuran Buku & Peringatan 100 Tahun ITB dari Belanda
Pos selanjutnya Petuah Bangkit dari “Sunrise of Java”
Komentar
LANJUTKAN MEMBACA

Baca Juga

Circle of Life: Kehidupan Berputar antara Bahagia dan Sulit

Circle of Life: Kehidupan Berputar antara Bahagia dan Sulit

09/09/2026
Menjelajahi Realitas Wanita Malam dengan Nuansa Sosial dan Budaya

Menjelajahi Realitas Wanita Malam dengan Nuansa Sosial dan Budaya

06/09/2026
Rumah Karya Sjuman Mempersembahkan Nada di Balik Tubuh, Babak Baru Perjalanan Artistik Kreativität Dance Indonesia

Rumah Karya Sjuman Mempersembahkan Nada di Balik Tubuh, Babak Baru Perjalanan Artistik Kreativität Dance Indonesia

17/08/2026
Kombinasi Cancer-Taurus dalam Skala Populasi, Begini Ramalan Karakter Bangsa 10 Tahun ke Depan!

Kombinasi Cancer-Taurus dalam Skala Populasi, Begini Ramalan Karakter Bangsa 10 Tahun ke Depan!

04/08/2026

Tinggalkan Balasan

Anda harus masuk untuk berkomentar.

PR Newswire
Memuat berita…

Baca Berita Sekaligus Dengar Musik — Klik ini — Segitiga Putih Di Orange Bulat

MAJALAH MATRA
https://www.youtube.com/watch?v=hoYDoePYp5Q
https://matranews.id/wp-content/uploads/2020/06/jojo.mp4
https://matranews.id/wp-content/uploads/2021/05/videoplayback-1.mp4
MATRA
Konvergensi Majalah MATRA
  • Redaksi
  • Konvergensi Majalah MATRA | Trend Anda & Peristiwa
  • Pedoman Media Siber
  • MATRA Harga Iklan 2026, Media Order
JOJO MEDIA Coach | 0816-1945-288 |
  • Berita
  • Hotline Redaksi: 0816-1945-288 (whatsapps/telegram)
  • Premium Konten
  • PRNEWSWIRE
⌂Beranda▦Kategori